![]()
SP/Noinsen Rumapea
Pengusaha Edwin Soeryadjaya ketika berkunjung ke Yayasan Soposurung, di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, menyempatkan diri makan bersama dengan para siswa lembaga pendidikan yang didirikan mantan Menpan TB Silalahi itu. Acara makan bersama merupakan salah satu tradisi yang ditanamkan yayasan ini sebagai bagian dari upaya membangun karakter peserta didiknya.
Pengantar
Penyelenggaraan pendidikan nasional tidak semata mentransfer ilmu dan pengetahuan serta teknologi kepada peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan harus bisa menumbuhkan semangat kebangsaan sebagai warga bangsa dengan karakter ke-Indonesia-an. Dua hal itulah yang diupayakan Yayasan Soposurung di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara seperti ditulis wartawan SP, Noinsen Rumapea dalam sorotan berikut ini.
ompleks Asrama Yayasan Soposurung (Yasop) di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara (Sumut) itu, terasa cukup nyaman. Lokasinya jauh dari jalan raya. Di belakang terdapat gunung yang kokoh, sementara di depannya, tak jauh dari lokasi ada tepi pantai Danau Toba, yang indah.
Tak terasa, selama 15 tahun berkiprah, asrama itu sudah menghasilkan 600 alumni, atau 15 angkatan. Sekitar 35 persen di antaranya telah menyelesaikan pendidikan di jenjang perguruan tinggi dari berbagia bidang ilmu.
Bahkan di antara alumni sudah ada yang meraih master, PhD, dan sebagainya. Kebanyakan alumni adalah sarjana teknik, mungkin karena ketika masih di bangku sekolah menengah atas (SMA), mereka mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA), jadi sebagian besar berminat ke arah sana.
Yayasan Soposurung adalah sebuah lembaga pendidikan yang dirintis oleh TB Silalahi. Sekolah dengan misi membangun karakter itu, setiap tahun merekrut 40 siswa berprestasi dari sekitar Sumut untuk disekolahkan di SMAN 2 Soposurung, Balige, dan diasramakan di asrama yang disediakan selama mereka sekolah di SMA. Semuanya dengan biaya gratis.
Mereka memperoleh fasilitas tempat tinggal, makan, seragam yang dipakai di asrama, kegiatan ekstrakurikuler, fasilitas ruang komputer dan internet. Di asrama para siswa mengikuti berbagai aktivitas atau pun kegiatan ekstrakurikuler.
Kini, empat tenaga pengajar yang ada di asrama dikhususkan mengajar ekstrakurikuler, kursus komputer, bahasa Inggris dan Mandarin, aksara Batak, karate, renang, pengembangan bakat, peraturan baris-berbaris, pendidikan kedokteran-kesehatan.
Mereka juga wajib menonton berita di malam hari, belajar bersama, belajar menari dan bernyanyi, seperti paduan suara dan olah vokal. Demikian juga melakukan kegiatan-kegiatan yang melatih kepemimpinan dan percaya diri, seperti naik gunung.
Jadi, asrama adalah tempat tinggal dan tempat mereka melakukan aktivitas atau pun kegiatan ekstrakurikuler, bukan sekolah. Tenaga pengajar yang ada di asrama hanya dikhususkan untuk mengajar ekstrakurikuler, contoh komputer, bahasa Inggris, Mandarin, Batak, pengembangan bakat, karate, dan aktivitas fisik lainnya.
Tenaga-tenaga pengajar tersebut juga merupakan alumni yang bertugas di asrama. Sedangkan pengajaran formal mereka dapatkan dari sekolah, yaitu SMAN 2 Balige. Tenaga pengajar yang ada di sana pun tentunya merupakan lulusan dari Institut Keguruan (IKIP) atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan (FKIP) di universitas. Gaji mereka rata-rata sama dengan guru PNS pada umumnya.
Nonmiliter
Pada awalnya, asrama dipimpin oleh tentara yang sengaja didatangkan ke sana untuk membina mental dan fisik siswa. Kini Kepala Asrama Yayasan Soposurung dipercayakan kepada alumni Yasop, Helen Hutagalung.
Setelah menyelesaikan kuliah di Akademi Pariwisata JIH dan melanjut ke Beijing Union University, Helen memilih mengabdi ke almamaternya. Dia dipercayakan membina siswa-siswi SMA itu di asrama, yang dihuni 120 orang siswa.
Kini semua yang mengurus asrama adalah alumni yayasan tersebut, selain Helen juga Wakil Kepala Asrama Halasan Sitorus, alumni USU jurusan teknik elektro, Alonso Manik, pembina, alumni USU jurusan arsitektur, Flora Panjaitan, dokter, alumni USU.
Tak sedikit alumni yang aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang membantu lingkungan sekitar kampung, melaksanakan try out bagi siswa SMP, latihan menghadapi ujian, membagi informasi perkuliahan, dan sebagainya," kata Helen.
Sejak berdiri sampai 12 tahun, mulai tahun 1992-2004 asrama dikelola oleh militer.
"Kini pengurus asrama adalah nonmiliter. Kedisiplinan yang diterapkan oleh militer juga bisa diterapkan oleh pengurus asrama yang nonmiliter, hanya saja dimodifikasi agar tidak terlalu kaku, karena anak-anak bukan tentara," ujar Helen.
Para orangtua dan anak-didik yang berhasil masuk ke sekolah itu, tentu sangat bersyukur. Sebab, sekolah itu telah terbukti mampu membangun karakter anak didik agar terus mengarah ke hal-hal yang baik.
