
[JAKARTA] Sinetron dan film lokal masih menempati posisi teratas dalam perolehan rating televisi di Indonesia. Tetapi perolehan tersebut tidak seiring dengan keinginan pemirsa untuk mendapatkan tayangan yang menghibur dan mendidik. Tingginya angka rating sinetron dan film lokal itu karena keduanya ditempatkan pada prime time yang memiliki pemirsa potensial lebih banyak dibanding waktu lainnya.
"Pemirsa tidak memiliki pilihan yang layak untuk mendapatkan tayangan yang menghibur dan mendidik. Stasiun televisi cenderung berlomba-lomba merebut rating dengan karakter yang sama, sehingga pemirsa mendapatkan tayangan yang sejenis di semua stasiun televisi pada jam yang sama," ujar dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Deddy Mulyana, di Jakarta, Selasa (22/5).
Pola ikut-ikutan antara stasiun televisi sebenarnya sudah terlihat lama, pemirsa pun sudah bisa melihat kecenderungan itu, namun menurut Deddy sampai saat ini stasiun televisi belum berani melakukan terobosan merebut hati pemirsa dengan tayangan yang berbeda.
Sebuah survei yang dilakukan AGB Nielsen pada pertengahan 2006 lalu di masyarakat Jakarta dan sekitarnya, terlihat bahwa pemirsa menginginkan tayangan sinetron drama, sinetron misteri/horor, serta tayangan gossip/infotainment untuk dikurangi karena dinilai tidak memberikan hiburan dan tidak mendidik.
Survei lanjutan pada kuartal pertama tahun 2007 yang dilakukan oleh lembaga yang sama menunjukkan stasiun televisi membaca keinginan pemirsanya. Jumlah tayangan sinetron drama misteri dan infotainment berkurang.
Untuk sinetron misteri/horor yang pada semester pertama 2006 berjumlah 468 episode, pada awal tahun hingga April 2007 hanya 155 episode saja. Hal yang sama juga terjadi pada infotainment.
Pada semester pertama 2006, ada 7.713 episode, sementara pada Januari hingga April 2007 jumlahnya menciut menjadi 3.390 episode saja. Survei terhadap rating pada program-program ini di sepuluh kota besar di Indonesia pun memperlihatkan adanya penurunan, seperti yang terjadi pada tayangan Silet, Kabar Kabari, Cek & Ricek, serta Bibir Plus.
Berbeda dari keduanya, tayangan program anak justru menjamur belakangan ini. Jika pada semester pertama 2006 hanya berjumlah 10.048 episode, pada bulan Januari hingga April 2007 saja sudah mencapai 9.913 episode. Jumlah itu akan terus bertambah hingga akhir semester pertama tahun ini.
Belanja Iklan
Anggapan umum yang beredar adalah stasiun televisi akan berpatokan pada rating tayangannya, jika suatu tayangan tidak memperoleh rating yang memuaskan maka stasiun televisi bisa dengan sekejap menghapus tayangan itu dan diganti tayangan lain. Rating menjadi penentu hidup matinya sebuah tayangan. Hal ini terjadi karena rating dijadikan pedoman oleh pengiklan agar pesan dagangnya secara efektif dapat diterima dengan baik.
Menurut Associate Director Marketing & Client Service AGB Nielsen Media Research, Hellen Katherina, pengiklan memang mencari efektivitas kampanye iklannya dengan memilih program yang paling banyak ditonton. Namun sebenarnya tinggi rendahnya jumlah penonton itu sangat tergantung dari jam tayang, seperti prime time.
"Tetapi ternyata program yang memiliki rating lebih tinggi belum tentu memiliki pendapatan iklan yang lebih besar pula. Ada faktor lain yang lebih diperhatikan oleh pengiklan," ujarnya.
Faktor-faktor itu, menurut Henny adalah kesesuaian antara target produk dengan target pemirsanya, serta citra program.
"Seperti contoh iklan elektronik, akan lebih efektif jika ditayangkan pada program yang talkshow gaya hidup elektronik, karena citra tayangan itu sama dengan citra produk. Akibatnya meskipun tayangan itu tidak memiliki rating tinggi tetapi belanja iklan yang diperoleh cukup besar," jelasnya.
Henny menyimpulkan bahwa rating bukanlah faktor yang menyebabkan munculnya tayangan-tayangan yang berselera rendah, seperti yang dituduhkan selama ini. Program apapun yang pernah popular, suatu hari nanti pasti akan menurun. Karena secara alami pemirsa memiliki tingkat kejenuhan tersendiri. [K-11]