Pengantar
Pembangunan di Provinsi Papua terus dilakukan, termasuk di Kota Jayapura. Jutaan bahkan miliaran rupiah dana dikucurkan untuk mengejar ketertinggalan yang dialami rakyat Papua. Persoalannya, sudahkan itu dirasakan oleh seluruh rakyat Papua, termasuk mereka yang tinggal di Kampung Injjros.
Kampung ini sesungguhnya merupakan etalase Kota Jayapura. Dari puncak Gunung Skyline, kampung ini terlihat indah, namun sesungguhnya ada cerita duka di balik keindahan tersebut. Kampung itu jauh dari sentuhan Pemerintah Provinsi Papua. Padahal, kampung ini berada di pusat ibu kota provinsi dan berada di bibir Lautan Pasifik yang sesungguhnya menjadi wajah bagi Kota Jayapura. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi kampung ini dan budaya mereka, koresponden SP, Gabriel Maniagasi menuliskannya dalam sorotan kali ini.
![]()
SP/Gabriel Maniagasi
Warga Teluk Youtefa dari Kampung Enggros sedang mengambil air bersih dengan sebuah sampan. Gambar diambil baru-baru ini.
ahulu, sebelum ada pemisahan kampung-kampung di Teluk Youtefa, di wilayah Kota Jayapura semua warga di kawasan itu hidup bersama di sekitar Pantai Vim. Pantai Vim, oleh penduduk setempat menyebutnya sebagai Kampung Tua.
Dari Kampung Tua inilah kemudian seiring dengan perkembangan dan perubahan sosial mereka menyebar ke arah barat, yakni ke Assei dan Ifale di Sentani, lalu ke Tablasupa di Tanah Merah dan daerah-daerah yang sekarang menjadi bagian dari wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Jayapura. Sedangakan lainnya menyebar sampai ke beberapa tempat di sekitar teluk di wilayah Kota Jayapura, yakni Kampung Tobatji, Kayu Batu, dan ke Pulau Kuburan di depan Kampung Tabatji di Teluk Youtefa.
Kampung Injjros, sesungguhnya merupakan etalase Kota Jayapura di bibir Samudera Pasifik. Dari puncak Gunung Meer atau sepanjang Jalan Raya Abepura di Puncak Skyland kampung ini terlihat begitu indah, bahkan sering menjadi objek pengambilan gambar atau foto bagi pengunjung baru di Kota Jayapura. Kampung tersebut sesungguhnya memiliki sejarah panjang bagi pertumbuhan dan peradaban di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Meskipun rumah-rumah penduduknya didirikan di atas air, namun itu menjadi ciri khas masyarakat Injjros.
Dari puncak Gunung Skyline, kampung ini terlihat indah, namun sesungguhnya ada cerita "duka" di balik keindahan tersebut. Kampung itu jauh dari sentuhan Pemerintah Provinsi Papua. Padahal kampung ini berada di pusat ibu kota provinsi dan berada di bibir Lautan Pasifik yang sesungguhnya menjadi wajah bagi Kota Jayapura.
Cerita lain, sekarang kampung ini, nyaris menjadi fondasi jembatan layang yang akan dibangun untuk menghubungkan jalur jalan trans Jayapura Skow melewati Holtekamp. Lalu kampung ini menjadi daerah penampung limbah dari wilayah Kotaraja dan Abepura.
Tak bisa disangkal, pembangunan Pasar Sentral Youtefa di Kotaraja menjadi ancaman serius bagi biota laut di sekitar kawasan teluk, di mana sampah-sampah plastik banyak berserakan di pantai dan laut di Teluk Youtefa sehingga harus dicarikan solusi sebelum nantinya menjadi bencana.
Kampung kecil ini dikepalai seorang tokoh yang gagah berani, cerdas, dan berwibawa di mata rakyatnya. Tokoh adat ini oleh warganya disebut ondoafi atau dalam bahasa Injjros disebut Nugsori. Saat ini di kampung Injjros bertahta dua kekuasaan besar, yakni kekuasaan Pemerintahan Kota Jayapura melalui perpanjangan tangannya yakni kepala pemerintahan kampung dan kekuasaan adat oleh Nugsori.
Kepemimpinan
Kepala pemerintahan kampung dijabat Moses Hanasbey, sedangkan kekuasaan adat dikendalikan Nugsori Marthen Drunyi. Meskipun ada dualisme kepemimpinan di kampung, namun tidak menimbulkan pertikaian antarpemimpin karena jalinan koordinasi dan kerja sama antarkeduanya. "Kita tetap memosisikan diri sebagai mitra pemerintah, kita bukan musuh atau lawan dari pemerintah," tegas Drunyi.
Sejarah terbentuknya kampung ini, seperti diceritakan Drunyi, kira-kira pada abad XVII, di bawah pimpinan Nugsori Yaise bersama Ichsori Sanyi, Hancdoic Hanasbey, Hababuk dan Haay mereka menuju Injjros dan memberi nama bagi kampung tersebut.
