[JAKARTA] Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak akan meninjau kembali penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk angkutan umum, terkait peristiwa terbakarnya armada bus jalur khusus (busway), transjakarta, di pool Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur, Rabu (2/5). Dengan demikian, armada busway tetap akan menggunakan BBG.
Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Nurachman, peristiwa kebakaran itu, bukan disebabkan penggunaan BBG, melainkan adanya kesalahan dalam penerapan prosedur perawatan armada yang menggunakan BBG. "Penggunaan gas untuk angkutan umum sudah teruji aman, sehingga tidak perlu kita kaji ulang. Tapi dengan kejadian ini, prosedur perawatan bus BBG akan diperketat." kata Nurachman, di Balai Kota, akhir pekan lalu.
Dia menjelaskan, perawatan armada busway BBG dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Perawatan itu, antara lain membersihkan tabung gas dari sisa-sisa oli dan air. Setiap armada busway BBG memiliki enam tabung gas.
Prosedur perawatan yang harus dilakukan saat membersihkan tabung gas adalah membuka satu tabung gas, lalu dibersihkan, baru dilanjutkan dengan tabung gas lainnya. Hal itu, dimaksudkan agar perawatan dapat difokuskan pada satu tabung gas sampai tuntas. Sebab, tabung gas yang dibuka bersamaan berpotensi menimbulkan percikan api.
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, mengatakan, peristiwa terbakarnya armada busway di pool Jalan Perintis Kemerdekaan, diduga akibat faktor kesalahan manusia (human error), bukan karena teknologi busway BBG yang buruk. Diduga, saat teknisi tengah melakukan perawatan bus B 7451 ZX, yang beroperasi di Koridor II (Harmoni-Pulo Gadung), ada kesalahan penerapan prosedur.
"Mungkin teknisi yang melakukan perawatan membuka tabung gas berbarengan, sehingga menimbulkan percikan api yang langsung disambar gas yang sedang dikeluarkan, sehingga terjadi ledakan. Ini sedang diselidiki," kata Sutiyoso.
Ketika ditanya mengenai bunyi ledakan keras saat armada busway dengan nomor bus TB 003 milik PT Trans Batavia itu terbakar, Nurachman mengatakan, masih dalam penyelidikan. Namun diperkirakan, kejadian tersebut disebabkan semburan gas yang bertekanan tinggi dan menyambar salah satu ban armada busway itu, sehingga mengeluarkan bunyi ledakan yang hebat.
"Jadi, bukan tabung gas yang meledak, tapi ada ban yang meledak akibat terkena tekanan gas yang tinggi. Peristiwa ini, juga bukan disebabkan ada yang merokok sembarangan," kata Nurachman. [J-9]