[JAKARTA] Berbagai komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan gagal atau terhambat diekspor karena minimnya fasilitas rantai pendingin (cold chain). Minimnya jaringan pendingin menyebabkan 50-60 persen komoditas buah dan sayuran segar rusak di sepanjang rantai distribusi di dalam negeri.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Syukur Iwantoro, kepada SP, di Jakarta, Rabu (23/5).
Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif ARPI Hasanuddin Yasni dan anggota Dewan Kehormatan ARPI Suryana Sofyan.
Syukur menjelaskan, produk-produk pertanian sangat sulit bersaing di pasar internasional terutama yang melalui bandara. Karena sama sekali tidak ada fasilitas ruang pendingin di seluruh bandara Indonesia . Selain itu, biaya pengangkutan lewat udara per meter persegi di Indonesia termahal di dunia.
"Akibatnya, produk pertanian Indonesia sulit bersaing di luar negeri, bahkan sudah kalah dari awal. Mangga asal Surabaya di pasar Singapura, misalnya, lebih mahal ketimbang mangga asal Israel," ujar Syukur yang juga Kepala Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian.
Dia memaparkan, produk-produk pertanian yang banyak peminatnya namun mudah rusak, seperti tanaman hias dan bunga, ternyata ditempatkan bercampur dengan produk lain seperti furniture pada ruangan dan dengan suhu yang sama. Sehingga banyak yang layu sebelum dikirim.
Apapun yang dilakukan petani untuk memperbaiki mutu, dia mengingatkan, kalau pola distribusinya sampai di bandara masih seperti saat ini, sampai kapan pun Indonesia tidak akan mampu bersaing untuk produk hortikultura. Indonesia kalah dari negara-negara tetangga yang sudah lama menerapkan rantai dingin.
Menurutnya, Vietnam dan Thailand berkembang pesat ekspor pertaniannya karena dukungan dan koordinasi yang sangat baik, seperti departemen pertanian, perdagangan, perindustrian, perhubungan, juga dari pengelola bandar udara, pelabuhan, dan maskapai penerbangan.
Mesir, katanya, dalam waktu singkat juga berhasil mengembangkan rantai dingin pada jaringan pemasaran buah-buahannya sehingga bisa menghemat kehilangan akibat pembusukan sampai 40 persen. Negara ini berhasil meningkatkan ekspor buah-buahan segar, dengan biaya murah dan mendapat keuntungan besar.
Perlu Dukungan
Suryana mengingatkan, untuk membangun jaringan rantai dingin yang kuat dan terpadu, diperlukan dukungan dari semua pihak. Selama ini, sekitar 60 persen buah dan sayuran terbuang karena pembusukan. Dengan adanya rantai dingin, petani akan terpacu meningkatkan produksi dan bisa mendapatkan banyak keuntungan, ekspor pun akan meningkat.
Menurutnya, produk pertanian segar Indonesia mempunyai prospek sangat besar diekspor ke Uni Eropa, AS, Jepang, dan Timur Tengah. Permintaan produk buah-buahan asli Indonesia seperti mangga, manggis, rambutan, dan produk eksotik lainnya, serta produk perikanan sangat tinggi.
Namun, dia mengungkapkan, pengiriman mangga ke Timur Tengah membutuhkan waktu sekitar 24 hari, sementara untuk pengumpulan di Indonesia memerlukan waktu 3-4 hari, dan untuk distribusi di tempat tujuan membutuhkan empat hari. Sehingga diperlukan waktu sekitar sebulan sejak buah dipetik, dan sampai konsumen kualitas buah bisa anjlok.
Yasni mengatakan, pangsa pasar dalam negeri juga besar. Adanya pertumbuhan supermarket yang mencapai 15 persen per tahun, dibutuhkan banyak produk pertanian segar. Saat ini saja di Indonesia terdapat sekitar 100 hipermarket, lebih dari 350 supermarket, dan lebih dari 3.000 minimarket yang tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota.
ARPI, kata para pengurusnya, ingin membantu target pemerintah meningkatkan ekspor produk pertanian sebesar 14,7 persen. Namun, target itu akan sulit dicapai tanpa langkah-langkah konkret dari pemerintah maupun pengusaha yang bergerak di jaringan rantai dingin. [S-26]