ada batas-batas tertentu kenakalan remaja adalah hal lumrah yang harus disikapi orangtua dengan bijaksana. Dalam kasus-kasus tertentu kenakalan remaja dalam sebuah proses yang berorientasi mencari jati diri tidak boleh terlalu dikekang. Tetapi, setiap anggota masyarakat, khususnya orang- tua, perlu selalu meningkatkan kewaspadaan atas perkembangan anak-anaknya. Contohnya dalam kasus-kasus di dunia maya yang dikenal dengan hacker. Perilaku "unik" dari para hacker yang banyak melibatkan remaja tidak boleh selalu dipandang sebagai kejahatan. Justru sebaliknya harus mendapat pembinaan yang tepat agar pengetahuan di bidang komputer dan internet itu berguna bagi banyak orang.
Banyak teori yang telah dikemukakan berkaitan dengan kenakalan remaja (juvenile delinquency). Salah satunya adalah teori Differential Association yang dikembangkan oleh E Sutherland. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Kenakalan remaja bukan diturunkan secara genetik, melainkan proses belajar yang sangat dipengaruhi oleh faktor keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja umumnya merupakan hasil dari proses interaksi dengan orang lain. Dan proses mempelajari perilaku biasanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab.
Remaja dalam pencarian status, senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak dimasa-masa proses pencairan jati diri inilah, biasanya remaja mencari dan membentuk kelompoknya sendiri. Dengan kelompoknya, remaja bisa berkomunikasi dengan intens karena ada kesamaan persepsi atas sesuatu hal. Menjadi masalah, dan ini harus menjadi perhatian semua pihak termasuk orang tua, jika ternyata kelompok yang terbentuk itu didominasi oleh orang-orang yang sarat dengan perilaku menyimpang (deviasi), baik secara psikologis, biologis dan sosial. Ini artinya, lingkungan sosial bisa berkontribusi negatif maupun positif bagi perkembangan remaja. Sebagai manusia, kelompok remaja dengan berbagai kelabilannya memang sangat rentan dengan hal-hal yang negatif dari lingkungannya, baik itu keluarga, sekolah dan lingkungan sosial lainnya. Bisa jadi, seorang anak bila di rumah menjadi "anak mami", tetapi perilakunya itu bisa berubah 180 derajat ketika dia berada di luar rumah.
Begitu halnya dengan kasus penculikan Raisah Ali yang berusia 5 tahun yang melibatkan remaja, Edo, siswa SMA di Jakarta. Sang Ibu Suzi Zahret menjadi kaget bercampur sedih dengan keterlibatan Edo yang dinilainya sangat baik bila di rumah. Ada apa sesungguhnya? Yang pasti terlepas dari itu semua, penting untuk kita, masyarakat, orang tua dan pendidik memahami dunia remaja. Mereka membutuhkan waktu dan kesediaan kita, masyarakat, orang tua untuk berempati dengan harapan dan dunia remaja. Tanpa adanya pemahaman yang mendalam terhadap kehidupan remaja, niscaya yang kita lakukan hanyalah aksi-aksi untuk menghakimi atau sekadar menyalahkan mereka sebagai anak nakal yang tak patuh pada nasehat orang tua dan melanggar norma masyarakat.
Remaja memang banyak masalah, dan masa-masa remaja adalah masa pembelajaran yang sangat kritis. Itu sebabnya, kita harus mengerti dunia dan harapan anak-anak kita. Dan perlu pula kita pikirkan dan pecahkan bersama. Kita, pemerintah dan orang tua harus lebih banyak membangun sarana bagi para remaja, agar mereka bisa mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya secara positif demi masa depan bangsa dan negara.