
foto-foto: SP/Alex Suban
Penari asal Jepang Michi Tomioka bersama para penari lainnya menampilkan tarian "Srimpi Gondokusumo" dalam pertunjukan di Teater Luwes, di Kampus Institut Kesenian Jakarta, Minggu (26/8).
Tari Srimpi Gondokusumo itu dipelajarinya di Solo, Jawa Tengah. Hasil latihannya kemudian dibawakan bersama empat penari lainnya di Teater Luwes di kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Minggu (26/8). Tujuh puluh menit tarian dari tanah Jawa itu dipertontonkan di hadapan sedikit orang yang tertarik menyaksikan salah satu bentuk tarian yang sangat jarang dipentaskan.
alu siapa yang mempelajari dan kemudian mengambil inisiatif pementasan itu? Putri Jawakah? Budayawan Indonesia? Bukan. Dia, penari dan penata tari Srimpi Gondokusumo itu bernama Michi Tomioka. Dari namanya kita bisa menduga dia orang Jepang.
Ya, ya, ya, Michi Tomioka memang perempuan Jepang yang terlanjur sayang pada tari Srimpi. Dia sama sekali tidak punya kaitan dengan apa yang namanya Indonesia apalagi Jawa. Tak ada darah Jawa mengalir di tubuhnya.
Kalaulah boleh diterangkan soal kaitan antara Michi dengan tari Srimpi, jawabannya singkat. Terlanjur sayang atau katakanlah, jatuh cinta. Pentas itu dilakukan sebagai bagian dari kegiatan penelitian Michi yang berjudul Melihat Kembali Nilai Keraton dalam Konteks Sosial dan Kebudayaan Masa Kini.
Maka di siang hari yang panas itu, di gedung yang baru direnovasi, di hadapan tidak lebih dari lima puluh penonton, Michi bersama tiga penari Srimpi lainnya menari. Memperlihatkan kembali tarian yang diciptakan Paku Buwono VIII saat diangkat sebagai Putra Mahkota Keraton Surakarta Hadiningrat.
Empat bejangan air berisi mawar merah dan putih serta melati di empat sudut. Wangi dupa. Wangi bunga selintas. Lampu tiba-tiba mati. Lalu lampu menyorot tipis sisi kanan panggung. Dari sisi itu, empat penari itu masuk dengan pelan. Tinggi dan postur tubuh mereka berbeda. Gerakan mereka juga sering sekali tidak sama dan tidak serempak. Ini jelas agak mengagetkan sebagian penggemar tari Jawa yang menganggap bahwa tarian Jawa harus dilakukan dengan gerakan yang sama.
Kesamaan mereka hanya pada pakaian yang dikenakan. Kain dodot klembrehan yang membelit tubuh. Orang awam pasti menduga kain itu mempersulit gerakan kaki. Ya, mereka bergerak pelan. Atau mungkin sangat pelan. Gemulai. Gending Jawa terdengar. Pentas dimulai.
Suara gamelan dari rekaman membawakan gending maju beksan sebelum terdengar pathetan selendro sanga yang didominasi suara rebab. Lalu mereka seolah bergerak dalam formasi segi empat. Para penari meliuk pelan di setiap sisi dengan pelan. Gerakannya khas. Di beberapa bagian tarian dua penari berdiri dan dua penari lainnya seolah menari dengan tubuh merendah.
Nungki Kusumastuti, penari Jawa terkenal yang semula duduk di bangku kayu tanpa penyandar perlahan bergerak. Dia duduk bersila di lantai, ingin menyandarkan bagian belakang pinggangnya. Beberapa penonton mengikuti jejak dosen tari di IKJ itu. Bersandar santai.
Di tengah pentas pertunjukan, Michi, Sri Setyoasih, Saryuni Padmaningsih dan Hadawiyah Endah Utami memperlihatkan penguasaan mereka pada jenis tarian yang jarang dipentaskan. Selintas mereka seolah melakukan gerakan yang sama berulang-ulang. Tapi memang itulah salah satu ciri khas tari Srimpi yang bersama tari bedaya baru boleh dipertontonkan ke muka umum pada tahun 1970-an. Sebelumnya, tarian ini hanya dipentaskan di dalam keraton.

Tarian "Srimpi Gondokusumo" dibawakan dalam versi utuh berdurasi 70 menit. Pergelaran ini merupakan hasil penelitian Michi Tomioka tentang nilai tarian keraton dalam konteks sosial masa kini.
Menurut Michi yang melakukan penelitian dan belajar tari dari legenda penari Srimpi, Sri Sutjiati Djoko Soehardjo sejak 1996, saat ini tari Srimpi jarang dipentaskan dengan utuh. Tarian itu sering dipadatkan istilahnya. Biasanya dipentaskan hanya sekitar 20-30 menit.
"Sejak lama saya ingin mementaskannya dengan utuh. Supaya masyarakat Indonesia tahu kekuatan, keindahan dan kesakralan tari Srimpi. Jangan hanya melihat tari Srimpi yang sudah dipadatkan," kata Michi sebelum pementasan.
Pentas tari Srimpi yang dipadatkan dan gerakannya seragam tidak lepas dari perubahan sosial dan kebudayaan. Penjajahan Belanda juga memberikan pengaruh besar pada gerakan tarian yang seragam.
"Orang Barat (Belanda-Red), tampaknya memberikan pengaruh besar pada perubahan gerakan tari Srimpi. Mereka senang segala hal yang seragam. Perbedaan gerakan itu justru kekuatan Srimpi. Yang penting ialah kebersamaan Srimpi," tambah Michi yang sejak 1996-1998 belajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang berubah menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pengetahuan dan keterampilan tarinya kembali diasah pada 2000 hingga 2003 di ISI.
"Setelah Ibu Djoko, wafat saya juga sempat belajar menari kepada bapak Sulistio Tirtokusumo. Sa-ya sangat berhutang budi pada Ibu Djoko dan Pak Sulistyo dan serta para guru tari saya lainnya di Solo," tambahnya.
Begitulah, di tengah minimnya jumlah penonton tari Srimpi Gondokusumo, Michi beserta tiga penari senior dari Solo lainnya tetap penuh semangat. Terus menari. Semangat untuk menghormati dan tidak membiarkan salah satu kekayaan Indonesia itu yang membuat Michi mau bersusah payah mencari sponsor pementasannya. Tidak hanya di Solo tapi juga di Jakarta dan kemudian mungkin di mancanegara. [Pembaruan/Aa Sudirman]