Kampung ini disebut Injjros, yang dalam bahasa Melayu disebutkan Inj berarti tempat atau kampung. Sedangkan Jross berarti tempat kedua. Jadi, sebutan Injjros berarti kampung/tempat yang kedua setelah penduduk kampung ini berpindah dari tempatnya yang lama di kaki Gunung Meer di Vim.
Seperti di kampung lain di wilayah Tanah Papua, Injjros pun memiliki lembaga adat dan aturan yang mengatur kehidupan warganya. Misalnya saja untuk penyebutan bagi pemimpin adat. Sebutan ondoafi, itu sebutan untuk suku Tanah Merah, kemudian sebutan ondofolo untuk Suku Sentani, onto untuk Kampung Nafri dan di Injjros disebut Nugsori.
Secara struktur, masyarakat di Kampung Injjros dipimpin para pemimpin adat dengan jabatan yang baku dan tidak bisa digantikan sembarang orang. Artinya, hanya mereka yang memiliki garis keturunan Nugsori saja yang berhak menduduki jabatan adat tersebut.
Pemimpin yang tertinggi dipegang Nugsori atau sering disebut pemimpin/kepala kampung. Kemudian Chasori atau sekretaris adat, lalu Hancdoi atau kepala suku, dan Rowes atau sering disebut pesuruh (pembantu Nugsori).
Dari Jabatan adat yang disebutkan tadi, jabatan tertinggi ada pada Nugsori, kemudian Hanchdoich dan Rowes. Sebagai pemimpin tertinggi Nurch Syorich membawahi sekretaris adat, kepala suku, marga, dan Rowes, Hembisori kepala/panglima perang suku Merauje, kemudian Ichsori kepala/raja ikan Suku Sanyi, dan kepala/raja hutan Suku Itaar
Selain mengepalai atau menjadi pemimpin besar atas warganya di kampung, tentu saja Nugsori memiliki tugas dan tanggung jawab yang cukup berat untuk mengatur warganya agar hidup aman dan damai di kampung maupun dengan warga lain dari luar kampung mereka. Berikut adalah sebagian tugas dan tanggung jawab yang dimiliki seorang Nugsori yakni melindungi warganya dari berbagai ancaman, menyelesaikan perkara di kampung, melakukan pembangunan di kampung, melangsungkan pernikahan, serta penyelesaian sengketa.
Sedangkan tugas dan tanggung jawab kepala suku, hampir sama dengan tugas dan tanggung jawab seorang Nugsori yakni melindungi sukunya, membangun, Perkawinan dan Pembayaran Kepala. Hanya saja jangkauan wilayahnya tidak seluas Nugsori.
Untuk menjadi seorang Nugsori tidak semudah mencalonkan diri menjadi kepala kampung atau pemimpin sebuah organisasi. Jabatan seorang pemimpin adat biasanya diturunkan kepada mereka yang memang telah diserahi hak dan tanggung jawab untuk itu. Untuk seorang Nugsori tidak mutlak harus anak yang sulung, bisa anak kedua atau anak ketiga tapi masih dari keturunan Nugsori yang menjabat, alias masih hidup.
Terkait sistem pengambilan keputusan, nilai-nilai demokratis pun menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Karena ada hal-hal pokok yang biasanya membutuhkan pikiran dan pendapat dari kepala suku, sekretaris adat dan kepala pemerintahan masyarakat kampung Injjros, tapi ada keputusan yang langsung diambil Nugsori, tanpa harus melalui mekanisme pemberian pertimbangan dan saran dari kepala suku, dan staf adatnya.
Untuk urusan keamanan dalam struktur adat masyarakat Injjros, sesungguhnya menjadi tugas panglima perang. Segala kebesaran Nugsori dipagari panglima perang dengan segala keahliannya yakni biasanya fuifui melalui api, air, maupun angin yang didatangkan pihak luar maupun dari dalam masyarakat kampung sendiri. Panglima perang dalam keseharian disebut Hembisori.
Hembisori dengan segala yang dimilikinya menjadi benteng dan basis pertahanan kampung karena urusan keamanan adalah menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Karena keadaan sekarang tidak lagi terjadi perang seperti waktu yang lampau maka pertikaian dan percekcokan yang membutuhkan kekuatan otot menjadi urusan Hembisori.
Selain, Hembisori ada pula Rumroi atau Rowes yang sering disebut dengan istilah pesuruh. Sesungguhnya, Rowes adalah orang yang dekat dengan pusat kekuasaan yakni Nugsori.
Pesuruh adalah orang rumah dalam keseharian dipanggil Rumroi/Rowes, maksudnya ia walaupun dekat dengan pusat kekuasaan namun dalam perundingan ataupun penyelesaian persoalan di para-para adat, Rowes tidak diperkenankan mengambil keputusan.
Ia sangat tahu dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Di atas para-para adat (Tetch), Rowes tidak dibenarkan berbicara. Dia hanya menjadi orang yang siap untuk melakukan pekerjaannya.
Menurut Nurch Syorich Marthen Drunye, Rowes telah mengetahui tugasnya. Sehingga untuk sebuah acara yang akan digelar di kampung atau ada peristiwa kedukaan maka Rowes telah mengetahui dengan benar apa yang telah dikerjakannya turun temurun.
