[HONG KONG] Berbagai upaya yang dilakukan tenaga medis dan para peneliti di dunia sampai saat ini untuk mengendalikan penyakit tuberkulosis (TB) masih belum berhasil. Terbukti dari TB masih menjadi masalah dunia, tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju.
Di negara maju TB menjadi masalah, karena infeksi human immunodefiency virus (HIV) yang menimbulkan sindrom penurunan kekebalan tubuh atau AIDS.
Dokter spesialis penyakit saluran pernapasan dari Pusat Perlindungan Kesehatan Departemen Kesehatan Hong Kong Dr Leung Chi-Chiu menyampaikan hal itu saat berdiskusi masalah TB di Hong Kong dengan para wartawan yang menjadi peserta Health Journalism Fellowship di Kowloon Hong Kong, Senin (27/8). Menurut dia, bukan hanya AIDS yang membuat TB masih masalah dunia.
Wartawan SP, Nancy Nainggolan yang mengikuti program tersebut dari Hong Kong Senin malam melaporkan, masih ada masalah lain, yaitu masalah sosial karena TB berhubungan erat dengan kemiskinan, dana penanggulangan TB tidak sebesar dana yang dialokasikan untuk penyakit lain seperti flu burung (avian influenza) atau sindrom pernapasan akut parah (SARS), tidak ada insentif finansial bagi peneliti sehingga riset dan pengembangan obat baru TB terhenti.
Hal ini masih ditambah dengan multiresistensi obat TB yang terjadi di berbagai negara. Menurut Leung, untuk meningkatkan anggaran pengendalian TB perlu kemauan politik dari pemerintah di berbagai negara. Di Hong Kong, misalnya, saat ini derajat infeksi Mycobacterium tuberculosis 85,4 per 100.000 penduduk dengan tingkat penemuan kasus 70 persen dan tingkat kesembuhan 85 persen. Sedangkan, persentase resistensi obat antituberkulosis berkisar 1 persen.
"TB merupakan penyakit tua, sudah ada sejak zaman dulu, namun masih menjadi masalah karena upaya pengendalian masih gagal," ujar Leung.
Resistensi obat dan AIDS semakin menambah kompleks permasalahan TB di dunia. Khusus untuk ko-infeksi TB dan HV, menurut Leung upaya pengendalian epidemi AIDS sekaligus berdampak pada pengendalian TB. Sementara resistensi obat membuat biaya kesehatan semakin tingggi, karena biaya obat lini kedua lebih tinggi dibanding obat lini pertama. Obat lini pertama dipergunakan penderita TB yang belum mengalami resistensi.
Obat Baru
Lebih jauh Leung menjelaskan untuk mengatasi masalah resistensi ganda obat antituberkulosis diperlukan penelitian, baik terhadap kuman dan obat saat ini. Setelah tahun 1970, riset di bidang obat TB hanya sedikit mengalami sedikit kemajuan. Khusus untuk obat, ujarnya, dalam mengatasi resistensi ganda diperlukan obat baru.
Multi resistensi obat terjadi bila sedikitnya terjadi resistensi terhadap dua jenis obat yang dipergunakan, yaitu isoniazid dan rifampisin. Resistensi ganda ini terjadi di sejumlah negara, khususnya di negara-negara yang investasi untuk pengendalian TB rendah, manajemen obat antituberkulosis lemah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun ada sebanyak 424.000 kasus baru TB di dunia, dengan biaya pengobatan 200 kali lebih mahal karena resistensi ganda obat tersebut. *