
Menjadi guru sebenarnya bukanlah cita-cita Daud (27). Kondisi ekonomi yang serba minim dan keterbatasan akses informasilah yang membuat bapak satu anak ini mau tidak mau rela melakukan tugasnya sebagai seorang pendidik.
Pekerjaan sebagai guru honorer itu juga didapatnya setelah ia mengajukan lamaran kerja ke pemerintah kabupaten sesuai dengan janji bupati terpilih saat kampanye pemilihan kepala daerah beberapa waktu lalu.
Namun seiring berjalannya waktu, motivasinya yang hanya sekadar untuk menjalankan pekerjaan lambat laun berubah menjadi suatu pelayanan yang tulus.
Di desa terpencil, Desa Long Oking, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, epatnya di hulu Sungai Long Oking, pria yang bernama lengkap Agustinus Wajau ini berbakti.
Sebagai gambaran, untuk mencapai desa ini hanya ada satu akses, yakni lewat sungai. Dari desa terdekat, Long Laai, dibutuhkan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan jasa perahu kecil yang hanya bisa dimuati tiga orang saja atau istilah setempat disebut ketinting.
Desa Long Laai sendiri berada di tepi Sungai Segah di dalam kawasan hutan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang berwaktu tempuh 15 jam (jalan darat) dari Kota Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur.
Tidak seperti sekolah-sekolah di perkotaan yang serba lengkap fasilitas, di Desa Long Oking yang dihuni sekitar 20 kepala Keluarga (KK), seperti jauh dari peradaban. Di tempat itu hanya ada dua ruangan yang tersusun atas kayu-kayu yang sudah mulai lapuk dengan fasilitas ala kadarnya.
"Saya mengajar baru satu tahun, tetapi di sinilah saya belajar bahwa pendidikan itu memang sangat penting," kata pria lulusan SMU ini.
Dia mengungkapkan kalau di tempatnya mengajar sekarang hanya ada satu kelas, yakni SD kelas satu yang cuma memiliki 6 orang murid saja. "Sebenarnya di sini banyak anak usia sekolah, tetapi tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengubah cara pandang masyarakat agar mau menyekolahkan anak-anak mereka," katanya.
Guna menegaskan komitmennya kepada pendidikan, Daud tinggal di desa tersebut dan harus rela meninggalkan istri dan anaknya yang bermukim di Desa Long Laai. Seminggu sekali ia pulang mengunjungi keluarganya mengingat ongkos transportasi yang cukup mahal.
"Honor saya Rp 450.000 ditambah tunjangan Rp 450.000, jadi per bulan saya dapat Rp 900.000. Kalau tiap hari bolak-balik, untuk transportasi saja tidak akan cukup, karena sangat mahal," ujarnya.
Meski hanya sebagai seorang guru honorer yang belum jelas kapan diangkat menjadi pegawai negeri sipil, semangat juang Daud untuk menuntaskan buta huruf di Desa Long Eking, tidak pupus.
"Di sini sebagian besar penduduk buta huruf jadi target saya, anak-anak di sini bisa baca tulis dulu. Saya tidak mau muluk-muluk, kalau murid saya bisa baca tulis, saya sudah bangga," tambahnya. [E-7]