[YANGON] Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Senin (27/8), memperingatkan Myanmar bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat memperburuk situasi ekonomi dan semakin menyusahkan rakyat.
Bagi sebagian besar rakyat, situasi ekonomi saat ini sudah begitu sulit apalagi bila ditambah dengan kenaikan harga BBM. Tidak heran kalau rakyat dengan berani menggelar protes berlanjut selama dua pekan ini.
Protes-protes jalanan menentang kebijakan pemerintah adalah pemandangan yang sangat langka di Myanmar pada sembilan tahun terakhir. Keberanian rakyat melancarkan demonstrasi terus-menerus mencerminkan kemarahan yang mendalam dan kesulitan ekonomi yang semakin menjerat rakyat kecil.
Pada awalnya demonstrasi diikuti oleh ratusan orang tetapi ancaman dan penangkapan oleh penguasa militer membuat mereka ketakutan. Kendati jumlah orang yang ikut demonstrasi makin berkurang, protes masih berlangsung hingga kemarin. Saksi mata menyebutkan 50 orang mengenakan baju putih berunjuk rasa di Kota Bago, sekitar 80 kilometer dari Yangon.
Pada awal Agustus, Pemerintah Myanmar menaikkan harga BBM hingga 500 persen dengan memotong subsidi yang selama ini menekan harga agar tetap rendah. Kenaikan harga itu mendorong melonjaknya ongkos kendaraan umum yang kemudian mempengaruhi kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok lain.
Ketua Misi Kemanusiaan PBB di Myanmar, Charles Petrie menyatakan kenaikan harga akan semakin memurukkan kehidupan rakyat. Saat ini saja ada 90 persen rakyat yang hidup pada atau di bawah garis kemiskinan, yakni kurang dari satu dolar AS per hari atau tidak sampai Rp 9.000 per hari. [AP/Y-2]