SUARA PEMBARUAN DAILY

Refleksi sang Biduan di Atas Kanvas

Sam Bimbo

Nama Raden Lukmansyah Kameswara Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah mungkin tak familiar di telinga publik Indonesia. Namun begitu disebut Sam Bimbo, siapa pun, terutama mereka yang tumbuh di era 1970-an, pasti kenal.

Maklum, Sam adalah pentolan kelompok Bimbo yang terkenal lewat hit seperti Melati dari Jayagiri, Tuhan, dan Tante Sun. Di samping piawai bermusik, Sam diam-diam juga pandai menggoreskan kuas pada kanvas. Bahkan, boleh dibilang, seni lukis merupakan cinta pertama pria kelahiran Bandung, 6 Mei 1942 ini.

Tak heran jika koleksi lukisan Sam pun banyak terdapat di rumahnya. Sekaligus memperingati 40 tahun Bimbo eksis di Indonesia, Sam kemudian menggelar pameran seni lukis karyanya di Bentara Budaya Jakarta, 4 Mei hingga 12 Mei dalam tema Dua dalam Satu Aksi.

Menurut Sam, kegemarannya melukis sudah dimulai sejak kecil. Tanpa fasilitas yang memadai, Sam mencoba menuangkan kreativitasnya pada wadah ala kadarnya.

"Waktu itu, saya melukis menggunakan arang di atas sabak, batu granit yang biasa dipakai untuk menulis. Untuk menghapus, biasanya menggunakan lap basah. Tapi namanya juga anak-anak, saya justru pakai air ludah," kisahnya kala ditemui di sela-sela pembukaan pameran, Jumat (4/5) lalu.

Minat Sam pada dunia seni lukis ditekuni hingga ke bangku kuliah di Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Bahkan Sam pernah menggelar pameran tunggal di Jakarta pada 1970 dan Bangkok, Thailand pada 1971. Sesudah itu, dunia musik mulai memanggilnya. Apalagi, blantika musik Indonesia tengah mengalami masa awal kejayaannya karena teknologi kaset hadir menggantikan piringan hitam. Tak heran jika nama Sam pun lebih dulu mengecap eksistensi di dunia musik daripada dunia seni lukis.

"Saat saya bilang saya melukis, banyak juga orang yang kaget karena mereka lebih kenal saya sebagai musisi. Namun setelah melihat hasil karya saya, mereka tahu bahwa saya bukanlah pelukis baru dari teknik-teknik yang saya gunakan," ujar pria yang pernah menuntut ilmu lukis pada pelukis kenamaan, Barli, ini.

Proses melukis itu kebanyakan dilakukannya di rumah. Tak ada lukisan yang dikerjakannya sambil mengurusi album atau karya musik. Menurut Sam, melukis membutuhkan konsentrasi terpisah dari bermusik. Jika dipaksa, hasilnya bisa berantakan.

"Makanya saya paling sedih kalau lagi ingin melukis, tiba-tiba harus masuk studio. Mood untuk melukis bisa hilang semua," tuturnya.

Untuk karya-karyanya, Sam membagi ke dalam dua kategori. Yang pertama dibuatnya dengan sebuah konsep dan perencanaan yang jelas. Sementara yang kedua dibuatnya secara langsung di atas kanvas, dengan teknik free hand, hingga menghasilkan karya lukis abstrak.

Namun, justru itulah yang menjadi favoritnya. Karena itu, dua karya lukisan abstrak yang dipamerkan dalam pameran ini begitu berharga bagi Sam. Ia mengaku, takkan pernah mau melego dua lukisan abstrak yang dicintainya itu.

Lewat lukisan pula, Sam mencoba merefleksikan kritiknya pada masalah sosial, politik maupun masalah kekinian. Seperti dalam lukisan bertajuk Jakarta Banjir misalnya. Ia mencoba menangkap suasana banjir Jakarta lewat figur seorang gadis remaja yang naik di atas gerobak melintasi banjir.

"Ikan-ikan di lukisan ini sengaja saya hadirkan karena mereka riang gembira selama banjir. Gadis remaja ini merefleksikan masa kini, makanya saya lukis dengan busana masa kini yang kelihatan pusarnya," jelas Sam. Selain menggelar pameran lukisan, Sam juga menggelar pameran memorabilia Bimbo untuk memperingati 40 tahun eksistensi mereka di dunia musik. Bersama Acil, Jaka, dan Iin Parlina, Sam pernah mendapatkan tempat khusus di hati penikmat musik dalam negeri. Untuk itu, berbagai memorabilia yang berkaitan dengan perjalanan karier mereka di dunia musik pun ikut dipamerkan di tempat yang sama. [D-10]


Last modified: 7/5/07