Menurut TB Silalahi, 15 tahun lalu di Soposurung, tercatat sebuah sejarah berdirinya asrama Yayasan Soposurung yang bekerja sama dengan sekolah negeri, yakni SMAN 2 Soposurung Balige, dengan misi pembangunan karakter siswa.
"Memang waktu itu sudah ada sekolah Taruna Nusantara di Malang waktu itu, tetapi itu murni swasta. Ini pertama kali swasta menggandeng sekolah negeri untuk pembangunan karakter siswa," katanya.
Karenanya, Presiden Soeharto ketika itu, menetapkan SMAN 2 Soposurung, Balige sebagai sekolah percontohan dalam dua hal, yakni kerja sama swasta dengan pemerintah dalam pendidikan, dan kedua sekolah untuk membentuk karakter siswa.
Selain membina kerohanian, waktu itu, kepala asrama dipegang oleh militer dibantu beberapa stafnya siap menggembleng siswa untuk kedisiplinan. Misalnya, sikap menghormati kakak kelas dan orang yang lebih tua, disiplin dalam asrama, termasuk menata kamar tidur, latihan fisik, dan pembinaan mental lainnya. Di luar asrama pun mereka harus tetap menunjukkan sikap yang sopan dan tidak menyombongkan diri karena para siswa itu adalah orang-orang pilihan dari berbagai wilayah.
Salah satu contoh, saat makan bersama, harus dilakukan dengan cara militer, yakni dengan sikap tertib dan tetap siaga. Saat penyambutan siswa baru bulan Juli 2007, para siswa digabung dengan para tamu untuk makan bersama di ruang makan siswa. Meski terjalin percakapan yang akrab antara para tamu dan siswa, namun kedisiplinan tetap terjaga.
Bukan saja ilmu pengetahun yang mereka asah di sana, juga talenta, dari kegiatan-kegiatan yang keras seperti bela diri hingga kesenian yang membutuhkan bakat tertentu.
Bakat itu telah mereka tunjukkan saat penyambutan 40 siswa baru Yasop belum lama ini. Di hadapan para undangan, seperti pengusaha Edwin Soeryadjaya, Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah, Direktur PLN Sunggu Aritonang, pengusaha Jhon Aritonang, Bupati Tobasa Monang Sitorus, Bupati Taput Torang Lumbantobing, Bupati Nias, Binahati B Bahea, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Bupati Humbang Hasundutan Manatap Simanungkalit dan undangan lainnya. Mereka mempertunjukkan atraksi-atraksi yang memukau. Ada yang menari tradisional, modern, ketangkasan, dan sebagainya.
Tak sia-sia subsidi biaya yang secara rutin dikeluarkan oleh yayasan. Biaya operasional Yasop Rp 65 juta sampai 70 juta per bulan. Sumber dana tetap masih dari Letjen (Purn) Dr TB Silalahi, sebagai Ketua Dewan Pembina Yasop.
Donatur yang secara rutin menyumbang tidak ada. Namun, tak sedikit sumbangan yang telah diterima, di antaranya dari pengusaha-pengusaha besar dan kalangan pemerintah, yang pernah berkunjung ke Yasop, juga Pemda setempat.
Sekolah Internasional
Setelah 15 berkiprah, pemerintah melalui Depdiknas menetapkan SMAN 2 sebagai salah satu sekolah yang akan dipersiapkan menjadi sekolah nasional bertaraf internasional. Untuk itu, Yasop secara khusus mendatangkan guru-guru internasional untuk mengajar di SMAN 2 Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumut.
"Diharapkan guru-guru tersebut akan membantu mempersiapkan siswa menghadapi program internasional agar segera bisa menyesuaian diri, misalnya belajar dengan bahasa pengantar bahasa Inggris," kata TB Silalahi.
Selain itu, guru-guru internasional itu diharapkan bisa membantu guru-guru lokal beradaptasi dengan suasana internasional, baik dalam pengajaran, ilmu, maupun suasana. "Guru-guru internasional itu guru-guru yang telah berpengalaman mengajar di sekolah internasional, antara lain di Singapore International School di Jakarta. Mereka semua alumni Yayasan Soposurung sendiri. Jadi mempermudah komunikasi dengan sesama siswa, pengurus asrama, dan sebagainya," kata mantan Menpan itu.
Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ismeth Abdullah mengatakan, dia sangat salut kepada TB Silalahi atas keteguhan komitmennya membangun karakter bangsa melalui Yasop. Menurut Ismeth, apa yang dilakukan Yasop sangat tepat dilakukan di Kepri, seperti Batam dan pulau-pulau lainnya.
"Tak sedikit warga Kepri yang sekolah di Singapura, Malaka, Kuala Lumpur, Malaysia untuk memperoleh sekolah yang berkualitas. Kalau di Kepri ada sekolah seperti yang dikelola Yasop, tentu sekali warga Kepri tak perlu membayar mahal untuk sekolah di luar negeri," katanya.
Ismeth mengutarakan, dia sangat tertarik membangun sekolah sejenis di Kepri, apalagi sudah menerapkan kurikulum internasional.
"Mungkin kami bisa bekerja sama dengan Yasop untuk mengadopsi konsep yang digunakan di sini," katanya.
Memang, Yasop telah terbukti dengan konsisten mempertahankan bahkan meningkatkan mutunya selama 15 tahun. Tentu sekali, para alumninya memiliki tanggung jawab yang tidak kecil agar sekolah berasrama itu bisa tetap eksis. Kalau perlu, mereka mendirikan unit usaha untuk mendanai asrama, karena tidak mungkin selamanya Ketua Dewan Pembina yang mensubsidi. *