SUARA PEMBARUAN DAILY

Protes BBM Meluas, Militer Myanmar Bertindak

[YANGON] Junta militer Myanmar secara perlahan tapi pasti menindak pengunjuk rasa yang bergabung dalam aksi protes menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Lusinan orang sudah ditangkap aparat militer selama pekan ini. Kemarin aparat militer menangkap 10 aktivis di Yangon sebelum mereka memulai aksinya. Tetapi pengunjuk rasa yang sebagian perempuan tidak kapok dan akan terus melaju menentang militer.

"Masih akan ada lagi protes di masa mendatang," tukas seorang pengunjuk rasa. Para aktivis yang ditangkap di depan Balai Kota Yangon, kemarin, sebagian besar bergabung dengan kelompok baru yakni Komite Pembangunan Myanmar. Kelompok ini memulai protes pada bulan Februari dan menyerukan pelayanan kesehatan yang lebih baik, pembenahan kondisi sosial dan mengkritik kondisi ekonomi yang sangat mengimpor rakyat.

Protes menentang kenaikan BBM ini telah berlangsung selama seminggu. Hal ini merupakan pemandangan yang tidak biasa di Myanmar yang dikuasai oleh militer.

Protes-protes jalanan menentang kebijakan pemerintah sangat langka di Myanmar pada sembilan tahun terakhir ini. Keberanian rakyat Myanmar untuk melancarkan demonstrasi terus-menerus ini mencerminkan kemarahan yang mendalam dan kesulitan ekonomi yang semakin menjerat rakyat kecil.

Protes dalam beberapa hari ini membuahkan sedikit hasil. Pemerintah memerintahkan sejumlah perusahaan bus untuk menurunkan tarifnya. Padahal sebelumnya angkutan umum sudah menaikkan taris karena kenaikan harga BBM yang mencapai dua kali lipat.

Pada hari Kamis, pengunjuk rasa menggelar aksi di Yaynang Chaung, sebuah kota yang menghasilkan minyak. Protes di luar Kota Yangon merupakan kejadian langka.

Protes pada hari Jumat di kota kecil ini batal dilakukan karena pemerintah berjanji mengurangi tarif angkutan umum. Di Yangon, tarif angkutan umum juga diturunkan.

Junta militer Myanmar banyak dikritik karena berbagai pelanggaran hak asasi yang dilakukan. Sampai saat ini militer masih menahan tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi dan 1.200 aktivis lain.

Para pengunjuk rasa, yang banyak di antaranya merupakan pendukung pemimpin oposisi Suu Kyi, pada Kamis (23/8) berpawai untuk ketiga kalinya pada pekan ini. [AP/AFP/Y-2]


Last modified: 25/8/07