
ak banyak orang memiliki keterampilan seperti yang dimiliki oleh perempuan yang satu ini. Pasalnya? Ia merupakan satu-satunya perempuan asli Papua yang memiliki keahlian di bidang percetakan dan offset.
Adalah Nelce Arebo-Worisio. Dalam keseharian, dia selalu berpenampilan sederhana, apa adanya. Nelce terlihat seperti orang hebat. Namun dibalik kesederhanaan itu sesungguhnya dia memiliki jiwa kewirausahaan yang mengagumkan.
Ibu Nelly -demikian sapaan akrabnya. Dia adalah sosok perempuan Papua yang saat ini sangat terkenal di seantero Jayapura karena memiliki kemampuan mengelola percetakan dan offset dengan hasil dan kualitas baik. Untuk urusan cetak- mencetak, Nelly sering mendapat pujian.
Sebelumnya Nelly memang pernah bekerja di sebuah perusahaan Milik warga Keturunan Tionghoa di Jayapura. Dia memulai debut kariernya di perusahaan itu sebagai pembantu rumah tangga. Waktu itu, Nelly baru saja menyelesaikan studinya di SMA Gabungan Jayapura pada tahun 1990.
Tekad dan keinginannya untuk bekerja membuat Nelly langsung langsung menerima ajakan tetangganya itu. Lamarannya diterima namun ditempatkan di bagian dapur.
"Tak apalah, yang penting kerja dan bisa dapat penghasilan dan tidak bergantung pada orang lain," ujarnya.
Waktu terus saja bergeser, hingga pun akhirnya Nelly dipindahkan ke "bagian tengah". Dia ipercayakan untuk mengurus pekerjaan lain, bukan lagi di dapur. Nelly dinilai cukup gesit dan telaten dalam menyelesaikan pekerjaannya. Karakter dasarnya masih terlihat dan jelas terekspresi, Ia sangat rajin dan telaten. Dari ketekunan itu ia kemudian dipercayakan untuk mengatur arus keluar masuk barang di gudang.
"Saya dipercayakan menjadi kepala gudang," ujarnya.
Nelly kemudian menjadi pemimpin yang mengepalai sejumlah orang dan memikul tanggung jawab yang berat. Hal ini membuat dirinya semakin percaya diri bahwa Tuhan tidak keliru menempatkan dirinya di sana. Tak ayal, selama tiga tahun menjadi kepala gudang, Nelly dipindahkan ke bagian fotokopi dan menangani puluhan mesin fotokopi. Nelly mengatur semua urusan teknik hingga mesin fotokopi.
"Semua dijalankan saja, dan akhirnya bisa juga," ujarnya berkisah.
Waktu selama 15 tahun adalah masa yang tidak singkat. selama itu pula Nelly banyak menimba ilmu dan pengalaman dari sang majikan. Suatu ketika, atas inisiatif sendiri, dia lalu berhenti bekerja dan kemudian memulai usaha sendiri.
Usaha Mandiri
Untuk memulai usaha, Nelly menggunakan modal awal senilai Rp 75 juta. Uang itu adalah hasil tabungannya yang disimpan bertahun-tahun. Berbekal simpanan itu, Nelly lalu meminta dukungan sang suami tercinta, Hans Jack Worisio dan membuka usaha fotokopi.
Selain modal usaha yang ada, Nelly juga mendapat dukungan dari perusahaan tempat ia bekerja dulu. Ia diberi pinjaman lunak berupa "kredit mesin fotokopi dengan angsuran yang ringan, kertas dan bahan-bahan cetakan.
Saat ini, usaha Nelly berkantor di bekas lokasi Gedung Gereja Pengharapan lama Jayapura-(di samping Kantor Klasis GKI Jayapura). lokasi yang boleh dibilang sangat strategis, karena letaknya di Jantung Kota Jayapura.
Usaha ini, bernaung dibawah pengawasan Klasis GKI Jayapura dan boleh dibilang tidak gampang. Apalagi untuk urusan cetak-mencetak yang disertai dengan peralatan yang cukup rumit. Tentu saja membuat tidak betah bagi orang yang tidak berminat. tapi tidak demikian bagi Nelly Arebo, Ia sangat mencintai pekerjaan ini.
"Kami akan tetap eksis dengan pekerjaan ini. Kami selalu mengutamakan pelayanan dan kualitas layanan, karena dari sanalah kita dinilai orang. Apakah pekerjaan kita bagus atau mala membuat kecewa. Tapi, syukurlah belum ada keluhan dari pelanggan kami. Kalaupun ada, kami akan selalu perhatikan sehingga berikutnya tidak lagi terulang," tambah Nelly.
Koperasi Moria, saat ini dibawa kendali Nelly Arebo-Worisio. dengan 11 orang karyawan sudah termasuk di toko depan maupun di percetakan. Dengan jumlah karyawan itu, mereka mulai kerja sejak pagi pukul 08.00-17.00 WIT.
Meskipun sibuk dengan urusan dinas di koperasi Moria, Nelly tak melupakan urusan domestik. Buktinya, dia selalu menyediakan waktu untuk mengurus rumah, termasuk anak-anak dan sang suami. sejak masih pagi-pagi buta, ia telah bangun dan menyediakan sarapan bagi keluarga termasuk juga sarapan untuk karyawannya.
"Saya selalu punya waktu untuk keluarga, sehingga dukungan suami dan anak-anak untuk pekerjaan saya tidak pernah surut," tuturnya.
Kini Nelly dikaruniai dua orang anak, masing-masing Sean Worisio (11 Tahun) dan Galvin Worisio (3 Tahun), sedangkan sang suami saat ini adalah Bendahara Klasis GKI Jayapura, Hans Jack Worisio SE. [SP/Gabriel Maniagasi]