SUARA PEMBARUAN DAILY

Membangun Bangsa Melalui Keluarga yang Bermoral

dok sp

Kebersamaan keluarga dalam segala suasana adalah ladang subur untuk menumbuhkan pendidikan moral pada setiap individu.

[JAKARTA] Sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian yang dituangkan dalam UU Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional, dua lembaga sosial, masing-masing Fokus Pada Keluarga (FPK), afiliasi dari Focus on The Family, dan Lembaga Integrated Family Enrichment (LIFE), terpanggil ikut membangun bangsa dengan menjawab masalah-masalah dasar melalui keutuhan keluarga yang berlandaskan moral, dan bersama-sama membangun bangsa yang tangguh lewat keluarga.

Hari-hari kita belakangan ini, diwarnai tayangan infotainment yang membanjiri televisi. Persoalan rumah tangga yang porak-poranda, kawin-cerai, perselingkuhan, korban narkoba atau kekerasan, dikunyah-kunyah bagai bonbon. Tayangan itu menjadi santapan penonton televisi, yang bisa memunculkan ekses-ekses negatif karena melihat dengan gamblang contoh-contoh kasus dan menirunya.

Pemerintah mengakui, di masa lalu pembangunan ekonomi mengalami distorsi yang cukup serius, sehingga pertumbuhan yang dicapai tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan yang terdistorsi telah menimbulkan masalah sosial yang serius, seperti kemiskinan, disharmoni keluarga, tindak kekerasan, kerawanan sosial ekonomi, ketidakadilan terhadap perempuan, dan meningkatnya pengangguran.

Masalah-masalah sosial tersebut dapat melahirkan dehumanisasi dan melemahnya nilai-nilai serta hubungan antarmanusia. Lebih lanjut, semua masalah sosial tersebut telah menjadi hambatan utama bagi pembangunan ekonomi dan sosial.

UU 6/1974 tentang Pokok-pokok Kesejahteraan Sosial, yang selama ini menjadi landasan yuridis formal pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial, dipandang sudah kurang sesuai dengan keadaan dan arah kecenderungan perubahan sosial. Oleh karena itu, diperlukan UU Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional. Pertanyaannya, dari mana mulai membenahi bangsa yang belakangan ini mengalami kemerosotan di berbagai bidang, termasuk merosotnya moral dalam keluarga?

Menurut Jonathan Parapak, pendiri LIFE, ketangguhan suatu bangsa ada pada keluarga-keluarga. Untuk itulah lembaga pelatihan dan konseling bagi keluarga dengan dasar kekeristenan ini didirikan, agar keluarga semakin diperkaya, diperindah, dan diperda- yakan untuk memuliakan Tuhan.

"Lembaga ini sebenarnya sudah berjalan selama 3-4 tahun. Namun, tim kami masih mencari model dan uji coba di lapangan, barulah sekarang disosialisasikan secara formal," kata Parapak yang bertindak sebagai dewan penasehat sekaligus sebagai fasilitator pada setiap kegiatan.

Visi LIFE adalah memperkaya, memberdayakan, dan memperindah kehidupan keluarga demi memuliakan Tuhan. Sedangkan misinya menyiapkan para pemuda memasuki pernikahan dan kehidupan berkeluarga, menyiapkan pasangan muda menjadi orangtua, memperkaya kehidupan pernikahan, dan menyiapkan pasangan memasuki usia pernikahan perak dan emas, dengan tetap memuliakan Tuhan.

Menurut Parapak, keluarga Kristen pun tidak bebas dari masalah keluarga, bahkan sudah banyak yang bercerai. Perceraian itu sering disebabkan hal-hal yang tak terlalu mendasar, antara lain karena kebuntuan komunikasi. "Banyak pasangan yang kurang dipersiapkan untuk memasuki pernikahan," katanya.

Bentuk kegiatan LIFE, mulai dari pelatihan, lokakarya, seminar, training of trainer, retreat keluarga, kursus konseling, pelayanan konseling, in-house training hingga penerbitan buku/modul. Tim fasilitator selain Jonathan dan Anne Parapak, antara lain juga Pdt Ir Mangapul Sagala, Partogi Samosir, FX Ongkowijoyo, dan Siska Tampenawas.

