etelah ditunggu-tunggu sekian lama dan sempat membuat suasana tegang, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memenuhi janjinya untuk mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Merdeka, Senin (7/5). Tidak ada yang istimewa dari pengumuman tersebut, karena masyarakat telah mengikuti jalannya proses pergantian itu sejak awal. Mulai dari pemanggilan calon menteri dan menteri yang akan dievaluasi di tempat tinggal Presiden di Cikeas, hingga ke Istana Kepresidenan pada Senin kemarin.
Nama lima menteri dan pejabat setingkat menteri yang diganti, serta nama-nama yang menggantikannya, juga sudah beredar di masyarakat sejak akhir pekan lalu. Demikian pula bergesernya Hatta Rajasa dan Sofyan Djalil yang menempati posisi baru sudah diketahui umum.
Sehingga, isi pengumuman perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Yudhoyono kemarin, tidak begitu mengejutkan. Demikian pula dengan apakah M Ma'ruf yang sedang sakit juga diganti, pertanyaan itu kemarin terjawab.
Seperti biasanya, ada pro-kontra terhadap langkah Presiden Yudhoyono merombak jajaran kabinet, terutama terkait dengan menteri yang diganti. Harus diakui nuansa politik masih terasa dalam perombakan kabinet tersebut. Seperti penggantian Saifullah Yusuf yang kini aktif di Partai Persatuan Pembangunan, tidak lepas dari kepentingan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tidak ingin jatah kursinya di kabinet berkurang. Penggantinya, Lukman Edy, adalah aktivitas PKB. Partai Golkar mendapat jatah tambahan satu kursi menteri, namun Partai Bulan Bintang harus kehilangan dua kursi.
Namun, terlepas dari kepentingan politik tersebut, masuknya tiga wajah baru dari kalangan profesional, yaitu Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung, Mohammad Nuh sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika, dan Jusman Syafii Djamal yang menjadi Menteri Perhubungan, perlu disambut positif. Demikian pula pergeseran Sofyan Djalil dari Menkominfo ke Menteri Negara BUMN, serta Hatta Rajasa dari Menteri Perhubungan menjadi Menteri Sekretaris Negara, diharapkan membawa perubahan yang positif.
Dengan komposisi tim kabinet yang baru ini, tercermin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melihat persoalan hukum sebagai prioritas yang harus segera dikerjakan. Sedangkan tidak adanya perubahan yang signifikan di tim ekonomi maupun kesejahteraan rakyat menunjukkan Presiden beranggapan tidak ada masalah dengan tim itu.
Menyikapi hal itu, kita berharap Presiden Yudhoyono tetap fokus dalam menjalankan tugas kenegaraannya dengan baik. Terlebih setelah perombakan kabinet, kita berharap roda pemerintahan bisa berjalan dengan lebih baik lagi. Jika diamati, respons pasar juga tidak negatif terhadap perombakan kabinet tersebut. Bahkan, kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS menguat, demikian pula dengan indeks pasar modal. Itu berarti stabilitas ekonomi makro cukup kuat.
Kita berharap dalam dua setengah tahun ke depan, di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tim Kabinet Indonesia Bersatu bisa membawa kemajuan bangsa Indonesia untuk meraih masa depan yang lebih baik. Penegakan hukum yang masih menjadi keluhan, birokrasi dan berbagai peraturan pemerintah pusat maupun peraturan daerah yang menghambat investasi, sektor riil yang belum bergerak positif, fungsi perbankan yang belum berjalan optimal, biarlah persoalan-persoalan tersebut menjadi pekerjaan kabinet ini dan bisa diselesaikan dengan baik.
Selamat bertugas.