Umumnya, tugas Rowes ada terbagi pada setiap mata rumah/keret/marga karena ada mata rumah satu, dua dan tiga. Seperti di rumah besar Drunye, maka suku Merauje yang menjadi Rowes, sedangkan di Rumah Sanyi, suku Semra yang mengabdi, dan seterusnya dan yang dikerjakan pesuruh terbagi dua, yaitu untuk urusan ke dalam dan ada yang untuk urusan ke luar.
Untuk urusan ke luar, seperti membawa informasi kepada kaum keluarga tentang berita duka, buka meja/tikar dan rapat-rapat besar yang terjadi para-para adat (rumah besar) dan di suku-suku. Juga kalau ada persoalan dengan kampung lain seperti masalah tanah dan juga untuk urusan perkawinan.
Untuk menjadi Rowes yang melakukan urusan pernikahan biasanya seorang Rowes itu memiliki kemampuan di antaranya pandai berdiplomasi atau pandai berbicara, berpenampilan baik, memiliki pengaruh, ramah, dan sopan serta pandai mengambil hati orang. Sedangkan untuk urusan ke dalam, Rowes bertugas menyiapkan segala sesuatu tentang keberlangsungan acara yang dilakukan di rumah besar maupun keret.
Untuk dilantik menjadi Nugsori, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Syarat itu adalah pelaksanaan pelantikan harus disaksikan langsung masyarakat adat, kemudian warga harus berkumpul di para-para adat (tempat pertemuan khusus), ada pemukulan tifa besar sebanyak 3 kali dan sebut Meer. Meer adalah gunung tinggi di depan kampung yang menurut kepercayaan masyarakat Injjros adalah pusat dari semua peradaban Yang Tuhan Allah taruh bagi mereka.
![]()
Ant/Oka Barta/NZ/07
Sejumlah wanita Papua sedang menurunkan sayur-mayur dari mobil angkutan pedesaan yang kemudian akan dijual di Pasar Youtefa, Abepura. Para wanita ini berasal dari kawasan daerah pegunungan tengah Papua dan biasanya mereka berjualan pada sore hari.
Inisiasi
Terkait upacara adat, biasanya dilakukan pada saat keberhasilan seperti upacara inisiasi, upacara buka lautan untuk panen ikan, upacara panen hasil kebun baru, upacara kemenangan dalam peperangan. Upacara adat yang dilakukan pada pelantikan Nungsori, pelantikan kepala suku (Hancdoi) dilakukan sebelum peti jenazah seorang Nugsori ditutup untuk dimakamkan.
"Jadi, kita berbicara dipinggir jenazah supaya anaknya yang sulung dapat dilantik menggantikan dirinya," jelas Drunyi.
Menurut Drunyi, hal ini merupakan ketentuan adat yang wajib dilaksanakan. Walalupun perubahan sosial demikian merasuk hingga ke sendi-sendi adat masyarakat Injjros, namun yang namanya aturan adat, tetap dilaksanakan. Keputusan adat di para-para adat merupakan keputusan tertinggi dari hukum nasional atau peraturan daerah. Meskipun demikian, ia juga mengakui bahwa tidak semua aturan dan ketentuan adat sampai saat ini masih dipegang teguh generasi sekarang.
Ada beberapa hal yang sudah hilang ditelan peradaban modern, misalnya saja inisiasi adat untuk anak-anak laki-laki maupun anak-anak perempuan. Sesungguhnya inisiasi merupakan "sekolah adat" untuk membentuk seorang anak laki-laki dan perempuan menjadi manusia Injjros sejati yang tahu diri dan bertanggung jawab bila kelak telah beranjak dewasa.
Inisiasi adalah proses pendidikan dasar yang diberikan secara khusus bagi anak-anak di kampung, namun seiring adanya perubahan peradaban maka urusan inisiasi dialihkan ke sekolah-sekolah formal sehingga anak-anak tidak saja mendapat pendidikan secara adat tapi juga pendidikan formal dalam berbagai tingkatan. Diharapkan itu dapat menjadikan mereka sebagai anak-anak cerdas yang berpengaruh dan dapat dipercaya pemerintah menduduki jabatan-jabatan penting dan strategis di pemerintahan untuk melayani kepentingan banyak orang.
Menurut Drunyi, meskipun sebagian telah hilang, namun eksistensi lembaga adat masih tetap terjaga dan terpelihara sehingga pemerintah masih menjalin hubungan kemitraan dengan lembaga adat di kampung Injjros untuk melaksanakan pembangunan, pelayanan masyarakat dan pelaksanaan roda pemerintahan di Kampung Injjros. "Ini bukti bahwa pemerintah mengakui keberadaan lembaga adat to," ujarnya.
Terkait adanya Lembaga Masyarakat Adat (LMA) bentukan pemerintah, dia mengatakan, saat ini sudah tidak diakui lagi. Sesuai dengan keputusan Dewan Adat se-Papua pada 2006 menyatakan bahwa LMA bentukan pemerintah dihapus dan lembaga adat yang berada di kampung itulah yang dinyatakan benar dan sah secara adat. *