Fokus pada Keluarga

Senada dengan itu, menurut Adryane dari FPK, lembaga perkawinan dibangun atas kehendak Allah secara permanen (tetap) antara seorang pria dan wanita. Oleh karena itu, keduanya harus tetap berkomitmen untuk setia dalam berbagai tantangan, demi ter-capainya kehidupan pernikahan yang langgeng dan harmonis.

"Anak merupakan warisan Allah, sehingga sebagai orangtua harus bertanggung jawab untuk membesarkan, membentuk, dan menyiapkan mereka menyongsong masa depan. Setiap kehidupan manusia sangat berharga dengan berbagai dimensi sejak di kandungan sampai meninggal," jelasnya.

FKP adalah sebuah lembaga afiliasi dari Focus on The Family, suatu wadah pelayanan keluarga internasional yang memiliki reputasi baik. Lembaga ini didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1977 oleh DR James Dobson, seorang psikolog terkenal, yang juga penulis beberapa buku terlaris, seperti The Love Must Be Tough, Dare to Discipline, When God Doesn't Make Sense, dan Bringing Up Boys.

Menurut Adryane, lembaganya didirikan dengan tujuan dan landasan berpikir untuk memberikan nilai-nilai moral terhadap kehidupan sebuah keluarga, antara lain bahwa suatu komunitas terbentuk atas tiga unsur, yaitu kehidupan beragama, keluarga, dan pemerintah.

"Kami memiliki misi menolong sebanyak mungkin setiap anggota keluarga untuk memelihara nilai-nilai tradisional, sehingga institusi keluarga dapat dipertahankan. Moto FPK adalah dedikasi bagi kelanggengan keluarga," tambahnya.

Media Pelayanan

Dia menjelaskan, bersama Focus on The Family di 15 negara, FKP memberikan pendidikan mengenai masalah-masalah keluarga melalui radio. Focus on The Family memulai pelayanannya di seluruh dunia melalui program-program radio, yang hingga kini telah disiarkan di 4.000 stasiun radio di seluruh dunia, seperti Australia, Belgia, Kanada, Kosta Rika, Afrika Timur (termasuk Kenya, Uganda, dan Tanzania), Mesir, Indonesia, Irlandia, Jepang, Korea, Malaysia, Belanda, Selandia Baru, Nigeria, Filipina, Singapura, Afrika Selatan (termasuk Bostwana, Lesoto, Malawi, Mozambik, Namibia, Zambia, dan Zimbabwe), Taiwan, dan Inggris.

Khusus untuk Indonesia, melalui program radio FKP hadir untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang bagaimana memelihara dan mengembangkan kehidupan pernikahan dan keluarga melalui program "Tips 2 Menit" dan talk show berdurasi 45 menit yang membahas berbagai topik aktual seputar kehidupan keluarga.

Adryane menjelaskan, saat ini ada 16.000 orang yang telah berkonsultasi dengan konselor FKP dengan berbagai persoalan. Pelayanan masyarakat terbuka setiap hari kerja, Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIB. Konsultasi dapat dilakukan dengan menghubungi telepon (021) 54202077, surat ke PO BOX 1996, JKB 11000, Jakarta Pusat, atau email ke famili@attglobal.net.

Selain itu, Fokus PKP juga menyediakan buku-buku, majalah, dan video yang bermutu. Buku-buku yang kami miliki terbit dalam dua bahasa, Inggris maupun Indonesia.

Sedangkan majalah-majalah, walaupun hanya dalam bahasa Inggris, namun disesuaikan dengan tingkat usia pembacanya agar mudah dipahami. Demikian juga dengan produksi video yang diproduksi dan dikemas dengan sangat menarik dalam bentuk cerita dan petualangan yang seru sehingga enak ditonton dan memberikan nilai edukasi yang tinggi.

FKP secara berkala mengadakan seminar dengan topik-topik yang menarik, dan penting untuk diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari para remaja, pasangan suami istri, hingga para orangtua.

Khusus untuk pelatihan, FKP menyediakan suatu kegiatan yang khusus ditujukan bagi para pembina kaum muda, guru-guru bimbingan penyuluhan, dan orangtua, untuk dilatih menjadi seorang pendamping (training for trainer), yang antara lain mengajarkan program berpantang seks sebelum menikah kepada kaum muda. Program ini agar terhindar dari konsekuensi yang merugikan akibat pergaulan seks bebas. "Semua ini bertujuan untuk membangun keluarga yang utuh," tandasnya. [R-8]


Last modified: 25/8/07