SUARA PEMBARUAN DAILY

Masalah Ekonomi Tak Tersentuh

Jaksa Agung dan Menneg BUMN Resmi Diganti

SP/YC Kurniantoro

Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh dikerumuni wartawan saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/5). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi memberhentikan Abdul Rahman Saleh dari jabatannya tersebut.

Mestinya pemerintah tahu bahwa perekonomian merupakan ujung tombak. Bagaimana Presiden menggenjot pertumbuhan ekonomi kalau timnya tidak diganti. Bagi saya reshuffle ini biasa-biasa saja. (Ekonom Faisal Basri)

[JAKARTA] Perombakan kabinet yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (7/5), dinilai tidak akan membawa perubahan di bidang ekonomi. Sebab, perombakan (reshuffle) kabinet kali ini hampir tidak menyentuh masalah utama perekonomian, yakni pertumbuhan sektor riil yang lambat.

Demikian pandangan ekonom Faisal Basri kepada SP, Senin (7/5), di Jakarta. "Mestinya pemerintah tahu bahwa perekonomian merupakan ujung tombak. Bagaimana Presiden menggenjot pertumbuhan ekonomi kalau timnya tidak diganti. Bagi saya reshuffle ini biasa-biasa saja," tukasnya.

Christianto Wibisono, pengamat ekonomi politik dari Global Nexus menambahkan, perombakan kabinet kali ini yang lebih memfokuskan bidang hukum cukup baik karena pemerintah ingin menunjukkan kredibilitasnya untuk menindak berbagai pelanggaran hukum.

Untuk bidang ekonomi, dia sebenarnya berharap penggantian menteri di sektor ini bisa menggenjot penanaman modal asing langsung ke Indonesia.

Selain itu, lanjutnya, penggantian Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai untuk memperbaiki citra BUMN yang selama ini dianggap sebagai sapi perahan.

Sementara itu, ekonom dari Center for Strategic and International Studies Pande Radja Silalahi mengatakan, perombakan kabinet tidak menyentuh harapan pelaku ekonomi, khususnya sektor industri, pertanian, dan ketenagakerjaan.

"Kalau saya melihat, perindustrian perlu disegarkan. Tetapi, kalau Presiden mampu menjelaskan dalam pengantarnya bahwa sektor ini tidak perlu ganti figur, tetapi diminta maksimal, maka para pelaku ekonomi bisa memahami," paparnya.

Tentang penggantian Menneg BUMN, dia mengemukakan, hal ini dimaksudkan agar figur Sofyan Djalil yang dikabarkan akan menggantikan Sugiharto lebih memiliki arah dan visi yang jelas tentang BUMN ke depan.

Pertaruhan

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat menilai, minimnya perombakan jajaran menteri ekonomi merupakan pertaruhan Presiden Yudhoyono.

Pasalnya, hal ini menunjukkan Presiden percaya dengan kinerja menteri-menteri di bidang ekonomi. Pelaku usaha melihat tidak adanya perubahan itu mengharuskan jajaran menteri ekonomi bekerja lebih keras lagi.

"Ini pertaruhan Yudhoyono sendiri. Kalau tidak diubah berarti ada pemahaman bahwa tim (ekonomi) ini bisa meningkat. Yang mesti dilakukan adalah membuat tim yang jauh lebih solid. Jadi, ungkapan bahwa tim ekonomi haruslah sebuah orkestra bukan solis yang bermain sendiri, saya setuju," katanya.

Untuk meningkatkan kinerja ekonomi itu, menurut dia, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Boediono harus diberi wewenang penuh.

"Menko (perekonomian) itu kan seorang yang santun, untuk menegur atau mengoreksi itu ragu-ragu. Nah, ini tidak perlu ada lagi. Itu satu-satunya jalan," ucap Hidayat.

Dia mengingatkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 6,3 persen, ataupun di 2008 yang diperkirakan mampu mencapai tujuh persen, pemerintah harus memastikan dikeluarkannya produk hukum untuk memberikan kepastian hukum bagi investor.

"Mulai dari undang-undang yang sangat relevan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik yang saat ini ada di parlemen maupun yang dibuat dalam bentuk peraturan pemerintah, Juni ini seharusnya sudah bisa dikeluarkan," katanya.

Keluhan yang masih disampaikan investor asing adalah tidak harmonisnya regulasi pemerintah pusat dan daerah.

Untuk menarik investor menanamkan modalnya di Indonesia, menurut dia, pemerintah perlu memberikan kepastian hukum dan memastikan bahwa hambatan dalam pelaksanaan itu tidak bisa ditolerir lagi.

Resmi Diganti

Sementara itu, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, dan Menteri Negara BUMN Sugiharto definitif diberhentikan dari Kabinet Indonesia Bersatu. Keduanya mengakui itu setelah bertemu Presiden Yudhoyono di Istana Merdeka, Senin (7/5) siang. Mereka memahami alasan pemberhentian oleh Presiden.

"Tetapi, suasana batin kita memang perlu ada perubahan," ujar Sugiharto.

Mereka diberhentikan bukan karena kinerjanya buruk. Sebab, kinerja keduanya dinilai bagus oleh Presiden.

Baik Sugiharto maupun Abdul Rahman Saleh dijanjikan akan diberi tugas baru oleh Presiden Yudhoyono, tetapi tugasnya itu belum diberi tahu oleh Presiden.

Jaksa Agung Saleh bahkan menilai keputusan Presiden itu sangat tulus, karena surat yang disampaikan kepadanya adalah tulisan tangan Presiden Yudhoyono.

Presiden memahami tugas Jaksa Agung sangat berat. Bahkan, Abdul Rahman Saleh mengaku mengalami tekanan selama menjadi Jaksa Agung. Selama 2,5 tahun menjadi Jaksa Agung, berat badannya turun hingga 8 kilogram. [VL/L-10/B-15/A-21]


Last modified: 7/5/07