ulu, kalau masuk sekolah kejuruan, seorang anak pasti akan mendapat olok-olok dari rekan atau lingkungan sekitarnya, bahwa dirinya tidak pandai. Si anak akan dipandang sebelah mata, dan ibarat jadi ''warga negara kelas dua'' oleh lingkungannya.
Tapi, siapa nyana, kalau kini masuk sekolah kejuruan justru menjadi kebanggaan. Apa tidak enak, kalau sebelum lulus saja, banyak siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) saat ini sudah ditawari bekerja di sebuah perusahaan industri.
Kondisi itu jelas sangat nyaman, di tengah banyaknya lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi yang terpaksa menganggur akibat tak memiliki keterampilan dan keahlian apa pun.
Kota Vokasi
Saat ini, kalau tertarik masuk sekolah kejuruan, tak perlu repot-repot lagi mencarinya. Datang saja ke Solo, Jawa Tengah, yang telah menjadi kota rujukan sekolah kejuruan di Tanah Air. Sejak dicanangkan menjadi kota vokasi, akhir Desember 2006 lalu, Solo terus berbenah mengembangkan infrastruktur pendidikan kejuruan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Solo, Drs Amsori SH MPd, kepada SP baru-baru ini, mengatakan, pengertian kota vokasi adalah sebagai rujukan penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang bermutu, sekaligus penyedia tenaga kerja yang profesional.
Menurut Amsori, pemerintah pusat telah mengalokasikan Rp 4 miliar untuk mewujudkan Kota Solo sebagai kota vokasi atau kota berbasis aspek sekolah kejuruan. Dana tersebut ditujukan bagi pengembangan sekolah menengah kejuruan sebagai pabrik pembelajaran.
Di pabrik pembelajaran tersebut diharapkan siswa mempunyai kesempatan untuk praktik serta belajar bisnis bersama. "Jadi siswa bisa lebih pengalaman dalam membuat produk dan sekaligus menjualnya. Siswa tidak hanya diajarkan untuk merakit tetapi juga menjualnya," kata Amsori.
Pabrik pembelajaran, kata Amsori, dibangun di Pedaringan, Solo, yang diproyeksikan sebagai lokasi pendirian Solo Techno Park (STP). STP akan dibangun di lahan seluas tujuh hektare di Pedaringan yang luasnya mencapai 28 ha.
Fasilitas itu diharapkan tidak hanya untuk pengembangan dunia pendidikan yang berhubungan dengan teknik, melainkan juga mengangkat industri dan bisnis di bidang teknologi tepat guna.
''STP akan menjadi pusat pendidikan mekanik, pengembangan teknik, pengembangan sekolah-sekolah kejuruan teknik, industri, dan inkubator bisnis. Diharapkan dunia industri teknologi bersedia ikut mengambil bagian,'' katanya.
Selain itu, STP juga akan mengembangkan teknologi lainnya, misalnya garmen dan sistem pendingin. Untuk mendukung program ini, pihaknya juga berharap munculnya dukungan berupa kerja sama dari kalangan industri yang nantinya membutuhkan tenaga kerja dari para lulusan SMK.
Perkuat Posisi
Untuk memperkuat posisi sebagai kota vokasi, Kota Solo terus melakukan penataan serta pengembangan SMK yang kemudian diarahkan pada program yang dapat meningkatkan pemberdayaan potensi daerah guna memacu pertumbuhan ekonomi.
Solo merupakan Kota yang memiliki SMK terbanyak di Jawa Tengah. Jumlah SMK di Kota Solo saat ini sebanyak 40 SMK, terdiri atas 9 SMK negeri dan 31 SMK swasta. Jateng sendiri dikenal menjadi gudangnya SMK dari seluruh SMK di Indonesia yang berjumlah 6.400 SMK.
"Dibandingkan kota lain di Indonesia, maupun Jateng, pengembangan SMK di Solo yang dinilai paling maju, terpilih menjadi kota vokasi. Ini penunjukkan dari pemerintah pusat, bukan dari kami," kata Amsori.
Amsori mengatakan, jumlah SMK di Solo pun lebih banyak dibandingkan dengan SMA. Saat ini, jumlahnya 55 persen berbanding 45 persen. Padahal secara nasional, perbandingannya masih 40:60 antara jumlah SMK dengan SMA. Dari 40 SMK yang ada di Solo, delapan SMK tercatat telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2000.
Sejak dicanangkan menjadi kota vokasi, menurut Amsori, mulai tahun ini dilakukan pembenahan dan perbaikan yang mengarah pada SMK berstandar internasional. Untuk mewujudkannya, Amsori menyebut total dana Rp 19,8 miliar yang diperlukan untuk perbaikan tersebut.
Dana itu dialokasikan untuk pencitraan sekolah, rehab fisik sekolah, kelengkapan peralatan standar minimal, sertifikasi SDM guru, dan peningkatan mutu sekolah.
Sumber dana itu diharapkan dating dari pemerintah pusat sebesar Rp 9,90 miliar, Pemprov Jateng 5,94 miliar, Pemkot Surakarta Rp 3,96 miliar. ''Jadi, kami masih mengharapkan banyak bantuan, guna mewujudkan kota vokasi yang ideal,'' tegas Amsori.
Sekarang SMK makin dilirik dan tidak dipandang sebelah mata lagi. Tak ada lagi keraguan ke SMK. Masuk SMK, Siapa Takut. Begitulah ungkapan para siswa lulusan SMP di Solo saat ini. [SP/Stefy Thenu]