SUARA PEMBARUAN DAILY

"Abah, Raisah Ingin Pulang"

SP/Ignatius Liliek

Raisah (5) digendong ayahnya, Said Ali, setelah dibebaskan oleh polisi dari tangan penculik, Jumat (24/8).

"Abah, Raisah ingin pulang". Itulah kalimat yang diucapkan Raisah (5) kepada ayahnya, Said Ali lewat telepon pada hari kedelapan drama penculikan. Telepon pun dimatikan penculik di saat sang Abah ingin berbicara lebih lama dengan putri kesayangannya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut penculik.

Raisah (bukan seperti berita sebelumnya yang tertulis Raisyah), biasanya memanggil Said Ali dengan sebutan Abah. Mendengar kalimat dari anaknya itu, Said Ali langsung mengetahui bahwa putrinya masih hidup.

Percakapan singkat itu terjadi pukul 04.00 WIB Kamis (23/8), sehari sebelum Raisah ditemukan. Dengan nada lirih, bocah perempuan itu meminta orang tuanya untuk segera membebaskannya. Ia berbicara dengan nada suara terbatah-batah.

Orangtua Raisah mengaku, sempat terpukul atas hilangnya Raisah. Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu sempat pasrah atas peristiwa yang sedang dihadapinya. Selama drama penculikan ini berlangsung, Said Ali mengaku, tidak pernah berprasangka bahwa penculikan terhadap putrinya itu dilakukan oleh orang yang menjadi saingan bisnisnya.

Keluarga korban menyerahkan semuanya pada Tuhan. Di samping terus berkoordinasi dengan kepolisian, pihak keluarga juga mengharapkan informasi terbaru tentang keberadaan Raisah dari pihak-pihak yang bersimpati. Keluarga tetap berharap, para penculik segera mengembalikan Raisah dalam keadaan selamat.

Said Ali menjelaskan, pada hari penculikan itu, ia pernah ditelepon sekitar pukul 13.00 WIB. Said Ali diminta untuk tidak melaporkan penculikan itu ke polisi. Saat itu, Said meminta penculik segera membebaskan putrinya. Setelah itu, kelompok penculik tidak melakukan kontak dengan keluarga, termasuk soal permintaan uang tebusan demi pembebasan Raisah.

Identitas penculik pun belum diketahui. Namun, pada hari kesembilan, Jumat (24/8), kabar baik pun datang. Kawanan penculik dibekuk tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya di sebuah stasiun pengisian bahan bakar(SPBU) di Jalan Raya Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat dini hari.

Saat ditangkap, para penculik masih menggunakan mobil APV sewaan yang nomornya sudah dipalsukan. Saat itu, YP, salah satu tersangka, sedianya bertemu anaknya yang sakit. Polisi menangkap pelaku setelah membuntuti adik otak pelaku penculikan bernama Anggana. Polisi menguntit Anggana dari rumah orangtua YP di Jalan Centex Raya, Gang Mesjid, Ceger, Jakarta Timur. Anggana menemui kakaknya dengan membawa anak YP di sebuah SPBU. Anak YP yang dititipkan di rumah orangtuanya demam.

Dalam penangkapan itu sempat terjadi keributan. Bahkan, polisi sempat dikepung warga karena disangka hendak menculik. Salah seorang penculik, MR yang mengemudikan mobil sempat melawan dan meminta identitas polisi. Sedangkan, Raisah duduk di kursi belakang mobil tersebut. Ia akhirnya berhasil diselamatkan polisi.

Raisah pun bisa berkumpul kembali bersama orang tuanya, Said Ali dan Nizmah Mukhsin Thalib. Mereka bertemu pertama kali di Polda Metro Jaya. Setelah itu, mereka kembali ke rumah mereka di Jati Waringin, Jakarta Timur. Setiba di rumah, Raisah disambut sejumlah keluarga dekat dan puluhan wartawan.

Raisah terlihat bingung sebentar. Ia pun langsung dibawa ke kamar ditemani sejumlah sepupu dan saudaranya. Setelah beberapa jam, barulah dia dapat mengenali sanak saudara dan teman-teman sekolahnya. Untuk menghilangkan traumatik Raisah, pihak keluarga akan memeriksakan Raisah ke psikiater.

Mengenai pelaku penculikan beserta proses hukumnya, Said menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Yang pasti, Said dan keluarga meminta polisi menghukum penculik sesuai hukum yang berlaku di negara ini. Diharapkan, hukuman yang diberikan bisa memberikan efek jera agar tidak terjadi lagi aksi penculikan di kemudian hari. [HTS/N-3]


Last modified: 25/8/07