SUARA PEMBARUAN DAILY

Isu Kerakyatan Penentu Kemenangan Partai Demokrat Jepang

SP/Elly Burhaini Faizal

Ketua Komisi Parlemen Jepang-Indonesia, Yoshihiko Noda, menerima kenang-kenangan cendera mata dari Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, seusai kunjungan delegasi Partai Demokrat Jepang ke PP Muhammadiyah, Rabu (22/8).

Popularitas Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang merosot drastis seperti tercermin dalam hasil pemilihan Majelis Tinggi awal Agustus, menimbulkan spekulasi bahwa pemerintahan yang dia pimpin tak akan berusia panjang.

Partai yang mengusung Abe, Partai Demokrat Liberal (LDP) kalah dalam pemilihan anggota Majelis Tinggi. Dengan demikian untuk pertama kalinya dalam kurun 50 tahun, posisi nomor satu di Majelis Tinggi tidak berada di tangan LDP. Kemenangan berada di tangan Partai Demokrat.

Ketua Komisi Parlemen Jepang-Indonesia, Yoshihiko Noda, yang juga memimpin delegasi Partai Demokrat Jepang yang berkunjung ke Indonesia, menjelaskan bahwa keberhasilan Partai Demokrat memenangi pemilu Majelis Tinggi diraih berkat usaha dan kerja keras. Ada tiga faktor yang menyebabkan kemenangan itu.

Pertama, isu yang diangkat Partai Demokrat difokuskan pada masalah-masalah yang dihadapi langsung oleh masyarakat, seperti asuransi hari tua yang ramai dibahas dan masalah perpajakan. Kedua, Partai Demokrat dianggap berhasil menjembatani kesenjangan pusat dan daerah. Di berbagai daerah, LDP memang menguasai. Tetapi, sedikit demi sedikit Demokrat pun mulai memikat publik daerah. Ketiga, berbagai skandal yang melanda LDP membuat publik kecewa

LDP mengangkat masalah-masalah yang terkesan "elitis", seperti soal amendemen konstitusi dan pembaruan pendidikan. "Sementara Partai Demokrat mengangkat masalah-masalah yang sangat berkaitan langsung dengan kehidupan rakyat," ungkap Yoshihiko seusai bertemu Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta, Rabu (22/8).

Secara keseluruhan, Majelis Tinggi beranggotakan 242 orang. Sebelum pemilu kubu Demokrat di Majelis Tinggi hanya 83 orang. Namun setelah pemilu, jumlahnya menjadi 113 orang dan berbeda 30 kursi dengan LDP. "Walaupun belum mayoritas, saat ini di Majelis Tinggi kami nomor satu. Jadi, selama tiga tahun ke depan, partai nomor satu di Majelis Tinggi adalah Partai Demokrat," tutur Yoshihiko bangga.

Target Partai Demokrat mendatang adalah memenangi pemilihan Majelis Rendah. Jalan ke sana tidaklah enteng. Jumlah anggota Majelis Rendah secara keseluruhan 480 orang, yang 306 kursi di antaranya diisi oleh LDP, sedangkan Partai Demokrat hanya 113 kursi atau sepertiganya LDP. Kalau Partai Demokrat bisa menang maka itu sukses luar biasa karena berarti untuk pertama kalinya memimpin Jepang.

Jika pada akhirnya terjadi pergantian pemerintahan, masyarakat Jepang tetap berkomitmen melanjutkan hubungan di berbagai bidang dengan Indonesia.

"Siapa pun yang memimpin Jepang, tidak akan mempengaruhi hubungan baik Indonesia-Jepang," tegas Yoshihiko.

Kedatangan delegasi Partai Demokrat ke PP Muhammadiyah tahun ini merupakan kunjungan kedua. Kunjungan pertama pada tahun 2006, sebelum pemilihan Majelis Tinggi. "Berkat doa Pak Din, kami benar-benar menang," canda Yoshihiko, dalam pertemuan yang juga diikuti oleh Sekretaris ke-3 Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Noriko Miyake, Jeffrie Geovanie (Ketua Lembaga Politik Muhammadiyah), serta Rustam Effendi Syam (Anggota DPR-RI dari Fraksi PAN).

Delegasi Partai Demokrat Jepang yang lain adalah Yutaka Banno, Kenji Tanaka, dan Yasutomo Suzuki yang kini menjabat sebagai Wali Kota Hamamatsu dan dua perempuan anggota Majelis Tinggi yakni, Kuniyo Tanabe dan Kazumi Oota. Jumlah perempuan Demokrat di Majelis Tinggi baru sepuluh persen, tapi kecenderungannya terus meningkat. Kunjungan ini bukan tanpa alasan. "Banyak anggota parlemen dan kabinet yang berasal dari Muhammadiyah. Selain itu, Muhammadiyah bergerak di berbagai bidang. Karena itu kami menganggap Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpengaruh," kata Yoshihiko.

Din Syamsuddin juga menjelaskan Muhammadiyah bukan partai politik, sehingga anggotanya bebas menjadi anggota partai politik yang mana saja. "Sekarang ada 161 anggota Muhammadiyah di parlemen pusat, yang berasal dari berbagai partai politik," kata Din. Ia berharap, kunjungan delegasi Partai Demokrat bisa membawa pelajaran demokrasi yang penting bagi para politisi muda di Indonesia.

Kedatangan delegasi Partai Demokrat berlangsung pada momentum yang tepat, yakni hanya berselang dua hari setelah kedatangan PM Shinzo Abe ke Indonesia untuk menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJ-EPA). Bagi Jepang, penandatanganan EPA diharapkan bisa menstabilkan suplai energi dari Jepang. Sedangkan bagi Indonesia, penandatanganan EPA diharapkan dapat mendorong investasi langsung dari Jepang di Indonesia, sekaligus mempererat hubungan dua negara. [SP/Elly Burhaini Faizal]


Last modified: 25/8/07