SUARA PEMBARUAN DAILY

Balas Budi Politik, Ujian Pertama Fauzi Bowo

islamlib.comYudi Latif

Sudah diketahui umum, kemenangan pasangan Fauzi Bowo-Prijanto pada Pilkada DKI Jakarta tak lepas dari dukungan banyak pihak. Bagaimana mereka menjawab tuntutan berbagai pihak yang merasa paling berjasa dalam memenangkan keduanya? Berikut wawancara Masykurudin Hafid dan Khayun A Nur dari JPPR dengan Dr Yudi Latif, Direktur Reform Institute tentang persoalan tersebut.

Kemenangan pasangan Fauzi Bowo pada Pilkada Jakarta kemarin tak lepas dari dukungan koalisi partai. Faktor apa saja yang membuat Fauzi Bowo mendapat dukungan ini?

Pertama, kemampuan Fauzi Bowo beserta tim suksesnya dalam memobilisasi sumber dana. Kedua, ada semacam kekhawatiran bahwa Jakarta sebagai ibukota akan dikuasai PKS yang di benak banyak orang membawa agenda-agenda tertentu.

Dukungan ini murni kemampuan Fauzi Bowo, atau karena memang ada kesepakatan partai?

Dukungan banyak partai terhadap Fauzi Bowo ini sebenarnya tidak didasarkan pada kesepakatan antarpartai. Tak ada komitmen bersama antarpartai. Partai-partai itu mendukung Fauzi Bowo secara satu persatu. Jadi, dukungan koalisi partai memang lebih terkait dengan kemampuan Fauzi Bowo sendiri dalam memobilisasi sumber dana yang tak terbatas. Dalam konteks ini, antara satu partai dengan partai lain tidak ada kesepakatan bersama. Artinya, mereka bergerilya satu per satu. Dan ini bisa kita lihat dari dukungan yang baru mereka nyatakan di akhir pendaftaran calon gubernur. Menurut saya, inilah permasalahannya.

Melihat selisih perolehan suara antara dua calon hanya sekitar 12 persen, bagaimana Anda melihat hubungan antarapartai dengan pemilih?

Pertama, basis partai-partai politik pendukung Fauzi Bowo tidak kuat. Meskipun Fauzi Bowo didukung banyak partai, itu tidak serta-merta membawa implikasi yang kuat bagi massa, karena keterkaitan massa dengan partai saat ini tidaklah begitu cair. Kedua, massa ideologi semakin kecil jumlahnya dari tahun ke tahun, karena orang semakin pragmatis. Mereka memandang ideologi sebagai sesuatu yang tak lagi menentukan. Apalagi dalam situasi sulit ekonomi seperti ini, ikatan kepartaian semakin menjadi longgar. Tapi, dalam kasus pilkada dan legislatif, logikanya berbeda. Jika dalam pemilihan legislatif yang berperan penting adalah partai, maka dalam pemilihan gubernur yang memegang peran penting adalah personal. Jadi, meskipun Fauzi Bowo didukung 20 partai, tapi partai-partai tersebut tetap tidak terlalu intensif dalam mendulang suara.

Selain parpol, pihak mana saja yang berperan dalam kemenangan Fauzi Bowo?

Ketimbang oleh partai, kemenangan Fauzi Bowo lebih dikarenakan oleh beberapa hal dan pihak. Pertama, jaringan kelurahan yang jauh hari telah mengafiliasi dukungan mereka berserta keluarga mereka. Kedua, dukungan para pengusaha yang cenderung mencoba mencari aman terhadap perubahan-perubahan kebijakan pemda, jika yang terpilih adalah orang baru. Dengan payung penguasaha yang cukup banyak ini, suara untuk Fauzi cukup signifikan, tentunya dengan melihat loyalitas para karayawan perusahaan-perusahaan ini.

Ketiga, unsur ke-Betawi-an Fauzi Bowo. Dengan isu-isu seputar ke-Betawi-an, Fauzi dapat menarik massa Betawi. Keempat, lawan Fauzi hanya diusung oleh satu partai, PKS. Muncul kesan pemblokiran dari kelompok-kelompok pluralis terhadap PKS, sehingga kelompok midle class ke atas yang cenderung lebih pluralis dan takut adanya gejala-gejala radikalisme, memihak pada Fauzi.

Bagaimana dengan elite agama?

Jika elite agamanya dari NU, tentu saja pilihannya ialah pada Fauzi Bowo, karena memang Fauzi masuk struktur NU sebagai ketua wilayah. Tapi, pilihan elite agama dari Muhammadiyah tentu tidak pada Fauzi. Selain itu, PKS juga menjadi saingan berat. Dan itu lagi-lagi karena PKS tampil sebagai partai tunggal, sehingga memunculkan pilihan yang sulit bagi pemilih.

Dengan peta kemenangan seperti itu, bagaimana Fauzi Bowo akan membalasnya?

Saat ini, politik balas budi memang mulai dibicarakan. Secara formal, posisi birokrasi adalah netral, dan tentu saja partai takkan mendapat apa-apa dari sini. Menurut saya, akan ada proses negoisasi-negoisasi yang tampak rumit terkait politik balas budi. Sebab, banyak pihak yang merasa berperan dalam keberhasilan Fauzi. Setiap pihak tentu akan mengklaim peran mereka masing-masing. Di sinilah kecerdasan Fauzi akan diuji.

Kalau begitu apa yang mesti dilakukan masyarakat agar gubernur terpilih tidak hanya memikirkan politik balas budi, tetapi juga memikirkan kepentingan masyarakat?

Masyarakat mesti aktif mengontrol pemerintah. Mereka harus memonitor kinerja pemerintahan. Tapi, di luar kontrol masyarakat, 20 partai tersebut sudah cukup potensial untuk menjadi pengontrol kebijakan gubernur baru.

Lalu apa yang harus dilakukan Fauzi Bowo selaku Gubernur DKI Jakarta ke depan?

Sebagai etalase Indonesia, Jakarta tentu memunculkan pertaruhan yang besar bagi pemimpin barunya. Selain sebagai penampung kemurahan negara, Jakarta memiliki ribuan masalah yang kian hari kian bertambah.

Tak ada yang bisa dikerjakan dengan leha-leha, perlu upaya keras dalam memimpin Jakarta. Hal terpenting ialah bahwa Fauzi Bowo mesti sungguh-sungguh merealisasikan janji-janjinya saat kampanye dulu. *


Last modified: 27/8/07