[JAKARTA] Harga kebutuhan pokok masyarakat di sejumlah pasar tradisional di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat, dua pekan menjelang puasa, terus merambat naik. Sejumlah kebutuhan yang mengalami kenaikan itu di antarannya telur ayam dari harga Rp 8.000 menjadi Rp 11.000/kg, terigu dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.000/kg, dan minyak goreng dari Rp 9.000 menjadi Rp 10.000/kg.
Pedagang di Pasar Kramat Jati, Kardiman mengatakan, harga beberapa komoditas bahan pokok sudah naik sejak pekan lalu. Naiknya harga tersebut, menurut Kardiman, karena meningkatnya permintaan pasar sepekan terakhir, sementara stoknya tetap.
Ia menduga, kondisi itu akan tetap bertahan hingga awal minggu pertama bulan puasa. "Permintaan kebutuhan pokok terus meningkat dua pekan menjelang puasa. Diperkirakan situasi ini akan terus berlangsung sampai bulan puasa," katanya.
Kardiman mencontohkan, harga telur yang pada pekan lalu hanya Rp 8.000/kg saat ini sudah tembus sampai angka Rp 11.000. "Bisa saja menjelang puasa nanti harganya mencapai Rp 12.000/kg," katanya.
Kondisi serupa terjadi pula pada sayur-sayuran, seperti harga cabe merah besar naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000/kg, cabe merah keriting dari Rp 11.000 menjadi Rp 13.000/kg, dan bawang merah dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500/kg.
Menurut seorang pedagang sayuran di Pasar Senen, Cepi, meningkatnya harga sayuran tersebut akibat permintaan yang meningkat, namun tidak diimbangi dengan stok yang memadai. Menurut Cepi, kondisi demikian sudah menjadi hal yang rutin setiap tahunnya menjelang puasa, demikian pula halnya menjelang Lebaran. "Setiap tahun menjelang puasa karena permintaan naik, harga cenderung naik. Ini mungkin terjadi hingga bulan puasa pada pertengahan September 2007 mendatang," katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Menurut para pedagang, kenaikan harga selain disebabkan musim kemarau di beberapa daerah penghasil, juga sebagai persiapan menghadapi bulan puasa pada September mendatang.
Wahyu, salah seorang pedagang mengatakan, cabai merahnya dijual seharga Rp 15.000/kg. Ia membeli cabai tersebut di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur seharga Rp 11.000. Kenaikkan harga menurutnya, terjadi dua sampai tiga hari yang lalu, karena di Jawa yang merupakan penghasil cabai merah, sedang mengalami musim kemarau. Dampak kenaikan tersebut, menyebabkan pembeli berkurang, dari yang biasa terjual 60 kg sehari, menjadi 50 kg sehari.
Sementara itu, menurut pedagang yang lain, Tari, penyebab utama kenaikan harga sembako yaitu karena harga minyak yang terus melambung. "Akibatnya, harga-harga kebutuhan rumah tangga lainnya juga ikut naik," katanya. Di tokonya, cabai merah dijual Rp 15.000/kg, sementara ia membelinya Rp 12.000/kg. Selain cabai, harga kentang, telur, minyak goreng, dan tepung terigu juga mengalami kenaikan.
Telur, yang pada minggu lalu dijual dengan harga Rp 7.000-8.000/kg, kini harus dijual seharga Rp 11.000. "Semua barang naik, mungkin karena mau puasa jadi harga-harga juga pada naik," ujar Tari sambil melayani pembeli. Demikian juga dengan harga minyak goreng curah. Sebelumnya, ia menjual dengan harga Rp 6.500-7.000/kg, sekarang dijual Rp 10.000/kg. "Walaupun naik, syukurlah toko tidak pernah sepi pembeli, rezeki memang tidak ke mana-mana ya," lanjutnya sambil tersenyum.
Berbeda dengan pasar tradisional, harga sembako di pasar swalayan Carrefour, Mall Ambassador, Jakarta Selatan, tidak banyak mengalami kenaikan. Untuk produk lokal, cabai merah keriting dijual dengan harga Rp 2.169 per 100 gram, sementara cabai rawit dijual seharga Rp 2.329 per 100 gram.
Menurut salah satu pelayan toko, kenaikan yang telah terjadi sejak seminggu lalu, tidak mengurangi secara signifikan jumlah pembeli. "Masih tetap ramai kok," ujarnya. Selain cabai, telur ayam kampung juga naik.
Minyak Tanah
Sementara itu, dua pekan menjelang masuknya bulan puasa, kelangkaan minyak tanah di Jakarta belum juga berakhir. Di Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (27/8) sekitar 200 warga harus mengantre minyak tanah di sebuah pangkalan minyak tanah, sejak pukul 07.00 WIB pagi.
Menurut Mamat (40), kelangkaan minyak tanah di wilayahnya sudah terjadi selama sebulan terakhir. "Kalaupun ada di warung, harganya sudah mencapai Rp 4.000 hingga Rp 4.500 per liter," ujarnya.
Menurut Mamat, warga sebenarnya lebih mengeluhkan langkanya minyak tanah dibandingkan kenaikan harganya, selama masih wajar. Mamat mengaku heran, daerah tempat tinggalnya belum tersentuh kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Namun anehnya, minyak tanah ikut-ikutan langka seperti di daerah lain di Jakarta.
Ia berharap, pemerintah menjamin pasokan minyak tanah ataupun gas. "Saya tidak keberatan program konversi itu, tapi harus ada jaminan pasokannya stabil, tidak susah mencarinya," ujar Mamat.
Keluhan yang sama disampaikan Yanti (37), warga lainnya. Ia mengaku antre minyak tanah sejak pagi dan terpaksa membeli minyak tanah dengan harga di atas harga normal. "Abis minyak tanah masih susah, terpaksa saya beli walaupun harganya mahal. Biasanya minyak tanah dijual Rp 2.300 sekarang dijual Rp 2.800," ujarnya.
Yanti sedikit ragu menggunakan gas, mengingat Ia tinggal di permukiman padat. Menurutnya, minyak tanah saja dianggap berbahaya, apalagi gas, kebakaran akan dengan mudah merambat di kawasan tempat tinggalnya. Menurutnya, tidak semua warga punya sikap waspada dan hati-hati dalam menggunakan kompor. "Kasus kebakaran di Cawang akibat meledaknya tabung membuat saya kahwatir," tuturnya. [MDM/L-11]