[LEBAK] Sebanyak tiga orang asal Jakarta, yakni Poniman dan anaknya Iyus Saefudin, warga Jalan Sawah Liat Nomor 6, Kelurahan Tambora, Kecamatan Jembatan Lima, Jakarta Barat, serta Suta, warga Pluit, Jakarta Utara, yang diduga menjadi spekulan minyak tanah berhasil diamankan jajaran Reskrim Polres Lebak.
Mereka ditangkap di Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, Lebak, Kamis (23/8), saat akan bertolak ke Jakarta dengan membawa ratusan liter minyak tanah yang dikemas dalam puluhan jeriken plastik.
Tertangkapnya tiga orang spekulan itu berawal dari keresahan warga Lebak karena sering terjadinya kelangkaan minyak tanah di wilayahnya. Padahal, distribusi minyak tanah bersubsidi dari PT Pertamina berjalan lancar. Keluhan masyarakat itu langsung direspons Kapolres Lebak AKBP Dwi Gunawan, dengan memerintahkan anggotanya melakukan penyelidikan di lapangan.
Berdasarkan hasil penyelidikan itu, ditemukan fakta bahwa kelangkaan minyak tanah terjadi karena semakin maraknya spekulan minyak tanah yang berasal dari daerah lain di Lebak. Mereka membeli minyak tanah di Lebak dalam jumlah yang banyak, sehingga masyarakat setempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah.
Keluhan Masyarakat
Kasat Reskrim Polres Lebak AKP Sukirno di Lebak mengatakan, polisi menyelidiki berdasar keluhan yang disampaikan warga. Hasilnya, ditemukan spekulan minyak tanah yang berasal dari luar Rangkasbitung, yang sering beroperasi di wilayah Lebak.
"Kami berhasil menangkap para spekulan minyak tanah itu, dengan cara menyamar. Petugas Reskrim Polres Lebak menyamar menjadi penumpang Kereta Api Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Kami menemukan tiga calon penumpang yang membawa puluhan jeriken berisi minyak tanah," katanya.
Selanjutnya, tiga tersangka digelandang ke Mapolres Lebak berikut barang bukti berupa minyak tanah sebanyak 640 liter, yang terdiri dari 11 jeriken berisi 220 liter disita dari tangan Poniman dan Iyus, serta 20 jeriken dengan isi 420 liter minyak tanah dari tangan Suta.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan ketiganya mengaku terpaksa membeli minyak tanah dari Rangkasbitung karena di Jakarta minyak tanah sudah langka, menyusul pemberlakuan konversi minyak tanah ke gas elpiji oleh pemerintah," ujarnya.
Dipilihnya Rangkasbitung sebagai tempat untuk beroperasi para spekulan itu karena di Lebak stok minyak tanah masih banyak dan mudah dijangkau dengan menggunakan kereta api. Mereka mengaku membeli minyak itu dengan harga berkisar antara Rp 2.300 hingga Rp 2.500 per liter. Rencananya minyak tanah itu akan dijual di daerah mereka dengan harga antara Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter, jelasnya.
Ketiga tersangka akan dijerat dengan UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
"Para tersangka telah menyalahgunakan alokasi minyak tanah, dengan membeli jatah minyak tanah warga Kabupaten Lebak dan menjual kepada warga Jakarta. Kami akan terus mengusut kasus ini dan memburu sejumlah nama spekulan lain yang telah kami kantongi. Kami juga tengah mengusut pangkalan minyak tanah yang menjual minyaknya kepada para spekulan itu," tegasnya.
Sementara itu, Asisten II Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, Fauzan Rahim mengatakan, pemprov minta Pertamina daerah ini untuk menambah kuota bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis premium guna mengantisipasi terjadi kelangkaan bahan bakar tersebut di beberapa daerah tingkat II di Bengkulu.
Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir bensin sering mengalami kelangkaan di beberapa daerah tingkat II di Bengkulu, di antaranya di Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong, akibat jatah yang diberikan Pertamina tidak mencukupi kebutuhan masya- rakat. [BO/149/143]