SUARA PEMBARUAN DAILY

Ozon, Payung Dunia yang Kian Terkoyak

Pengantar

Setiap tanggal 16 September, masyarakat dunia memperingati Hari Ozon Sedunia. Peringatan ini dimaksudkan untuk menggugah kepedulian masyarakat internasional tentang lapisan perisai bumi tersebut. Masalah tersebut menjadi bahasan Regional Media Workshop in Ozone and Climate Change Lingkages yang digagas oleh United Nations Environment Programme (UNEP) di Singapura, pertengahan April lalu dan ulasannya dituliskan wartawan SP, Willy Masaharu berikut ini.

AFP/Vinai Dithajon

Kebakaran hutan seperti yang terjadi di Pekanbaru, Riau, mempercepat kerusakan ozon.

Ozon merupakan salah satu senyawa oksigen (O3) yang berfungsi menghalangi emisi sinar ultraviolet matahari yang berlebihan. Gas ozon tersebar pada lapisan Stratosfer (pada ketinggian 20 - 50 km dari permukaan bumi). Ozon merupakan senyawa berbahaya apabila terhirup manusia. Namun, adanya gas ini di atmosfer justru menjadi perisai terhadap gelombang sinar ultraviolet B dan C yang berbahaya bagi makhluk hidup di Bumi.

Kerusakan lapisan ozon terdeteksi pertama kali pada pertengahan tahun 1974, ketika para ahli dan peneliti dari Inggris mengumumkan, lapisan ozon di atas Hally Bay, Antartika menunjukkan adanya penipisan yang drastis. Antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1970 terukur rata-rata lapisan ozon sebesar 300 DU (Dobson Unit). Akan tetapi, dalam kurun waktu Oktober 1978 sampai Oktober 1984, lapisan ozon terukur mencapai titik terendah sebesar 125 DU (100 DU setara ketebalan 1 mm gas ozon mampat).

Penipisan lapisan ozon yang drastis di Antartika sering disebut dengan istilah "lubang ozon". Dalam citra satelit, kadar ozon yang rendah tersebut menyerupai sebuah lubang.

Pada akhir tahun 2002, majalah terkemuka The Straits Times melansir hasil penelitian para ilmuwan mengenai lubang ozon. Para ilmuwan menemukan, lubang ozon semakin menganga lebar. Di belahan Antartika misalnya, lubang di lapisan ozon bertambah menjadi 23 juta km persegi (setara lebih dari luas Amerika Utara). Padahal pada periode yang sama pada tahun 1998 lubang ozon masih kecil.

Salah satu zat utama yang bertanggung jawab terhadap kerusakan lapisan ozon adalah unsur Klorin (Cl). Unsur ini secara luas digunakan sebagai cairan pendingin pada freezer, kulkas, AC ruangan, dan mesin pendingin lainnya, serta dikenal sebagai zat CFC (Chlorofluorocarbon).

Secara alami, reaksi pembentukan dan penguraian ozon terjadi secara seimbang terus menerus selama berabad-abad. Bertambahnya zat perusak ozon atau Ozone Depleting Substances (ODS) semisal Cl mengubah keseimbangan reaksi yang terjadi, sehingga laju penguraian ozon lebih cepat dibandingkan laju pembentukannya. Hal ini menyebabkan menurunnya konsentrasi lapisan ozon di atmosfer.

Menurut hasil penelitian, satu atom Cl dapat menguraikan sampai 100.000 senyawa ozon dan bertahan sampai 50 tahun di atmosfer. Zat-zat perusak ozon (ODS) utama yang bertanggung jawab terhadap perusakan ozon antara lain CFC, Halon (digunakan dalam cairan pemadam kebakaran), dan Dinitrogen dioksida (N2O).

Kemampuan ODS merusak lapisan ozon secara umum disebut Ozone Depleting Potential (ODP). Nilai ODP dari beberapa bahan ODS biasanya dibandingkan relatif terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan CFC. Semakin besar nilai ODP bahan-bahan tersebut semakin berpotensi untuk merusak lapisan ozon.

Bahaya Kerusakan

Kerusakan lapisan ozon di stratosfer akibat ODS menyebabkan semakin banyak sinar UV yang mencapai Bumi. Hal ini sangat berbahaya terhadap kelangsungan makhluk hidup di Bumi. Sinar ultraviolet dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kanker kulit, kerusakan mata, penurunan kekebalan tubuh dan perusakan sel-sel hidup pada manusia dan hewan.

Menurut peneliti sains kimia pada National Oceanic and Atmospheric Administration/Badan Kelautan dan Atmosfer (NOAA) Amerika Serikat Dr David Fahey, kerusakan lapisan ozon global kian mengkhawatirkan. Namun, dengan adanya penerapan ketat dari Protokol Montreal, yang salah satunya adalah pengetatan penggunaan bahan-bahan perusak ozon, maka kondisi ozon bisa dipulihkan.

Meskipun demikian, katanya, masyarakat harus mengubah mindset (pemikirannya) untuk tidak lagi menggunakan bahan-bahan aktif kimia perusak ozon. Misalnya, freon/chlorofluorocarbon (CFC).

