SUARA PEMBARUAN DAILY

Adam Gyorgy Hadirkan Musik Klasik Keliling Indonesia

Adam Gyorgy

Bagi Adam Gyorgy, Indonesia ibarat rumah keduanya. Pianis asal Hungaria ini telah menggelar tiga kali konser di Indonesia. Agustus mendatang, untuk keempat kalinya Adam hadir di Indonesia. Kali ini, tak hanya Jakarta yang disambanginya. Ia juga akan hadir di enam kota lainnya selama hampir sebulan penuh.

Kota-kota tersebut adalah Jakarta (7/8) di Hotel Mulia, Bandung (10/8) di Sabuga ITB, Surabaya (13/8) di Hotel JW Marriott, Yogyakarta (17/8) di Candi Prambanan, Bali (21/8) di Westin Hotel, Makassar (25/8) di Clarion Hotel dan Medan (28/8) di Angkasa Hotel.

"Jarang yang melirik musik klasik untuk dipromotori. Karena itu, kami mencoba melakukan terobosan sekaligus berharap, konser keliling ini bisa memberikan manfaat bagi perkembangan musik klasik di Indonesia sekaligus pelajaran berharga bagi mereka yang ingin serius mempelajari musik, terutama klasik," tutur Selvi Amalia, Direktur dari CitrAmalia yang mempromotori konser ini, Jumat (4/5) di Jakarta.

Untuk konser keliling Indonesia ini, Adam akan menghadirkan beberapa kejutan bagi penggemarnya di sini. Yang pertama adalah membawakan Indonesia Pusaka karya komposer Ismail Marzuki, yang sudah digubah dan diinterpretasikannya sendiri. Interpretasi Indonesia Pusaka itu ditulisnya setelah bencana tsunami terjadi pada 2004 lalu. Adam yang belum lama tampil di Indonesia sebelum tsunami menerpa mencoba menunjukkan perasaannya dengan menginterpretasi Indonesia Pusaka.

"Indonesia Pusaka yang diinterpretasi oleh Adam akan dibawakan untuk pertama kalinya dalam konser keliling Indonesia ini," tutur Laszlo Gyorgy, manajer sekaligus kakak Adam. Kejutan yang kedua, Adam juga akan membawakan sebuah komposisi musik karya musisi kenamaan Dwiki Dharmawan. Ini bukanlah suatu kebetulan. Dwiki, yang juga hadir dalam acara konferensi pers, mengaku tertarik dengan permainan piano Adam, serta visi dan misi yang dimilikinya dalam bermusik.

"Saya mendengar tentang Adam Gyorgy saat Krakatau tampil di Budapest tahun 2003. Dari situ saya mendapat masukan bahwa visi dan misi Adam sama dengan Krakatau. Kami sama-sama ingin menjembatani musik pop, klasik maupun etnik, serta budaya Barat dan Timur sehingga tak ada lagi jurang pemisah di antaranya," jelas Dwiki.

Untuk Adam, Dwiki akan menawarkan dua buah karyanya, yaitu The Spirit of Peace dan Arafura. The Spirit of Peace merupakan komposisi musik orkestra yang pernah dibawakannya bersama Anggun di Candi Prambanan pada 2005. Sementara Arafura adalah karyanya bersama World Peace Orchestra.

Menurut rencana, Dwiki akan menggubahnya terlebih dahulu ke dalam permainan piano solo. Lagi pula, Adam hanya akan memainkan salah satu dari kedua komposisi tersebut dalam konsernya Agustus nanti. Dwiki berharap, kehadiran Adam akan membuka telinga anak muda yang selama ini hanya dicekoki oleh jenis-jenis musik tertentu. Mereka akan bisa mengetahui betapa luasnya musik di dunia.

"Apalagi, Adam adalah pianis klasik yang mumpuni, namun juga memiliki pemikiran yang terbuka. Ia ingin musik klasik bisa diterima semua penikmat musik," ujar Dwiki.

Di dunia musik klasik, nama Adam Gyorgy telah memiliki reputasi tersendiri. Di usianya yang terbilang belia, masih 25 tahun, ia telah menyabet beragam penghargaan di berbagai negara. Bahkan, ia kerap disebut-sebut sebagai reinkarnasi Franz Liszt, komposer dan pianis kenamaan asal Hungaria yang besar di abad ke-19.

Upaya Adam untuk menjembatani musik klasik dan pop tampaknya cukup berhasil. Hal itu bisa terindikasi dari penuhnya penonton yang menyaksikan setiap konser yang digelarnya di berbagai negara. Dari negara kelahirannya, Hungaria, Jerman, Italia, AS, hingga negara Asia seperti Tiongkok, Thailand dan Indonesia.

Selain permainan pianonya yang mengagumkan, banyak penggemar yang tergila-gila pada Adam karena wajahnya yang tampan bak seorang anggota boyband. Ia memulai debutnya di Carnegie Hall New York pada 2006 lalu. Selanjutnya, ia telah dijadwalkan untuk menggelar konser di berbagai negara dunia, termasuk Indonesia.

Tur Adam Gyorgy keliling AS pada 2004 lalu sempat didokumentasikan oleh stasiun televisi CNN yang menyebutnya sebagai "Si Calon Bintang". [D-10]


Last modified: 7/5/07