[GRESIK] Petani padi di tiga kecamatan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, resah karena Waduk Bunder yang digunakan untuk mengairi sawah mulai menyusut. Mereka khawatir, jika sampai akhir September tanaman padinya kekurangan air, akan rusak dan tidak bisa dipanen.
"Kami mengharapkan pada awal Oktober bisa panen normal. Hasilnya bisa digunakan untuk keperluan Lebaran. Jika padi rusak, kami tidak bisa menikmati Lebaran dengan sempurna," kata Munasir, petani asal Desa Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Gresik, Minggu, (26/8).
Tiga kecamatan di Gresik yang mengalami krisis air meliputi, Kebomas, Cerme dan Duduk Sampean. Cadangan Waduk Bunder biasanya pada musim kemarau mampu mengairi sawah seluas 757 hektare (ha). Akibat kemarau panjang ini, cadangan dalam waduk itu tidak mampu mengairi sawah seluas 757 ha.
Munasir menanam padi di lahan sawah seluas 2 ha. Padi telah menguning dan siap panen pada awal Oktober. Karena sifat padi memerlukan air dalam jumlah yang cukup, maka dikhawatirkan dalam kondisi seperti ini, tidak bisa memanen tanamannya.
"Kami mencoba mencari pinjaman untuk membeli air dalam tangki. Harga satu tangki air Rp 120.000. Jika tidak digerojok air dikhawatirkan padi mati, padahal sudah siap panen," katanya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Gresik, Tugas Husni Syarwanto mengatakan, di Gresik memiliki 99 waduk, tetapi waduk- waduk tersebut sebagian besar mengering.
Mengatasi
Akibatnya, warga dan peta- ni mengalami kekurangan air. Guna mengatasi krisis air pihaknya memberi pasokan air secara cuma-cuma ke lokasi yang me- ngalami krisis air.
Selain itu, dari 210 kebutuhan sumur pompa dalam untuk mengairi lahan persawahan tadah hujan di Kabupaten Ngawi, baru dapat dibangun sebanyak 17 buah saja di tiga desa yang tersebar di tiga kecamatan antara lain di Desa Sembung (Kecamatan Kedung Sarju), Desa Banjar Sari (Kecamatan Mangunharjo), dan De- sa Nginden (Kecamatan Kwa-dungan).
Kepala Bidang Pembangunan dan Pemeliharaan, Dinas Pengairan Kabupaten Ngawi, Setiyono mengatakan, setiap satu sumur pompa dalam mampu mengairi sawah seluas 3 ha.
Lambannya pembangunan sumur pompa dalam ini karena terbatasnya anggaran yang disediakan selama dua tahun anggaran terakhir. Anggaran yang dialo- kasikan pada 2007 ini hanya Rp 10 juta saja.
Setiyono mengatakan, kebutuhan sekitar 210 sumur pompa dalam itu untuk mengairi lahan pertanian yang sangat kritis.
Kebanyakan sawah yang kekeringan adalah sawah yang tergantung pada curah air hujan (tadah hujan). Selain itu kondisi air tanahnya dangkal, sehingga hanya bisa diambil dengan sumur pompa dalam.
Padahal sawah tadah hujan yang ada di Kabupaten Ngawi ini cukup luas sekitar 44.360 ha, yang setiap tahun mengalami kekurangan air sebanyak 36 juta kubik. Sehingga untuk pengairannya, sangat tergantung adanya sumur pompa dalam. [ES/080]