![]()
AP/David Longstreath
Pengunjuk rasa antipemerintah Myanmar menggelar aksi di dekat Kedutaan Besar Myanmar di Bangkok, Thailand, Minggu (26/8). Mereka memprotes kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak.
[YANGON] Seminggu setelah perburuan dilakukan junta militer Myanmar terhadap para demonstran yang menggelar protes damai atas melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), warga Yangon kini dicekam ketakutan. Hanya segelintir warga saja yang berani keluar rumah untuk menyusuri jalan-jalan kota yang kini dipenuhi polisi berpakaian sipil.
Jalan-jalan di seantero Yangon pada Minggu (26/8) nyaris sunyi senyap. Sebagian besar pasar tutup dan hampir tak terlihat seorang pun penumpang terlihat menanti di halte-halte bus yang biasanya dipadati calon penumpang.
"Warga takut keluar rumah setelah rangkaian aksi unjuk rasa," ujar seorang penjual pisang berusia 50-an tahun. Ia mengatakan, dagangannya sangat sepi pelanggan pada pekan lalu sejak para demonstran turun ke jalan-jalan untuk melancarkan protes besar-besaran atas harga BBM yang melonjak.
Myanmar, yang berada di bawah kepemimpinan militer sejak 1962, hanya memberikan sedikit toleransi bagi perbedaan pendapat yang dirasakan warga. Tetapi, sejumlah pengamat mengatakan, junta militer Myanmar terguncang dengan kegigihan pengunjuk rasa, yang melancarkan aksi massa empat kali dalam sepekan kendati tindakan polisi ditingkatkan.
Puluhan orang yang terlibat aksi menentang kenaikan BBM itu ditangkap, termasuk sedikitnya 65 aktivis prodemokrasi. Sebagian pengunjuk rasa berhasil diringkus berkat bantuan polisi-polisi berpakaian sipil dan kelompok projunta militer.
Aparat keamanan, yang beberapa di antaranya menyaru sebagai penyapu jalanan, terlihat di seantero Yangon, terutama di pasar-pasar, pagoda, kantor-kantor pemerintah, dan Balai Kota Yangon. Di tempat itu, lebih dari 20 polisi berpakaian sipil terlihat berjaga-jaga.
Bagi seorang sopir taksi di Yangon, kehadiran aparat keamanan tersebut cukup menjauhkan dia untuk tidak ikut lagi menghadiri demonstrasi-demonstrasi di masa mendatang.
Salah seorang pengunjuk rasa yang ditahan adalah Min Ko Naing. Dia dianggap sebagai pemimpin prodemokrasi paling terkemuka di Myanmar setelah Aung San Suu Kyi, peraih Hadiah Nobel Perdamaian yang kini masih menjalani tahanan rumah.
Pemimpin Demonstran
Min Ko Naing ditahan bersama 12 aktivis karena memimpin sekitar 500 pengunjuk rasa dalam sebuah aksi demonstrasi damai di Yangon. Mereka dikirim ke Insein, sebuah penjara di wilayah utara Myanmar yang dikenal buruk.
Jika 13 aktivis itu terbukti bersalah, mereka terancam hukuman penjara selama 20 tahun. Penjara Insein kini menampung sekitar 1.100 tahanan politik.
Para aktivis yang berunjuk rasa itu adalah anggota Kelompok Mahasiswa Generasi 88, yang beranggotakan mantan pemimpin mahasiswa yang melawan kepemimpinan militer pada 1988.
Keputusan pencabutan subsidi hingga menaikan harga BBM dianggap sebagai langkah Myanmar dalam menghadapi meningkatnya harga minyak global. "Harga BBM dinaikkan bukan tindakan politis," kata Duta Besar Myanmar untuk Manila, Thaung Tun. [AFP/AP/E-9]