[JAKARTA] Hari ulang tahun penyair Wiji Thukul diperingati dengan peluncuran buku "Kebenaran Akan Terus Hidup" yang berisi kumpulan tulisan dari berbagai kalangan mengenai diri, gagasan dan kehidupan Wiji Thukul, di Taman Ismail Marzuki, Minggu (26/8).
Wiji Thukul yang berulang tahun pada 26 Agustus adalah seniman-aktivis yang sangat dikenal dengan sepenggal larik puisinya yang begitu populer di kalangan gerakan prodemokrasi "Hanya ada satu kata: LAWAN!" Aktivitas seni perlawanannya membuat Wiji Thukul selalu menjadi incaran penguasa. Pada tahun 1998, ia hilang dan belum kembali hingga saat ini.
Peringatan ulang tahun Wiji Thukul diisi antara lain oleh sambutan oleh Ibu Shinta Nuriyah, pemutaran video dokumentasi Wiji Thukul, pembacaan puisi, kenangan atas Thukul di mata kawan-kawannya, musikalisasi puisi dan pemotongan tumpeng oleh istri dan anak-anak Wiji Thukul, Pon, Wani dan Fajar.
Peluncuran buku untuk memperingati ulang tahun Wiji Thukul ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian acara "Peringatan Hari Penghilangan Paksa Internasional: Mengenang Korban Melawan Lupa" yang diadakan atas kerja sama berbagai lembaga dan kelompok, di antaranya Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), mulai Minggu (26/8) hingga Jumat (31/8). Setiap hari dalam sepekan ini diadakan berbagai acara, termasuk pertunjukan 10 film mengenai kasus orang hilang dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) baik di Indonesia maupun di manca negara.
Salah satu mata acara adalah "Tribute to Victims" yang merupakan kegiatan seni budaya dan dipersembahkan bagi korban penghilangan paksa dan korban pelanggaran hak asasi (HAM) yang hingga saat ini kasusnya belum selesai. Acara yang digelar pada Senin sore ini akan menampilkan pementasan teater dan musik.
Pada Rabu (29/8), diadakan pertunjukan film dokumenter mengenai Munir yang disutradarai oleh Steve Pilar Setiabudi. Hari Kamis (30/8), diadakan peluncuran buku "Nunca Mas" yang berisi pengalaman Argentina ketika mengalami kekerasan militer sehingga banyak warganya yang hilang tak berbekas.
Selama sepekan juga diadakan pameran benda-benda yang akrab dengan para korban penghilangan paksa dan pelanggaran HAM. [Y-2]