"Kondisi ozon memang sudah mengkhawatirkan. Namun, pada pertengahan abad ini, kondisi lapisan ozon kemungkinan akan kembali seperti tahun 1960-an dengan catatan pengetatan dan pengendalian penggunaan bahan perusak ozon tetap terkontrol," kata David, dalam perbincangan dengan SP, di sela-sela acara Regional Media Workshop in Ozone and Climate Change Lingkages yang digagas oleh United Nations Environment Programme (UNEP) di Singapura, Selasa (17/4).

David menerangkan, NOAA secara berkelanjutan meneliti lapisan ozon dengan memanfaatkan pemantauan satelit. Hasilnya, menjadi bahan laporan kajian ilmiah kerusakan ozon tahun 2006. David mengemukakan, temuan-temuan NOAA mengenai pemulihan ozon dianggap sebagai kabar baik bagi dunia. "Kabar baik ini tepat 20 tahun sejak Protokol Montreal ditandatangani tahun 1987 lalu. Masyarakat dunia juga harus mengubah mindset-nya agar mulai meminimalisasi penggunaan zat-zat yang mampu merusak lapisan ozon," katanya.

David menjelaskan, pemulihan lapisan ozon berarti kehidupan di bumi kembali nyaman karena penghuninya bisa terhindar dari berbagai ancaman. Misalnya, kanker kulit dan dampak masif radiasi ultraviolet lainnya.

Mata rantai dampak penipisan lapisan ozon berikutnya adalah terjadinya pemanasan global (global warming), karena kemampuan laut menyerap CO2 semakin berkurang. Pemanasan global ini ditengarai sebagai penyebab ketidakseimbangan iklim. Pada suatu tempat terjadi bencana kekeringan, dan di tempat lainnya terjadi bencana banjir.

Sepanjang abad ke-20, terjadi 10 kasus tahun terpanas hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas di abad ke-20, yang menyebabkan terjadinya musibah kebakaran hutan di Indonesia, Brasil, Australia dan kemarau panjang yang memusnahkan panen seperti di benua Afrika.

David memprediksikan, dengan sikap konsistensi pada Protokol Montreal maka pada tahun 2010 akan mampu menekan potensi emisi pemanasan global hingga mencapai sekitar 11 gigaton karbon dioksida (CO2) pada setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 5-6 kali target pengurangan CO2 dalam skema Protokol Kyoto periode pertama (2008-2012).

Berdasarkan data Sekretariat Ozon UNEP tahun 1990-2000 menunjukkan, pelaksanaan Protokol Montreal berhasil menekan emisi sebanyak 25 miliar ton CO2. "Ini menunjukkan bahwa komunitas dunia dapat menyelamatkan bumi ini dari ancaman besar," kata Sekretaris Eksekutif Sekretarit Ozone UNEP Paul Horwit.

Sementara itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi kenaikan temperatur mencapai 2,5 derajat Celcius sampai 10,4 derajat Celcius untuk periode seratus tahun mendatang. Selain itu, diramalkan akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter pada tahun 2008. Daerah yang rawan terhadap dampak ini terjadi di Asia Selatan dan Tenggara, sepanjang pantai Selatan Mediterania, pantai Barat Afrika dan dapat mengakibatkan tenggelamnya ratusan pulau-pulau kecil.

Bangsa Indonesia telah meratifikasi hasil dari berbagai kesepakatan internasional antara lain konvensi Wina, protokol Montreal dan amendemen London tentang penanggulangan kerusakan ozon. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Indonesia berkewajiban untuk menggantikan refrigerant yang mengandung Cl sampai tahun 2010. Meskipun demikian pemerintah telah mempercepat jadwal penghapusan refrigerant ini sampai akhir tahun 2007.

Usaha Pencegahan

Pertama, menghemat penggunaan energi. Kedua, manfaatkan sumber energi lain di luar BBM, seperti angin, ombak laut, panas bumi, panas matahari, dan lain-lain. Ketiga, Kendalikan pertambahan penduduk. Hingga produksi limbah yang mengotori lingkungan akan terkendali. Agaknya ini harus bersama-sama dengan keberhasilan usaha menurunkan angka kematian usia anak masih tinggi? Hingga keluarga-keluarga masih selalu dihantui kekhawatiran kehilangan anak.

Keempat, usahakan pengurangan produksi CO2, dengan mencegah pembakaran hutan dan mengurangi produksi kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak. Kelima, menyadari masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pemeliharaan kesehatan lingkungan. Untuk ini perlu penyuluhan yang berkelanjutan oleh tenaga profesional. Penyuluhan ditujukan pada masyarakat di negara maju dan golongan ekonomi mampu.

Keenam, meskipun negara berkembang masih berjuang mengatasi kemiskinan pengetahuan mengenai kesehatan yang masih kurang, penyediaan air bersih dan makanan yang sehat dan seimbang, penyehatan lingkungan juga sudah mendesak untuk diatasi. Ketujuh, peranan pihak penguasa ditingkatkan.

Apakah akan kita biarkan perusakan dan pencemaran lingkungan berlanjut? Atau memang betul bahwa manusia termasuk makhluk yang menganiaya diri sendiri. *


Last modified: 23/5/07