SUARA PEMBARUAN DAILY

Pamerkan Kekayaan, Tak Pahami Indonesia

SP/Edi HardumMely G Tan

** missed drop char **Satu keluarga menyelenggarakan pesta di Surabaya, baru-baru ini. Keluarga ini menyewa tiga hotel sekaligus. Maklum, untuk menerima dan menjamu tamu yang datang dari ber- bagai tempat, termasuk dari luar negeri," tutur sosiolog senior Mely G Tan.

Dia menceritakan peristiwa lainnya. "Baru-baru ini sepasang pengantin mendatangi tempat acara pernikahan dengan memakai kereta kuda. Ini luar biasa. Memang dia seorang puteri raja dan sedang berada di keraton?" ucap Mely disambut tawa sebagian hadirin.

Dua kisah itu disampaikan Mely dalam seminar bertema "Menghadapi Globalisasi, Organisasi Tionghoa Indonesia Mau Kemana?", Sabtu (25/8), di Jakarta.

Forum yang dihadiri sekitar 300 orang itu diselenggarakan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta bekerjasama dengan Harian Umum Suara Pembaruan, International Daily News, National News dan Megaglodok Kemayoran.

Selain Mely, tampil pula sebagai pembicara Komite Menentang Rasialisme di Indonesia Siauw Tiong Djin, ekonom Christianto Wibisono, Sekjen Perhimpunan INTI Bud S Tanuwibowo; anggota Komisi Hukum Nasional Frans Hendra Winarta, Ketua Umum Pergerakan Indonesia Faisal Basri, dan komisioner Komnas HAM Stanley Yosep Adi Prasetyo. Tampil sebagai pembicara kunci mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Dua keluarga yang menggelar pesta pernikahan tersebut, menurut Mely, jelas-jelas memamerkan kekayaan, tidak memahami Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya miskin, sekaligus tidak mau membagikan kekayaannya ke masyarakat miskin. "Saya tidak hadir di ke dua pesta itu karena saya tidak suka seperti itu, dan saya bukan masuk ke dalam golongan itu," kata perempuan tua itu dengan suara lantang.

Dia mengingatkan, kerusuhan yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir, termasuk 1998, lebih disebabkan karena kesenjangan ekonomi yang sangat lebar. Mely mencontohkan, dalam kerusuhan di Solo pada 1998, massa bukan hanya membakar rumah milik orang-orang beretnis Tionghoa, tetapi juga rumah orang- orang kaya yang bukan Tionghoa.

"Di Indonesia ini ada yang kaya sekali, seperti menyelenggarakan pesta pernikahan sampai sewa tiga hotel sekaligus, dan ada yang miskin sekali, sampai tidak dapat makan. Nah, inilah harus dipikirkan etnis Tionghoa, atau orang kaya umumnya," tukasnya.

Berdasarkan itu, dia mengemukakan, masalah yang terjadi di Indonesia sekarang ini dan mungkin ke depan, bukan antietnis, tetapi antiklas.

Kasus lumpur lapindo yang terjadi di Porong, Sidoardjo, Jawa Timur, papar Mely, juga akibat tindakan orang kaya. "Itu terjadi karena perusahaan-perusahaan orang kaya itu. Yang rugi sekarang adalah orang-orang miskin, kecil," kata alumnus University California, Berkeley, AS itu.

Cari Muka

Dia mengkritik pula sebagian etnis Tionghoa yang suka cari muka dengan pejabat negara supaya memperoleh kemudahan dalam berbisnis. "Ketika ada acara penting, sukanya duduk di samping si pejabat supaya mendapat kemudahan," tuturnya.

Akibatnya, sambungnya, ketika si pejabat tidak berkuasa maka bisnis sang pengusaha tidak berjalan atau ikut jatuh juga. "Sikap seperti inilah yang namanya tidak mandiri. Lihatlah, Lim Sie Liong yang begitu dekatnya dengan Soeharto ketika Soeharto berkuasa. Nah, ketika Soeharto jatuh, dia juga ikut perpuruk, dan tidak ada yang menolong. Jadi, saya minta, mandirilah dalam berusaha," beber Mely.

Selain itu, dia mengecam sebagian etnis Tionghoa yang selalu eksklusif. Dia merujuk anak-anak etnis Tionghoa yang belajar di sekolah khusus etnis Tionghoa. "Sejak play group, SD, SMP dan SMA selalu bersama etnis yang sama. Akibatnya, tidak mengenal etnis dan budaya lain," tuturnya.

Sementara itu Gus Dur dalam sambutannya mengatakan, sampai sekarang orientasi pembangunan ekonomi Indonesia masih mengarah kepada pertumbuhan. Akibatnya, kesenjangan ekonomi masih terus terjadi. "Yang miskin , tetap miskin. Yang kaya, malah bertambah kaya," ucapnya.

Menurut dia, ke depan masih akan terjadi pertarungan yang hebat antarpelaku ekonomi atas (orang kaya). Untuk itu, Gus Dur meminta etnis Tionghoa agar jangan hanya bertarung sesama kaya tetapi perhatikan masyarakat yang kurang mampu. "Saya minta, saudara-saudara etnis Tionghoa agar berbagilah. Kalau sebagian bertarung di atas, sebagian lagi memperhatikan masyarakat kecil," ujarnya. [SP/Siprianus Edi Hardum]


Last modified: 27/8/07