[SINGAPURA] Negara-negara anggota ASEAN, Kamis (23/8) memulai pembicaraan tentang keamanan energi nuklir. Beberapa negara, termasuk di ASEAN, saat ini mulai melirik nuklir sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak dan gas.
Menurut Deputi Perdana Menteri Singapura S Jayakumar, harga minyak mentah yang terus naik dan tidak stabil di Timur Tengah dapat mengancam perekonomian negara-negara anggota ASEAN.
"Banyak negara ASEAN yang masih amat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Harga minyak yang tinggi dan pasokan energi yang tersendat menimbulkan dampak negatif dalam perkembangan ekonomi kita," tuturnya.
Jayakumar tidak menyebutkan secara terperinci agenda pembicaraan soal keamanan energi nuklir itu. Namun, kata dia, secara regional dan internasional perlu ada kesepakatan terkait isu tersebut.
Negara di ASEAN yang mulai melirik energi nuklir adalah Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Seorang pejabat senior Thailand mengatakan negaranya telah merencanakan pembangunan pembangkit tenaga nuklir sebesar 4.000 megawatt.
Instalasi itu diharapkan sudah dapat memasok listrik pada 2020. Menurut Deputi Menteri Energi Kurujit Nakornthap, Thailand melihat energi nuklir lebih efisien dan efektif dalam hal anggaran. Dampak lingkungannya pun relatif kecil. Namun, rencana itu mengundang protes dari sejumlah aktivis lingkungan Thailand. Menurut aktivis Greenpeace di Singapura, tenaga nuklir tidak hanya memerlukan biaya yang besar tapi juga sejumlah risiko.
"Kawasan kita sangat dinamis. Secara geografis kita terletak di Cincin Api (Ring of Fire) Pasifik dan sering mengalami gempa tektonik. Jadi, anda tidak bisa menjamin keselamatan instalasi nuklir di sini," ujar Nur Hidayati, aktivis Greenpeace. [AP/O-1]