[JAKARTA] Prospek bisnis besi tua di Jakarta masih menggiurkan karena kebutuhan pabrik terhadap besi bekas tersebut semakin besar. Persaingan harga antarsesama pengusaha besi tua semakin ketat.
"Saat ini, bisnis besi tua masih menggiurkan. Hal ini terlihat dari makin banyaknya pengusaha yang muncul dalam bisnis ini. Perang harga pun telah menjadi hal yang biasa ditemui antarsesama pengusaha demi mendapatkan pasokan yang lebih banyak dari para pemulung dan masyarakat, yang datang langsung menjual ke penampungan besi tua," ujar Amed Gunawan, pengusaha besi tua di wilayah Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pengusaha yang memiliki modal kecil akan semakin terpuruk karena persaingan harga tersebut. Amed menyebutkan, pengusaha yang memiliki modal kuatlah yang mampu merebut pasar besi bekas.
Amed, yang merupakan pemilik Usaha Dagang (UD) Istiakbar dan juga pemasok besi tua ke berbagai pabrik peleburan besi yang berada di wilayah Bekasi mengatakan, dia harus menyiapakan modal yang cukup besar untuk membeli besi tua. Tidak tanggung-tanggung, pengusaha asal Madura ini harus menyiapkan uang kontan sekitar Rp 200 juta per pekan untuk membayar berbagai jenis besi dan tembaga yang diantar langsung oleh penjual dan pemulung ke lokasi usahanya.
Amed telah menjalani profesinya sebagai pengumpul besi tua sejak 20 tahun lalu. Setelah lulus SMA di Surabaya, Jawa Timur, Amed mengaku datang mengadu nasib ke Jakarta dengan menumpang di rumah sepupunya yang juga berprofesi sebagai pemasok besi tua ke berbagai pabrik peleburan besi di Bekasi dan Tangerang.
Karena tak kunjung dapat kerja, Ia mencoba bekerja sebagai pemulung besi bekas. Setelah tiga tahun berkutat sebagai pemulung di jalanan, dari hasil simpanannya dia membeli sedikit tanah untuk dijadikan tempat penampungan besi tua. Dengan kerja keras, bisnisnya terus berkembang dan saat ini dia telah mampu mempekerjakan tujuh orang karyawan dengan gaji masing-masing Rp 1,2 juta per bulan.
Karyawan Amed yang selalu siap menerima setiap besi tua yang diantar langsung oleh masyarakat dan pemulung, terlihat begitu sibuk menimbang besi tua. Amed mengaku, dia tidak perlu capek lagi untuk pergi mencari para penjual besi tua.
"Penjual sendiri yang antar ke tempat ini. Para penjual merupakan langganan tetap bukan hanya berasal dari Kota Jakarta saja, juga berasal dari luar kota, seperti Bandung dan Banten," ungkap Amed bangga.
Ia menambahkan, usaha yang digelutinya mampu memasok besi tua sebanyak 100 ton per bulan yang akan dikirim ke pabrik peleburan besi. Sedangkan logam jenis tembaga biasanya dikirim ke penadah yang berada di Tanjung Priuk, Jakarta Utara untuk di ekpor ke luar negeri.
Harga besi yang dibeli oleh Amed cukup beragam. Harga besi tua sekitar Rp 2.000-2.300/kg untuk jenis yang bagus. Tembaga sekitar Rp 25.000-35.000/kg. Namun, kabel tembaga memiliki harga yang cukup berbeda, yaitu sekitar Rp 60.000-65.000/kg. Amed biasanya hanya mengambil untung sekitar 15-20 persen.
Sementara itu, Haryadi (56), yang berprofesi sebagai pemulung besi tua di wilayah Jakarta Timur mengaku, bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan setiap hari. Dengan gerobak dorong ukuran 2x0,5 meter, ia bisa mengumpulkan cukup banyak besi tua yang dibeli sekitar Rp 500-1.000/kg. [HTS/N-6]