SUARA PEMBARUAN DAILY

TKI yang Sakit Telantar di Tanah Air

[TANGERANG] Sejumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke Tanah Air karena sakit, nasibnya kini tidak menentu. Mereka tidak bisa segera menjalani perawatan karena prosedur yang berbelit-belit, yang diberlakukan oleh Badan Nasional Pemberangkatan dan Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), yang baru bertugas sekitar 100 hari.

Uti Kartiwa (33), TKI yang sudah 1,5 tahun bekerja di Taiwan, penderita kanker payudara dan kini merembet ke tulang pangkal paha, harus menerima penderitaan baru setiba di Indonesia. Uti harus melewati prosedur yang cukup melelahkan, hanya untuk memperoleh perawatan.

Sudah lebih dari lima jam, Uti tiba di Terminal khusus TKI Bandara Soekarno-Hatta, Jumat pekan lalu. Namun, wanita yang duduk di kursi roda itu belum juga mendapat perawatan.

"Saya sebenarnya kesal dan ingin cepat pulang ke Indramayu. Tetapi, prosedur kepulangan harus saya taati," katanya.

Dia tidak bisa langsung dikirim ke rumah sakit karena agen yang memberangkatkan Uti tidak terdaftar di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, sebagai agen yang TKI-nya mendapat fasilitas perawatan di sana. BNP2TKI hanya merekomendasikan 21 perusahaan ke RS tersebut.

Padahal sebelum ditangani BNP2TKI, semua TKI yang pulang dalam keadaan sakit, dan perlu mendapat perawatan sesuai rekomendasi dokter dari negara tempatnya bekerja, akan segera dikirim ke RS Polri.

Karena itu, petugas Poliklinik Terminal Khusus TKI, hanya bisa mencari alamat agen pengirimnya, dengan maksud TKI yang bersangkutan mengirimkannya kembali agen. "Untuk selanjutnya, terserah agen apakah mau dirawat di rumah sakit atau dikembalikan ke keluarganya," kata petugas poliklinik yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut Uti, ibu berputra satu itu, dia sudah empat bulan lebih terbaring sakit. Majikannya di Taiwan seorang pengusaha, dianggapnya cukup baik membantu perawatan di rumah sakit. Namun, Uti menyadari sakitnya tidak akan sembuh dalam waktu cepat, sehingga dia minta pulang ke Indonesia.

Saat menunggu di bandara, dia hanya terdiam duduk di kursi roda. Badannya kurus. Dia mengenakan topi berwarna pink untuk menutupi kepalanya yang botak. Rambutnya rontok secara bertahap setelah dokter memvonisnya kena kanker.

Nasib yang sama juga dialami oleh Tarsini asal Cirebon. TKI yang sedang sakit itu berbaring dalam ruangan yang sama dengan Uti di Poliklinik Terminal Khusus TKI. Kondisi Tarsini tidak kalah mengenaskan. Tubuhnya penuh bercak merah dengan kaki bengkak dan suhu badan tinggi.

Dia mengaku sangat kesakitan. Petugas yang hendak memberikan cairan infus juga tidak bisa berbuat banyak karena kesulitan menancapkan jarum infus.

Dalam rekomendasi dokter dari Arab Saudi, Tarsini harus dirawat di rumah sakit. Tapi, petugas lagi-lagi memutuskan mengembalikannya ke agen. "Kasihan dia kalau bolak-balik ke rumah sakit karena perusahaannya tidak terdaftar di RS Polri," kata petugas jaga.

Hal yang sama juga dialami Halimah binti Narodi (22). Wanita asal Sukabumi ini baru tiba di Jakarta, Minggu (27/8) siang. Namun, agennya PT Amry, tak termasuk dalam daftar perusahaan yang mendapatkan fasilitas perawatan di RS Polri.

Karena itu, Halimah yang tiba dalam keadaan lumpuh, terpaksa diangkut dengan mobil pemulangan jenis Elf ke agennya di daerah Jakarta Timur, pada Minggu malam, setelah menunggu sekitar 10 jam. Tentu saja pemulangan Halimah dengan kendaraan yang bukan untuk orang sakit itu, membuatnya menderita. Halimah menjerit-jerit kesakitan.

Saat tiba dari Arab Saudi, Halimah turun di Terminal II. Namun, dia dibawa dengan ambulans ke Terminal Khusus TKI.

Cerita tentang pemulangan TKI yang sakit maupun yang gagal, cukup memilukan. Para petugas di Bandara Khusus TKI mengaku tidak bisa berbuat banyak.

"Kami hanya menjalankan tugas. Kalau agen pengirimnya memang tidak masuk daftar yang boleh berobat ke RS Polri, kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa mencarikan agen pengirimnya dan mengembalikan TKI itu ke sana," kata seorang petugas yang tidak mau disebutkan namanya.

Bahkan, persediaan obat dan perlengkapan medis juga sangat terbatas di poliklinik tersebut. "Ketika dipimpin Satgas Pemulangan TKI, obat-obatan lancar, tetapi kini cukup terbatas," tambahnya.

Persoalan TKI kini makin rumit, apalagi masalah angkutan pemulangan, gaji pegawai, porter, dan pelayanan terhadap TKI yang gagal kini makin rumit. Padahal, beberapa waktu lalu penangannya mulai membaik, saat ditangani oleh Satgas Pemulangan TKI.

Menurut pengamatan SP, amburadulnya pelayanan itu terjadi karena penanggung jawab BNP2TKI sendiri tampaknya tidak pernah serius untuk menanganinya. Jarang sekali mereka terlihat di Terminal Khusus TKI.

Untuk mendapatkan konfirmasi saja, wartawan kesulitan, karena mereka tidak pernah berada di tempat. "Jangankan Anda, kami saja yang setiap hari di sini jarang bertemu. Mereka lebih banyak di Lantai 3," kata seorang porter.

Sebutan "Lantai 3" dikenal di kalangan mereka yang terlibat dalam pemulangan TKI, di mana letak kantor BNP2TKI, di sebuah gedung di Jl Gatot Subroto. Untuk mendapatkan konfirmasi mengenai TKI yang sakit dan berbagai persoalan lainnya, SP tidak bisa menemukan seorang pun pejabat yang bertanggung jawab. [132]


Last modified: 27/8/07