SUARA PEMBARUAN DAILY

Warga Prambanan Mulai Kekurangan Air Bersih

SP/Fuska Sani Evani

Meski Pemerintah Kabupaten Sleman sudah mulai melakukan pengedropan air bersih ke Kecamatan Prambanan, namun warga mengeluh tidak cukup, sehingga warga harus membeli secara swadaya. Tampak warga Gedang Atas Prambanan, pada Jumat (24/8), membeli air dari pedagang swasta. Satu tangki berisi 4.000 liter harus dibeli Rp 80.000.

[YOGYAKARTA] Meski puncak kekeringan diperhitungkan akan terjadi pada September, namun warga Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sudah menghadapi masa kritis. Sebagian besar warga meminta pengedropan air bersih karena tidak adanya sumber air bersih di wilayah tersebut.

Dikonfirmasi Sabtu (25/8) pagi, Kasi Operasi Bidang Penang- gulangan Bencana Alam (PBA) Sleman, Sugijanto menjelaskan, sejak 13 Agustus lalu, pihaknya sudah menyalurkan 102 tangki air berkapasitas 5.000 liter kepada 1.976 keluarga atau 6.310 jiwa di Desa Sambirejo, Wukirharjo, Gayamharjo, dan Sumberharjo. Di daerah-daerah tersebut diperkirakan sekitar 5.000 keluarga kesulitan air bersih.

"Total kami anggarkan untuk 800 tangki, tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan," katanya.

Dikatakan, setiap hari ada empat armada tangki yang beroperasi. Setiap armada bisa melakukan pengedropan hingga tiga kali. "Target kami hingga akhir Agustus bisa melakukan pengedropan air sebanyak 240 tangki," jelasnya.

Wilayah Prambanan terus dilanda kekeringan, menurut Sugijanto, ada sumber mata air yang masih bisa digunakan, yaitu di Majasem. Namun, akibat gempa bumi 2006, pipa penyalur air rusak. Selain pengedropan air, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman juga terus memperbaiki sebagian jaringan sistem air tersebut.

Meski demikian, salah satu warga Dusun Gedang Atas, Prambanan, Sujarwo (50) menyatakan, sejak Juni masyarakat di tempatnya sudah harus membeli air secara bergotong-royong. "Seminggu, kami iuran Rp 10.000 untuk beli air dan rata-rata satu RT atau 30 keluarga butuh enam tangki per minggu. Meski ada pengedropan air bersih dari pemerintah, tetap tidak cukup," katanya.

Bergantung

Sementara itu, 357 pedukuhan di Gunungkidul makin bergantung pada bantuan air bersih. Ratusan sumur dan sumber air mengering. Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto menjelaskan, 70.000 warga Gunungkidul kesulitan air, dengan demikian secara persentase, hampir 50 persen penduduk Gunungkidul bergantung pada subsidi air bersih.

Pihaknya sampai sekarang masih terus memberikan bantuan pengedropan menggunakan 18 tangki, 11 di antaranya langsung stand by di kecamatan-kecamatan sisanya bergerak ke wilayah- wilayah yang membutuhkan.

Sementara itu, Pemkab Gresik, Jawa Timur (Jatim), mulai memasok 15.000 liter air bersih dengan mempergunakan tangki-tangki milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gresik, pada sejumlah desa yang mulai kehabisan air pada musim kemarau, seperti di Desa Tirem, Kecamatan Duduksampeyan, Jumat (24/8). Setiap keluarga berhak mendapatkan jatah empat jeriken air. Karena Desa Tirem dikelilingi areal tambak, sumur warga tidak mengeluarkan air tawar. Melainkan, air payau sehingga kurang layak diminum.

Menurut Kades Tirem Sutopo, warga desa ini sudah berupaya mengatasi krisis air bersih. Mereka minta PDAM membuka jaringan baru di desa itu. Warga sudah membangun jaringan pipa yang menghabiskan biaya Rp 96 juta. Namun, hingga saat ini, permintaan tersebut belum dipenuhi. "Pasokan air bersih pada hari ini memang lumayan, tetapi kami membutuhkan kelanjutannya, minimal setiap minggu dua kali," katanya.

Kabag Humas Pemkab Gresik, Mighfar Sjukur menjelaskan, pengedropan air akan terus dilakukan sesuai dengan permintaan masyarakat. Wilayah yang sudah mengajukan permintaan air bersih meliputi 21 desa di Kecamatan Duduksampeyan, 21 desa di Kecamatan Dukun, 14 desa di Kecamatan Sidayu, empat desa di Panceng, sebelas desa di Kecamatan Manyar, empat desa di Kecamatan Balongpanggang, 13 desa di Kecamatan Benjeng, empat desa di Kecamatan Menganti, dan enam desa di Kecamatan Kedamean.

Puncak musim kemarau di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek, Jatim, mulai ditandai dengan matinya sejumlah sumber mata air pegunungan dan menyusutnya volume air waduk. Volume air Waduk Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung yang ketinggian normalnya 183 m di atas permukaan air laut (dpl), kini sudah menjadi 169,02 m dpl. Penduduk yang tinggal di kawasan pegunungan pun dilanda kekurangan air bersih.

Kondisi kekeringan juga melanda Kabupaten Trenggalek, tetanga sisi barat Kabupaten Tulungagung. Khusus penduduk di Kecamatan Pule, yang berada di kaki Gunung Sengunglung (1.174 m dpl), dan penduduk Kecamatan Dongko yang berada di kawasan Pegunungan Gede, serta penduduk Kecamatan Bendungan di kaki Gunung Wilis (2.169 m dpl), sudah dua bulan ini dilanda krisis air bersih.

Penduduk di kawasan pegunungan, baik di Tulungagung maupun di Trenggalek, harus mencari air ke sumber mata air yang berjarak minimal satu hingga dua kilometer di atas lereng-lereng gunung. Sumber mata air yang berada di kaki gunung, rata-rata mati karena simpanan air tanah di kawasan atasnya mengering. [152/ES/070]


Last modified: 25/8/07