SUARA PEMBARUAN DAILY

Prancis Masuki Era Baru Politik

[PARIS] Prancis tengah memasuki era baru politik, setelah kemenangan sayap kanan Nicolas Sarkozy dalam pemilu. Sarkozy berjanji untuk mereformasi Prancis agar mampu menghadapi tantangan abad ke-21, dan menciptakan lapangan pekerjaan merupakan salah satu agenda utamanya.

Ia berjanji untuk memotong pajak bagi kaum kaya raya, memperkecil angka pengangguran dan mengatasi kekuatan serikat-serikat buruh yang punya pengaruh luas dan tangguh.

Sarkozy menyiapkan 15 nama untuk menteri-menteri kabinet. Di hadapannya membentang tugas-tugas berat untuk membenahi perekonomian Prancis.

Salah satu tantangan untuk presiden baru adalah pemilu parlemen bulan Juni, karena Sarkozy harus bisa meraih kursi mayoritas karena kalau tidak program-program reformasinya akan sulit berjalan.

Sarkozy, menunjuk penasihat politiknya yang juga mantan menteri sosial Francois Fillon sebagai perdana menteri. Hal itu diungkapkan Senin (7/5), dalam pembicaraan melalui telepon dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang menyampaikan selamat atas kemenangannya.

Selasa hingga Kamis, Sarkozy bersama istrinya, Cecilia, dan putranya Louis (10 tahun), menikmati istirahat sambil menyusun kabinet.

Dengan kapal pesiar mereka berpelesir selama tiga hari di Malta, kawasan Mediterania, untuk melepaskan diri dari kelelahan kampanye dan mempersiapkan diri memasuki masa kepresidenan 17 Mei.

Dalam pidato kemenangannya, Minggu (6/5), Sarkozy mengirimkan pesan kepada dunia untuk melawan tirani, diktator dan tekanan kaum fundamentalis yang menindas kaum perempuan.

Sejalan

Pesan yang diberi judul "Prancis Kembali" tersebut semakin menguatkan garis Sarkozy yang sejalan dengan Presiden AS George W Bush. Hal itu cukup berbeda dengan Presiden Jacques Chirac yang menentang Washington dalam kebijakan terhadap Irak, tapi dengan demikian Chirac dianggap terlampau lunak terhadap tiran.

Dengan mendesak AS untuk berada di depan dalam mengatasi pemanasan global, Sarkozy juga mengisyaratkan bahwa pemulihan persahabatan dengan AS bukan berarti bersikap tunduk kepada Washington. Pidatonya setidaknya memberi kelegaan bagi kalangan yang khawatir suara global Prancis akan raib.

Ahli strategi dan politik luar negeri Prancis, Francois Heisbourg, memperkirakan Sarkozy yang dijuluki "Sarko the American" akan meningkatkan kedekatan dan semangat dengan AS yang mana akan mengurangi akomodasi terhadap Dunia Arab. Hal tersebut berbeda dengan pendahulunya yang mempunyai kedekatan hubungan dengan Timur Tengah, kawasan yang juga bekas jajahan Prancis. [AP/AFP/H-12]


Last modified: 8/5/07