SUARA PEMBARUAN DAILY

Untuk Sementara, Nelayan Tidak Pakai Bom Ikan

Bagi sebagian besar nelayan di Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), mencari ikan di laut tidak cukup hanya dengan mempergunakan jaring. Boom ikan menjadi alat tangkap yang sangat mujarab untuk mengumpulkan ikan dalam jumlah banyak. Caranya sederhana, tetapi sangat membahayakan.

Bom ikan yang dirakit dengan mempergunakan bahan ledak berbahaya, (trinitrotoluene) TNT, sudah cukup lama dikenal nelayan Kabupaten Pasuruan. Sebelum terjadi ledakan di rumah H Ilham di Perumahan Anggrek, Ngemplakrejo, Pasuruan yang menelan tiga korban jiwa peracik bom ikan, Sabtu (11/8).

Setelah diketemukannya puluhan kilogram (kg) TNT dari rumah H Ilham serta rumah Rohmah dan Farida, keluarga Nadzir (tersangka utama dalam peristiwa ledakan di rumah Haji Ilham di Perumahan Anggrek), nelayan untuk sementara tidak mempergunakan bom ikan.

Benarkah hanya takut bahayanya? Ternyata tidak sekadar bahaya ledakan yang bisa mengancam pembuat dan pemakainya. Yang paling ditakuti jeratan hukum aparat kepolisian. Sanksi hukum bagi para perakit, sampai pengguna bahan peledak diancam hukuman 20 tahun, hukuman mati, atau seumur hidup.

"Pak Haji Ilham karena dianggap menyediakan tempat merakit bom ikan, dapat diancam hukuman yang sama. Nah, nelayan pemakai seperti kami juga akan mengalami nasib yang sama, kalau sampai tertangkap," kata Abdul Manaf, seorang nelayan.

Para nelayan akhirnya memilih jalan aman. Mereka kembali pada cara tradisional. Menebar jala di laut, dan menangkap ikan seadanya atau memakai jub- lang, alat yang dipukulkan ke air sampai mengakibatkan ikan-ikan mabuk.

Tetapi apakah para nelayan tetap kembali ke cara-cara yang bersahabat dengan lingkungan, sekalipun hasilnya lebih sedikit dibandingkan dengan mempergunakan bom ikan? Tidak ada nelayan yang bisa memastikan. Sejak bertahun-tahun, nelayan merasakan besarnya hasil tangkapan ikan jika memanfaatkan bom di laut. Harga satu biji bom sekitar Rp 10.000 sampai Rp 15.000.

Lebih Sederhana

Tetapi para nelayan di Kelurahan Ngemplakrejo mengaku tidak pernah menggunakan bom ikan seperti yang dirakit Nadzir. Jenis bom ikan digunakan nelayan Ngemplakrejo, kelasnya sederhana. Teknis pembuatannya tidak rumit, dengan bahan yang mudah didapatkan di toko-toko penjual bahan-bahan kimia. Sementara bom ikan buatan Nadzir yang canggih untuk memenuhi kebutuhan kalangan nelayan yang melaut di perairan lepas.

Lalu bagaimana dengan aktivitas rutin merakit bom ikan? Untuk sementara merakit bom ikan dengan skala sederhana sudah ditinggalkan warga Kelurahan Ngemplakrejo. Sekalipun membuat bom ikan skala sederhana menjadikan pekerjaan sehari-hari.

"Kami takut dianggap sebagai orang yang membantu aktivitas Nadzir. Lebih baik stop buat bom ikan. Cari amannya," kata salah seorang pembuat bondet seder-hana yang tidak mau disebut namanya.

Menurut pengakuan mayoritas nelayan, sebenarnya sudah cukup lama mereka tidak mau menggunakan bom ikan. Tangkapan ikan tidak bisa diharapkan lebih banyak. Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang hasil ikannya bisa berlimpah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kelurahan Ngemplakrejo, H Nasir mengatakan, nelayan harus kembali mempergunakan alat tangkap tradisional sehingga tidak ada lagi pembuat bom ikan. Risiko kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi pendekatan Utama, tetapi risiko besar sanksi hukum harus terus-menerus disosialisasikan kepada nelayan, terutama pembuatnya.

Berdasarkan UU Darurat No 12/1951, siapa pun yang berhubungan dengan bahan peledak akan dijerat ancaman hukuman penjara 20 tahun, seumur hidup, atau hukuman mati.

Hukum yang mengatur penggunaan bahan peledak ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pihak kelurahan menyiapkan acara sosialisasi hukum bersama aparat kepolisian setempat.

Nelayan selama ini selalu dianggap sebagai perusak lingkungan, khususnya terumbu karang. Beberapa jenis teknologi menangkap ikan tidak ramah lingkungan atau merusak lingkungan misalnya bom ikan, potasium sianida.

Bom mengakibatkan tingkat kerusakan terumbu karang sangat signifikan. Sementara jumlah nelayan pengguna bom ikan terus meningkat sejak krisis ekonomi Indonesia.

Kualitas bom ikan juga ikut meningkat, terutama perubahan material bom. Material bom diperoleh melalui jaringan perdagangan ilegal. Harga-harga material untuk membuat bom ikan ini sangat mahal, namun pendapatan yang diperoleh para nelayan jauh lebih baik. Inilah alasan kenapa penggunaan bom ikan terus meningkat. [Edi Soetedjo]


Last modified: 25/8/07