[JAKARTA] Pemerintah diminta tidak bersikap antipati terhadap usulan agar Indonesia belajar kepada Bolivia, yang berani menasionalisasi seluruh aset migas negaranya dari penguasaan asing.
"Gayanya tidak harus seperti Presiden Bolivia Evo Morales. Nasionalisasi dimungkinkan dengan metode pengalihan yang lebih bersahabat ( business friendly)," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) dan Kaukus Migas Nasional Effendi Siradjudin, Minggu (6/5).
Metode dimaksud, lanjut Effendi, diawali dengan tindakan pemerintah memberitahukan kepada perusahaan migas asing yang berproduksi bahwa kontrak mereka akan di renegosiasikan dengan bagi hasil yang lebih besar bagi negara.
Perpanjang Kontrak
Bila mencontoh Bolivia, bagian negara menjadi 82 persen dari produksi minyak yang dihasilkan. Saat ini di Indonesia bagian negara hanya 50 sampai 60 persen dari hasil produksi. Atau minimal kontak lapangan produksi asing yang akan habis masa kontraknya tidak akan diperpanjang.
Pernyataan Effendi disampaikan menanggapi pro dan kontra terhadap usulan agar Indonesia mengikuti "gaya Morales" dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Wakil Presiden M Jusuf Kalla sudah terang-terangan menyatakan tidak setuju jika Indonesia mengikuti cara tersebut. Wapres beralasan, dalam jangka panjang, nasionalisasi ala Bolivia akan menimbulkan masalah karena tidak adanya kepercayaan dari negara-negara di bidang ekonomi.
Effendi Siradjudin menggarisbawahi, metode nasionalisasi dengan cara tidak memperpanjang kontrak perusahaan asing yang akan habis, tentu bukan merupakan pelanggaran. Apalagi, pengalihan kepemilikan dan pengoperasian kepada perusahaan migas nasional diyakini akan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Pengalaman
Ditambahkan, berdasarkan pengalaman di Indonesia maupun di banyak negara, kontraktor asing yang sudah diberitahu kontrak mereka tidak diperpanjang umumnya akan segera memaksimalkan produksi atau melakukan negosiasi business to business ke perusahaan nasional untuk melepas saham.
"Dengan demikian, perusahaan dan investasi nasional dapat segera masuk melakukan reengineering untuk meningkatkan produksi sebelum masa kontrak berakhir," ujarnya.
Mengutip hasil kajian Kaukus Migas Nasional yang diserahkan kepada Wapres, menurut Effendi, pengalihan seluruh lapangan produksi asing akan memberi nilai yang sangat besar dan strategis. Di samping, memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi kemandirian dan daya saing ekonomi nasional. [M-6]