SUARA PEMBARUAN DAILY

Palu dan Parimo Dilanda Banjir, Dua Tewas

[PALU] Hujan deras selama dua hari berturut-turut yang mengguyur Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), mengakibatkan daerah ini dilanda banjir besar. Dua warga Parimo tewas tertimbun tanah longsor, sementara ribuan warga di kedua wilayah ini mengungsi karena rumahnya tergenang banjir setinggi antara 1-2 meter.

Di Palu, banjir mulai terjadi Minggu (6/5) sekitar pukul 11.00 Wita. Puncak banjir di Palu terjadi sekitar pukul 05.00 Wita, Senin. Hujan yang mengguyur wilayah ini sejak pagi hari mengakibatkan air Sungai Palu meluap dan menjebol beberapa tanggul di daerah aliran sungai (DAS) Palu.

Akibat jebolnya tanggul menyebabkan air meluap dan merendam ribuan rumah warga antara lain di Kelurahan Lolu Utara, Lolu Selatan, Nunu, Ujuna, Baru, Besusu Barat, Poboya, Besusu Timur dan Talise. Wilayah-wilayah ini sebagian besar berada di DAS Palu dan menjadi langganan banjir setiap tahun.

Menurut Ketua RT I/RW 9 Kelurahan Lolu Utara, Sri Mulyani, pada jam tersebut mereka menyaksikan air merembes masuk ke rumah-rumah mereka begitu cepat hingga mencapai sekitar 1,5 meter.

"Rumah saya terendam banjir setinggi dada dan sejak subuh tadi, kami sudah mengungsi ke rumah keluarga yang tidak terkena banjir," kata Sri yang ditemui SP di lokasi banjir Lolu Utara, Senin (7/5).

Mengungsi

Sampai Senin pagi, ribuan warga di Palu yang terkena musibah banjir sibuk menyelamatkan barang-barangnya. Ada warga yang menaikkan barangnya hingga ke atap rumah dan lainnya diangkut pakai sepeda atau gerobak sapi ke tempat-tempat aman. Selain rumah-rumah penduduk, fasilitas-fasilitas pemerintah seperti sekolah dan rumah-rumah ibadah juga tergenang banjir.

Sementara itu, di Parimo, dua warga setempat Minggu dilaporkan tewas tertimbun longsoran tanah di kebunnya. Kedua korban, yakni Kifli (52) dan Juluhi (62), warga Desa Petapa, Kecamatan Parigi Selatan, dilaporkan sedang berada di kebun tiba-tiba hujan deras datang dan menyebabkan air Sungai Petapa meluap diikuti banjir dan tanah longsor.

"Keduanya mencoba mencari tempat aman saat banjir datang, namun tiba-tiba mereka tertimpa reruntuhan tanah dan akhirnya tewas," ujar Aji, warga Parigi.

Kedua warga tewas ini diselamatkan oleh penduduk lain yang mengetahui kejadian tersebut. Banjir di Parimo menyerang puluhan desa, antara lain Desa Petapa, Olaya, Torue, Marantale, Lemusa. Desa-desa ini berada di sepanjang jalur trans Sulawesi menghubungkan Sulawesi Selatan (Sulsel)-Sulteng-Gorontalo-Sulawesi Utara (Sulut). Akibat banjir tersebut, ribuan warga Parimo juga mengungsi ke tempat yang aman.

Bupati Parimo Longky Djanggola yang turun langsung menyaksikan warganya yang tertimpa banjir mengatakan, bencana tersebut tidak terlepas dari aktivitas kerusakan hutan yang telah lama terjadi di daerah ini.

"Kita lihat sendiri kayu-kayu besar yang dihanyutkan oleh banjir, semua itu sebagai hasil dari pembalakan liar di hutan-hutan sekitar daerah saya ini," ujarnya.

Di Palu, pemerintah setempat juga telah mendirikan posko-posko banjir dan mulai menyalurkan bantuan makanan dan obat-obatan kepada warga yang terkena banjir.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, Emma Sukmawati mengatakan, sejak Minggu sore pihaknya sudah menyalurkan bantuan obat-obatan kepada korban banjir di Ujuna yang mulai terserang diare dan gatal-gatal akibat banjir. [128]


Last modified: 7/5/07