SUARA PEMBARUAN DAILY

SP/SotyatiJanet Steele

Pergulatan Janet

Pemberedelan Tempo, bersama Detik, Editor pada 1994 rupanya mengusik ketertarikan Janet Steele untuk menggali lebih dalam pengetahuan tentang keberadaan majalah berita itu. Ketertarikan Associate Professor pada The School of Media and Public Affair di Universitas George Washington, AS itu, menjadi-jadi ketika ia semakin banyak bertemu dengan banyak alumninya, terutama dengan Goenawan Mohamad.

Bagi Janet, yang meraih gelar PhD untuk sejarah kebudayaan Amerika dari Universitas Johns Hopkins pada 1985 itu, pers bukan dunia yang asing. Saudara laki-lakinya, pernah bekerja sebagai reporter di Tampa Times, koran yang mati pada 1982 akibat korban kekuatan pasar dan ekspansi sebuah televisi berita lokal. Ia bisa merasakan kepedihan dan kesedihan yang sama.

Ketertarikan Janet yang dua kali memperoleh Fullbright Professor dalam program American Studies di Universitas Indonesia itu, lebih tertuju pada perjuangan tak berkeputusan dari sebuah institusi untuk tetap menyuarakan kebenaran. Bagaimana mungkin tokoh-tokoh pergerakan Orde Baru itu kemudian "Dimatikan" oleh rezim Orde Baru karena memperjuangkan kebenaran? Kehadiran fisik majalah boleh saja dimatikan, tetapi tidak dengan ide.

Pergumulan batin Janet itu dituangkannya dalam buku Wars Within, yang edisi bahasa Indonesianya diluncurkan Kamis (23/8) lalu di Jakarta. Buku yang ditulis dengan gaya naratif itu mengungkap pergulatan majalah berita Tempo sejak zaman Orde Baru hingga upayanya untuk terbit kembali setelah diberedel.

Tak mengherankan acara peluncuran buku yang diterbitkan oleh Dian Rakyat itu bukan hanya banyak dihadiri warga Tempo, namun juga alumninya yang sudah tersebar di media lain. Tokoh pers Aristides Katoppo dan pengacara Hinca Panjaitan tampil sebagai pembicara dalam acara itu.

"Ini sumbangan terhadap sejarah Tempo, karena memang latar belakang saya spesialis sejarah. Tentu ini bukan final work, karena akan lebih banyak orang yang bisa menulis lebih baik tentang sejarah Tempo," kata Janet, merendah. Tokoh pers Atmakusumah Astraatmadja yang juga hadir dalam acara itu "mengoreksi" pendapat Janet. Bagi Atmakusumah, buku itu sumbangan dari sejarah pers Indonesia. [A-18]

sp/alex subanTompi

Jadi Produser

Bagi Tompi, dunia musik adalah dunia yang membuatnya haus terus berkembang. Sukses berkolaborasi dengan musisi asing dalam Bali Lounge, meluncurkan album yang laris manis, kini pria asal Aceh itu melirik bidang lain. Tak jauh-jauh memang. Tompi mulai melangkah ke dunia produksi dengan menjadi produser.

Artis perdana yang diproduserinya adalah RM Aryo Bagaskoro, alias Bibus. Sosok Bibus bukanlah sosok yang asing di dunia musik. Selama ini, ia adalah orang di balik kesuksesan Tompi dalam bermusik.

"Ibaratnya, Bibus adalah setengah bagian diri saya di dunia musik. Ia adalah orang di belakang layar dalam segala performa musik saya," tutur Tompi dalam peluncuran album Bibus, Love Love Love, di Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (27/8).

Titel Tompi dalam album tersebut adalah Executive Producer. Ia menggarap album Bibus secara serius. Bahkan, seluruh lagu yang ada diciptakannya bersama dengan sang penyanyi.

"Ini merupakan pilot proyek kami berdua. Kami tengah membuat label rekaman baru, B & T yang merupakan akronim nama kami. Rencananya, kami akan mencari talenta-talenta baru lewat perusahaan ini," lanjutnya.

Untuk Bibus maupun artis-artis lain yang akan diproduserinya kelak, Tompi berupaya menyuguhkan jenis musik yang tidak mengikuti mainstream yang ada. Bibus sendiri mengambil genre musik pop dengan sentuhan jazz, tidak jauh berbeda dengan yang ditekuni Tompi saat ini.

Ada alasan khusus di balik itu semua. Selain karena minat, bagi Tompi, pemilihan pop jazz adalah karena ia ingin memberi alternatif bagi dunia musik Indonesia. Menurutnya, secara kuantitas, musik Indonesia memang berkembang cepat. Namun dari sisi kualitas, yang hadir justru sebaliknya.

"Jika ada satu band ngetop, perusahaan rekaman lain akan berupaya membuat band serupa untuk menandinginya. Radja namanya naik, semua ikut bermusik ala Radja. Begitu pula kala Nidji naik daun. Bahkan, banyak juga artis sinetron yang memaksakan diri ikut terjun ke dunia tarik suara. Bagi saya tidak masalah, asalkan diseriusi dengan mengambil les vokal dulu misalnya, jadi hasilnya tidak asal-asalan," kritik dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Dari kacamata Tompi, beberapa perusahaan rekaman besar sudah kadung antipati terhadap segala sesuatu yang baru dan idealis. Mereka membuat dunia musik Indonesia terperangkap pada jenis musik yang itu-itu saja. Sehingga, materi yang dihasilkan pun adalah lagu-lagu, yang meminjam istilah Tompi, cemen.

"Karena itu, saya tak pernah sekalipun menawarkan materi album Bibus kepada major label. Lebih baik kami memproduksinya sendiri," katanya.

Setelah Bibus, Tompi mengagendakan Nania, mantan finalis Indonesia Idol pertama, sebagai artis yang diproduserinya. Saat ini, album Nania baru 20 persen selesai diproduksi. [D-10]


Last modified: 28/8/07