![]()
AFP
Protes menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berlangsung beberapa kali dalam sepekan ini. Protes terus-menerus ini sangat jarang terjadi di negeri yang dikuasai junta militer yang memberangus kebebasan berpendapat. Sejumlah warga melancarkan aksi penentangan atas kenaikan harga BBM hingga dua kali lipat di Yangon, Kamis (23/8).
[YANGON] Kendati dikecam dan diancam junta militer, para pengunjuk rasa di Myanmar terus melancarkan protes atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam sepekan ini.
Protes-protes jalanan menentang kebijakan pemerintah adalah pemandangan yang sangat langka di Myanmar pada sembilan tahun terakhir ini. Keberanian rakyat Myanmar untuk melancarkan demonstrasi terus-menerus ini mencerminkan kemarahan yang mendalam dan kesulitan ekonomi yang semakin menjerat rakyat kecil.
Demonstrasi damai menentang kenaikan BBM kemarin sudah memasuki hari ke-3. Para pengunjuk rasa, yang banyak di antaranya pendukung pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi, kemarin berpawai untuk ketiga kalinya pada pekan ini guna memprotes keputusan junta militer Myanmar yang menaikkan harga BBM dua kali lipat pekan lalu.
Seperti biasanya, militer Myanmar menggunakan cara-cara tangan besi untuk menghadapi demonstrasi Kamis (23/8). Personel keamanan yang tidak berpakaian seragam serta sejumlah orang sipil bertampang keras menghentikan sekitar 40 orang, yang sebagian besar berasal dari partainya Suu Kyi. Pengunjuk rasa berjalan kaki tanpa membuat keributan sejauh tiga kilometer menuju markas partai mereka di wilayah timur Yangon.
Sejumlah aparat keamanan memerintahkan orang-orang di sekitar, khususnya para wartawan, untuk menjauh dari lokasi. Sempat terjadi ketegangan selama 30 menit antara aparat keamanan dengan para pengunjuk rasa. Para demonstran kemudian duduk di jalan beraspal, membentuk rantai manusia guna menghindari aparat yang memaksa mereka menaiki truk-truk dan bis-bis yang sudah menanti. Namun belasan pengunjuk rasa berhasil diciduk dan didorong paksa masuk ke beberapa kendaraan yang sudah disiapkan. Para wartawan yang meliput kejadian tersebut juga dikepung aparat keamanan yang meneriakkan kalimat-kalimat melecehkan. Para wartawan diperingatkan mereka juga bisa jadi sasaran penangkapan.
Jumlah pengunjuk rasa merosot ketimbang aksi yang digelar pada hari Rabu (22/8). Sekitar 300 orang ikut berpawai dalam aksi Rabu, kendati ada penangkapan 13 pimpinan aktivis yang membantu mengorganisir pawai. Beberapa ratus orang juga menggelar protes yang sama pada hari Minggu (19/8).
Protes damai pada hari Rabu akhirnya bubar ketika sekelompok pendukung junta militer menyerang beberapa demonstran memakai tongkat. Mereka juga menangkap delapan demonstran yang dituduh sebagai provokator, demikian ungkap sejumlah peserta aksi dan saksi mata. Delapan aktivis itu akhirnya dibebaskan tanpa terluka setelah diinterogasi aparat berwenang.
Ketidakpuasan ekonomi pernah menyulut pergolakan besar pada 1988. Saat itu demonstrasi besar-besaran yang menginginkan kepemimpinan militer di Myanmar yang berlangsung sejak 1962, diakhiri. Protes dihadapi dengan cara-cara kekerasan oleh tentara.
Pemerintah kerap menggunakan orang-orang sipil untuk menghadapi para demonstran. Taktiknya adalah memanfaatkan anggota Union Solidarity and Development Association (USDA), yang sebenarnya organisasi kesejahteraan sosial tetapi dikenal sangat dekat dengan junta, untuk menyerang dan mengintimidasi musuh-musuh junta. [AFP/AP/E-9]