
sp/eko budi harsono
Sejumlah murid (alm) Anak Agung Gde Mandera atau Gung Kak, dengan penuh penghayatan menari tari Legong dalam pentas Mengenang Sang Guru di Balerung, Ubud, Bali, Senin (27/8).
uruh Soekarno Putra tidak bisa melupakan pesan gurunya. Putra Proklamator itu dalam berbagai kesempatan sering mengulang lagi kalimat-kalimat gurunya, Anak Agung Gde Mandera. "Anak Agung Gde Mandera mengajarkan satu hal yang menjadi paradigma penting dalam berkesenian. Gunakan sebelah tangan untuk menjaga akar budaya asli agar tak tergerus zaman. Dan gunakan sebalah tangan lain untuk mengembangkannya," ujar Guruh kepada SP di sela-sela acara Mengenang Sang Guru di Ubud, Bali, Minggu (26/8).
Guna memberikan penghargaan para guru kesenian yang juga "bapak" tabuh dan "ibu" penari legong, para murid almarhum Gusti Made Sengok (Niang Sengog) sang maestro tari legok dan almarhum Anak Agung Gde Mandera (Gungkak Mandera) sebagai legenda gamelan dan tabuh Bali, menggelar serangkaian acara yang ditujukan sebagai ungkapan rasa penghormatan, rasa kasih sayang, dan rasa terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman yang telah mereka dapatkan dari kedua tokoh ini melalui proses pembelajaran dan pertunjukan pada masa lalu.
Menurut Guruh, mengenang sosok Anak Agung Gde Mandera atau yang biasa disebut dengan panggilan Gung Kak membuatnya seperti berpetualang dan akhirnya berlabuh pada pemahaman akar budaya Bali. "Ia bukan semata tokoh terkenal yang muncul dari pelataran seni Bali, khususnya tokoh tabuh dan tari di sebuah desa benama Peliatan. Berkat usahanya kesenian Bali sejak tahun 50-an merambah dunia internasional. Tahun 1952 dia sudah bekeliling Amerika dan Eropa memperkenalkan kesenian Bali," katanya.
Buat Guruh, sang guru adalah raga yang mengusung taksu atau roh luar biasa dalam meniupkan spirit agung seni ke dalam jiwa orang- orang yang mengenal dirinya.
Gung Kak adalah pribadi bercahaya yang mengetahui dengan pasti, untuk apa sesungguhnya kesenian itu ada.
Lebih membanggakan lagi dia dapat meyakinkan masyarakat bahwa dengan kesenian mereka juga dapar hidup lebih baik dan sejahtera selain bertani atau bercocok tanam. "Anda bisa lihat sekarang bagaimana kesenian Bali baik tari, pahat, patung, lukis dan hasil kesenian lainnya telah dikenal luas di mancanegara," ujarnya.
Legong Keraton
Almarhum Gusti Made Sengog, yang kemudian lebih dikenal sebagai Niang Sengog, adalah seorang wanita penguruk atau guru Legong yang berasal dari Peliatan. Dalam buku Dancing Out of Bali karangan John Coast namanya tercantum sebagai pengajar tiga penari cilik di Peliatan yang kemudian mementaskan Legong Keraton di Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam sejarah dan meraih sukses pada 1952.
Niang Sengog telah mengajarkan secara langsung lima generasi Legong Keraton untuk Sekeha Gong Gunung Sari dalam kurun waktu tahun 50-an sampai awal 70-an. Niang Sengog dikenal sebagai wanita tua sederhana, pendiam dan cenderung, galak. Ia selalu datang dengan sok atau keranjang berisikan keperluannya dan alat untuk mengunyah sirih. Saat mengajar, Niang Sengog tak segan memeluk, memegang dan membentuk penari dengan kedua lengan dan seluruh tubuhnya sendiri, sampai ia merasakan penari telah melakukan gerakan yang sempurna.
Beliau selalu didampingi Anak Agung Gde Mandera yang mengiringi dengan memukul kendang sambil bergumam.
Tanpa banyak bicara, Niang Sengog telah berjasa memperkaya khasanah pelegongan di Bali. Ia telah ikut memberi andil menyukseskan kebudayaan dan pariwisata di Bali dan Indonesia. Beliau telah pergi mendahului kita pada tahun 1972. Walaupun pada akhir hayatnya masih sempat diminta mengajar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), nama beliau tidak diabadikan dalam berbagai terbitan mengenai Legong, sebagai salah seorang empu tari yang sangat menonjol diantara sederetan guru Legong lainnya.
Namun, bagi para muridnya, beliau Sang Guru yang abadi dengan ajaran-ajarannya. Setelah ia tiada, Gungkak Mandera-lah yang me- ngajarkan beberapa generasi Le-gong gaya Peliatan sampai diakhir hayatnya.
Gaya tarian yang diajarkan Niang Sengog dan Gungkak Mandera ini agak berbeda dengan guru yang lainnya. Cenderung sangat dinamis penuh getaran dengan lengkungan badan condong kedepan serta dagu diangkat. Gaya ini kemudian menjadi kekhasan sekeha gong Gunung Sari di Peliatan dan dikenal dengan sebutan Gaya Peliatan. [E-5]