Sorak gembira memecah ruang tengah kediaman mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Muhammad Nuh di Kompleks Rungkut Asri Utara V, Surabaya, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut namanya menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Senin (7/5) siang.
Istri Nuh, Drg Laila Rahmawati, sambil menerima ucapan selamat dari sanak saudara dan kerabat, meminta hanya satu hal kepada suaminya yakni jangan coba-coba korupsi.
"Saya hanya minta kepada bapak jangan korupsi. Saya gak mau kalau bapak korupsi, jangan mencederai amanah yang sudah diterimanya," kata Laila Rahmawati, Senin (7/5).
Laila juga mengaku akan segera ke Jakarta untuk mendampingi suaminya sebagai menteri. Sementara anaknya, akan tetap di Surabaya untuk meneruskan kuliah di ITS.
Penunjukan Nuh sebagai Menkominfo sebenarnya tidak mengherankan. Bahkan ini jawaban atas permintaan dia sendiri kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla saat acara temu alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya atau lebih dikenal sebagai Institut Teknologi Surabaya (ITS) di Kantor Wapres setahun silam.
Ceritanya, dalam acara temu alumni pada 9 November 2006 itu, Nuh menyampaikan kata sambutan. Ketika itu, dia mengenakan jas warna tidak terlalu cerah mendekati abu-abu berbicara ceplas ceplos yang mengundang gelak tawa dan tepuk tangan alumni ITS.
Salah satu hal yang dia ungkapkan ketika itu, ITS menjadi salah satu perguruan tinggi negeri yang terpinggirkan. ITS tidak diperhatikan pemerintah sebagaimana institut-institut negeri lainnya seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (IPB).
Dari sudut jumlah alumni yang masuk kabinet pun, ITS tidak dilirik. Yang banyak dipilih Presiden dan Wapres selalu alumni ITB atau IPB. Padahal tidak sedikit alumni ITS berkualitas seperti Kristiono (mantan Dirut Telkom), Widya Purnama (mantan Dirut Indosat dan Pertamina), dan Adhi Satrija (mantan Dirut PLN). Makanya, Nuh meminta Kalla memperhatikan alumni ITS agar dipilih menjadi anggota kabinet. Tentu saja, yang dipilih harus alumni berkualitas. Ucapan Nuh itu disambut tepuk tangan meriah alumni ITS. Mungkin saja dia bercanda waktu itu.
Tanggapan Kalla
Kalla langsung menanggapi permintaan Nuh. Dengan nada canda, Kalla mengatakan akan memperhatikan usulan itu. Asal, Partai Golkar menang lagi pada Pemilu 2009. Artinya, sebenarnya Wapres berjanji menempatkan alumni ITS dalam kabinet setelah Pemilu 2009. Itu pun kalau calon presiden Partai Golkar memenangkan Pemilu Presiden 2009.
Ternyata, usulan Nuh itu tidak harus menunggu Pemilu 2009. Permintaannya dikabulkan Jusuf Kalla di paruh kedua Pemerintahan Yudhoyono-Kalla.
Meskipun perombakan kabinet hak prerogatif Presiden, tetapi - seperti diakui Presiden sendiri Jumat (4/5) lalu - dia terus berkomunikasi dengan Wapres. Maka sangat mungkin, masuknya Nuh ke kabinet adalah usulan Kalla. Tentunya sebagai pemenuhan atas permintaan Nuh sendiri. Kalla menempati janjinya. Meskipun, waktu itu Nuh tidak bermaksud bahwa dia sendiri yang harus duduk di kabinet.
Dia yang minta dan kepadanya diberikan tugas dan tanggung jawab besar. Maka, tugas Nuh selan- jutnya adalah menjalan- kan tanggung jawab itu sekaligus menunjukkan kepada publik, alumni ITS juga berbobot seperti alumni-alumni IPB dan ITB. [029/A-21/E-5]