
ertunjukan musikal terbaru di panggung Broadway Legally Blonde dianugerahi julukan "nonstop sugar rush" dan "bubble-gum splashed in pink". Namun menurut produser itu, pertunjukan musik Legally Blonde malah lebih serius dibanding film-nya.
Menurut Reuters.com, film yang tergolong sukses di Hollywood itu dibintangi Reese Witherspoon yang berperan sebagai Elle Woods, seorang perempuan cerdas, berambut pirang dan berasal dari California. Elle mengajukan permohonan belajar ke fakultas hukum Harvard untuk mengikuti jejak sang pacar dan merebut hatinya.
Pada versi musikal, Legally Blonde dibintangi Laura Bell Bundy dan telah dipentaskan sejak pekan lalu di New York. Sejumlah resensi pertunjukan itu bernilai positif. Resensi pertama terhadap pertunjukan itu karya Linda Winer yang menjadi isu utama pada Newsday dengan judul resensi "permen karet memercikkan warna pink", yang berfokus pada pernak-pernik atau barang dagangan yang dikenakan para pemain utama pertunjukan musik. Barang-barang itu penuh warna.
"Mereka menjual celana panjang berlabel omigod di bagian ujung dan kaos berpermata dengan gambar anjing Chihuahua yang melintang di bagian dada," demikian tulis Winer dalam resensinya.
Kritikus lain, Howard Shapiro yang terkesan dengan pertunjukan musikal itu menulis "pertunjukan musikal lebih menghangatkan hati, menyenangkan, menggemparkan dibandingkan filmnya".
Sementara, Ben Brantley dari The New York Times menulis, bagaimana pun pertunjukan diban- jiri "serbuan gula tanpa henti" dan merekomendasikan "lagu-lagu di antara benang".
"Berenergi tinggi, ka- lori kosong dan pujian kebanggaan terhadap perempuan...kurang lebih seperti pengalaman memakan satu kotak Gummi Bears ukuran jumbo di satu kursi," tulis Brantley.
Secara terpisah, produser pertunjukan musikal Legally Blonde Hal Luftig menyebut pertunjukan itu masuk 10 nominee untuk penghargaan drama pekan lalu. Nilai tiket yang terjual mencapai US$ 9 juta.
Pada pertunjukan teater, menurut Luftig, pencipta musikal bebas menuangkan ide, termasuk jalan cerita yang terfokus pada kisah cinta Elle dengan pengacara Emmett. Sang pengacara jatuh cinta pada Elle lebih karena kepandaian dibanding kecantikannya.
"Ini lebih serius dibanding film. Saya tidak bermaksud bahwa setiap orang meninggal di akhir cerita. Saya terinspirasi dari pembicaraan dengan seorang psikologi anak yang mengatakan perempuan dewasa cenderung menjadi bisu," tambah Luftig.
Lebih jauh dikatakan, ada dua hal yang terjadi pada perempuan dewasa, yaitu menemukan laki-laki dan bukan sesuatu yang hebat menjadi orang terpintar di kelas. Oleh karena itu, pada musikal Legally Blonde ia berusaha mengubah pandangan itu.
Sejumlah kritik lebih pada menekankan kritik terhadap keberlangsungan pertunjukan daripada kegagalan yang mungkin dihadapi karya musikal itu. Namun, The Star Ledger New Jersey menyebutkan, tidak ada kesimpulan fakta dari pertunjukan, melainkan daya tarik "kekuatan perempuan".
"Sekalipun merupakan suatu ansembel yang panas, banyak suami, para ayah dan para teman laki-laki barangkali lebih memilih berada di sekitar pub Langan daripada menonton pertunjukan musikal," tulis kritikus Michael Sommers.
Dari prapertunjukan yang sudah berlangsung pekan lalu, Luftig menuturkan para penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Saat menonton pertunjukan, terlihat jelas bahwa para penonton yang umumnya adalah perempuan, datang ke teater dengan dandanan lengkap dalam berwarna pink.
Di San Francisco, daerah yang sudah menikmati pertunjukan pra-Broadway, pertunjukan tersebut menarik para "ratu" hadir sebagai Elle Woods. [N-4]