[JAKARTA] Alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor, perontok padi, pemipil jagung, serta pengering padi dan jagung, sangat diperlukan untuk percepatan budi daya serta penanganan panen maupun pasacapanen. Penyusutan atau kehilangan hasil panen komoditas pertanian masih cukup besar, bahkan lebih dari 10 persen untuk padi yang mencapai jutaan ton.
"Kita harus mengembangkan mekanisasi di sektor pertanian agar produktivitas meningkat. Prospek pasar alsintan juga sangat besar, karena lahan sawah saja sekitar 12 juta hektare," ujar Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada ulang tahun ke-65 produsen alsintan PT Rutan Group, di Jakarta, Sabtu (25/8).
Anton mengatakan, dalam pembangunan pertanian modern tak terlepas dari pengembangan penggunaan alsintan, apalagi masih banyak tantangan yang dihadapi sektor pertanian, seperti keterbatasan lahan dan alih fungsi lahan, rendahnya produktivitas, serta pergeseran iklim.
Dia mengakui, petani belum sepenuhnya dapat mengakses alsintan karena masalah harga, sehingga diperlukan pola kepemilikan alsintan. Sebelumnya, ungkap Anton, telah berkembang pola kerja sama operasional (KSO) ataupun sewa beli, namun pola ini harus diperbarui agar lebih inovatif dan menguntungkan semua pihak.
Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso menjelaskan, tahun ini kebijakan pengembangan alsintan proses produksi diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pengolah tanah berupa traktor roda dua, melalui fasilitasi Bantuan Uang Muka Alsintan (BUMA) sebesar 25 persen dari harga traktor, di 272 kabupaten/kota.
Untuk mencapai sasaran produksi padi tahun 2007 sebesar 58,18 juta ton, katanya, pemerintah memberi Bantuan Kepemilikan Alsintan (Bakal) pada kelompok tani berupa traktor roda dua di 343 kabupaten/kota. "Saat ini, traktor roda dua yang tersedia baru 116.016 unit. Jika dibandingkan dengan luas areal pertanian, masih jauh dari kebutuhan," ujarnya.
Butuh Insentif
Sementara itu, Presiden Direktur Rutan Group, Budi Iskandar, berharap pemerintah memberi kemudahan bagi industri alsintan karena produk mereka kebanyakan ditujukan pada petani. Petani juga perlu diberi insentif, antara lain bantuan uang muka pembelian alsintan dan pinjaman berbunga rendah.
Pemerintah juga diminta mengurangi bea masuk bahan baku industri alsintan agar harga jual produk bisa ditekan. Bea masuk karet dan plastik untuk alsintan, misalnya, mencapai 25- 40 persen.
Sedangkan bea masuk alsintan impor justru sangat rendah, berkisar nol sampai 7,5 persen, sehingga bisa memukul industri dalam negeri. Di negara-negara lain, bea masuk alsintan di atas 10 persen. [S-26]