ugas berat menanti Letjen (Purn) Prabowo Subianto, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) hasil Musyawarah Nasional (Munas) ke-12, Jumat (24/8). Ketua Umum IPSI tak hanya dibebani tugas untuk mengembalikan prestasi pencak silat di ajang SEA Games 2007, tetapi juga merekatkan kembali semua unsur IPSI setelah muncul benih perpecahan di tubuh organisasi itu. Benih perpecahan muncul setelah 14 Pengurus Daerah (Pengda) dan tujuh perguruan silat historis hengkang dari arena Munas IPSI di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta Timur Jumat dini hari.
Mereka memutuskan pulang ke daerah masing-masing sebelum acara Munas berakhir pada Jumat siang. Mereka hengkang karena merasa ada yang tak beres dengan Munas yang berlangsung tanggal 21- 24 Agustus. Munas ke-12 ini berbeda dengan Munas sebelumnya. Hujan interupsi dan berubahnya jadwal dan tata tertib mewarnai Munas kali ini. Belum lagi isu politik uang yang berhembus di arena Munas. Namun untuk yang terakhir itu sulit dibuktikan. Ibarat gas, kita bisa mencium baunya tetapi tak bisa melihat bentuknya secara kasat mata.
Situasi Munas juga tak kondusif dengan terpolarisasinya peserta dalam dua kubu. Kubu yang mendukung Prabowo kembali menjadi ketua umum, dan kubu pendukung Rachmat Gobel yang sebelumnya menjabat Ketua Harian PB IPSI. Seorang peserta Munas sampai sedih melihat kondisi ini. Menurutnya Munas kali ini kehilangan nilai luhur dari pencak silat, yakni persaudaraan. Puncak dari kekecewaan 14 Pengda dan tujuh perguruan historis terjadi setelah ada pemaksaan dilakukan pemilihan ketua umum Kamis tengah malam hingga Jumat dini hari. Padahal seharusnya dilakukan Jumat siang sebelum penutupan Munas. Entah bagaimana jadwal agenda Munas yang sudah disepakati bisa dilanggar. Tetapi itulah yang terjadi.
Melihat situasi yang tak kondusif, Rachmat Gobel memilih mundur dari pemilihan. Menurut pengusaha asal Gorontalo itu apa yang dilakukannya semata menghindari terjadinya perpecahan di IPSI. Tindakan Rachmat meninggalkan Munas diikuti oleh kelompok pendukungnya.
Nasi sudah menjadi bubur. Di era kedua kepemimpinannya di IPSI, Prabowo harus bisa menyatukan kembali semua unsur yang berada di ambang perpecahan. Prabowo mesti menegakkan kembali nilai luhur yang diajarkan dalam silat, yakni berani membela yang benar, mencintai persahabatan dan perdamaian. Dia harus merangkul kembali unsur-unsur yang terlanjur kecewa dengan jalannya Munas. Dia juga mesti mampu mengembalikan rasa kepercayaan insan silat dunia yang tergabung di Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa) yang punya anggota di Asia, Eropa, Australia hingga Amerika.
Indonesia merupakan barometer pembinaan silat di mata insan silat dunia. Jalannya Munas di Jakarta tentunya juga dipantau oleh masyarakat silat internasional. Karena IPSI merupakan salah satu unsur pendiri Persilat. Ini penting dilakukan karena pencak silat punya misi masuk sebagai cabang olahraga bela diri internasional yang dilombakan di Olimpiade.
Prabowo juga sebaiknya merangkul kembali Rachmat Gobel, karena pria yang punya visi dan misi menjadikan pencak silat sebagai alat untuk mengangkat martabat bangsa dan mau menjadikan pesilat sebagai tenaga kerja terampil, tentunya memiliki kecintaan besar pada olahraga bela diri tradisio- nal ini. Semua tugas bisa dilakukan IPSI asalkan mereka tetap solid dan mengedepankan nilai luhur seorang pesilat.