
delia (15) dan be- berapa temannya asyik memerhatikan layar proyektor. Di layar proyektor itu terpampang blog dirinya dan beberapa temannya yang juga bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Malang, Jawa Timur. "Blog-blog ini sudah bagus. Sudah berbahasa Inggris, bahasa internasional. Tetapi bagaimana kalian bisa tahu bahwa blog kalian ini pernah dibaca orang?" tanya Kwarta Adimphrana, guru Multimedia di SMKN 4 Malang baru-baru ini.
Kemudian, Kwarta pun menerangkan agar dalam pembuatan blog, diupayakan sehingga pemilik blog bisa mengetahui blog-nya itu sudah dibuka dari mana saja dan oleh siapa? "Juallah diri kalian dalam blog. Besok-besok, orang mencari kerja tidak melalui surat lamaran lagi tetapi melalui blog. Dengan blog, kita selangkah lebih maju karena siapapun bisa mengaksesnya," katanya.
Ada banyak cara memang untuk maju. Kuncinya cuma satu, yakni kemauan. Itu juga yang
Dilakukan Kwarta, murid-muridnya dan guru-guru di Kota Malang. Bahkan yang tampaknya tengah dicoba galang oleh ratusan sekolah di Kota Malang Jawa Timur adalah online bersama pada 17 Agustus tahun ini.
Pada tanggal yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia ini, sebanyak 500 sekolah yang terdiri dari sekolah dasar, menengah, atas dan kejuruan, akan online. Proyek yang dinamakan Malang Merdeka online itu, memang akan membuat ratusan sekolah di kota itu, dapat diakses dan mengakses internet. "Kegunaan online itu, tidak hanya untuk kepentingan administrasi untuk mengirim data dari sekolah-sekolah ke Departemen Pendidikan Nasional saja," kata Kwarta Adimphrana.
Katanya, kegunaan online itu antara lain untuk meregistrasi siswa melalui nomor induk siswa, memberi informasi bagi guru demi pengembangan karier mereka sebagai pengajar apabila hendak melanjutkan pendidikan dan meregistrasi nomor pokok sekolah.
Proyek Malang Merdeka itu tak bisa lepas dari sosok Kwarta. Awalnya, hanya 40 sekolah yang online. Itupun pengelolaan content, admin komputer dan pelatihan sumber daya manusia yang menjalankannya, dilakukan oleh Kwarta. Hal ini karena minat dan penguasaan guru-guru di bidang teknologi informasi, masih minim. "Bahkan, di tingkat pengajar di sekolah dasar, 80 persen masalah yang dihadapi adalah, guru-guru tidak bisa mengoperasikan mouse," katanya.
Menurutnya, jaringan internet sebetulnya telah masuk di sekolah-sekolah, sejak tahun 2000. Pada tahun itu, Kwarta mulai menangani program teknologi informasi (TI) karena saaat itu, belum ada guru yang 'berani' memegang dan mengoperasikan komputer karena kendala Bahasa Inggris. Setelah mengikuti pelatihan TI untuk tingkat SMK di Bandung, Kwarta pun ditunjuk menjadi anggota Tim Percepatan Internetisasi SMK se-Indonesia, bersama empat guru lainnya.
Setahun kemudian, orang-orang yang bergerak di bidang TI dan pelaku TI di Kota Malang dikumpulkan. Hasilnya, pada tahun 2002, Penerimaan Siswa Baru, sudah bisa dilakukan secara online sehingga mereka yang mendaftar di suatu sekolah, dapat melihat pengumuman penerimaan siswa baru di suatu sekolah itu, hanya dengan mengakses internet.
Pada tahun 2004, Information and Communication Technology (ICT) Center di Kota Malang, berdiri. Pada saat itulah, 40 sekolah online. Selain untuk keperluan administrasi dan informasi secara umum, juga dilakukan pembelajaran jarak jauh yang bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi antara lain Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang.
SMKN 4 Malang termasuk beruntung memiliki pengajar seorang Kwarta Adimphrana. Bagaimana tidak? Selain dipercaya pemerintah Kota Malang menjadi konsultan untuk proyek Malang Cyber City, Kwarta adalah salah saru penyusun Kurikulum Keterampilan Komputer dan pengelolaan Informasi (KKPI) untuk SMK edisi 2004. Selain itu, setelah dia mengikuti program Partners in Learning (PIL) Microsoft, Kwarta pun banyak mengikuti pelatihan TI antara lain di Bangkok dan menghadiri Microsoft Worldwide Innovative Teachers Forum di Philadelphia Amerika Serikat.
"Program Partners in Learning memang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas para guru dan anak didik melalui fasilitas TI Informasi. Dalam program ini kami harapkan akan muncul guru-guru dan murid yang kreatif dan pada akhirnya menciptakan sekolah yang inovatif seperti SMKN 4 Malang ini, " kata Academic Program Manager PT Microsoft Indonesia, Ananta Bhoga Gondomono.
Menurutnya, melihat berbagai potensi yang muncul sejak diluncurkannya program tersebut empat tahun lalu, Microsoft berkomitmen untuk meneruskan program PIL di seluruh dunia untuk tahap kedua (yang akan dijalankan lima tahun mendatang). "Ke depan, program ini akan memiliki 3 pilar program yaitu Innovative Teacher, Innovative Student, dan Innovative School.
Dalam pilar program Innovative Teacher kami melanjutkan pelatihan dan alih pengetahuan kepada para guru dalam bentuk train the trainee bekerja sama dengan Depdiknas. Di samping itu kami juga akan tetap melangsungkan Kompetisi Guru Inovatif dalam memanfaatkan TI untuk proses pengajaran.
Untuk pilar kedua, Innovative Student, Microsoft menawarkan Microsoft Student Innovative Suite yaitu seperangkat peranti lunak dengan harga hanya $3 jika ditempelkan pada program- program pemerintah untuk kepemilikan PC bagi siswa sekolah. Sedangkan pilar Innovative School adalah suatu konsep yang ditawarkan Microsoft bagi sekolah masa depan. Saat ini konsep sekolah masa depan sudah diterapkan di beberapa pilot project di beberapa negara, antara lain Singapura dan Finlandia," urainya.
Dengan program seperti itu, maka dunia pendidikan di Indonesia bisa semakin maju. Karena para pengajar dan muridnya, melek TI, informasi yang berguna pun bisa segera dibahas dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. [N-5]