SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

"Reshuffle" dan Kepentingan

Dalam hitungan jam, Presiden Yudhoyono akan mengumumkan perombakan (reshuffle) kabinet. Presiden menepati janjinya untuk merombak Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Pada Jumat (20/4), Presiden menyatakan akan merombak kabinet. Reshuffle kedua itu direncanakan berlangsung awal Mei 2007.

Meskipun waktu pengumuman reshuffle sedikit molor karena tidak tepat dua minggu seperti yang dijanjikan, kita tetap memberi apresiasi. Semula sempat muncul keraguan Presiden tidak jadi me-reshuffle kabinet karena adanya tekanan politik, di samping masalah kepribadian Yudhoyono yang dikenal peragu. Tetapi setelah dua menteri KIB dan lima wajah baru dipanggil ke Cikeas, Bogor, Jawa Barat, keraguan itu tertepiskan.

Bila ditilik latar belakang calon menteri/pejabat negara yang dipanggil, terkesan Presiden ingin "bermain" aman, tidak merusak peta politik yang ada. Pemanggilan Hatta Rajasa yang selama ini dinilai publik gagal menjalankan tugasnya sebagai Menteri Perhubungan, jelas mengisyaratkan Presiden tidak ingin melepaskan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk tetap mendukung kebijakannya di parlemen.

Kemudian, penempatan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lukman Edy, untuk menggantikan Saifullah Yusuf (kader PKB yang kini melompat ke Partai Persatuan Pembangunan/PPP) sebagai Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, juga tak lepas dari kalkulasi politik ke depan.

Demikian juga dengan masuknya Andi Mattalatta, Ketua Fraksi Golkar di DPR. Di samping berasal dari Partai Golkar, kehadiran putra Sulawesi Selatan ini diharapkan bisa tetap menjaga hubungan baik Yudhoyono dengan Jusuf Kalla, minimal hingga akhir masa jabatan mereka pada Oktober 2009.

Mungkin ada sedikit "kerikil" yang mengadang Presiden, terkait pencopotan Saifullah Yusuf yang ditentang sebagian elite PPP, serta kemungkinan diberhentikannya Yusril Ihza Mahendra yang juga digugat Partai Bulan Bintang (PBB). Tetapi dengan keputusan mempertahankan Suryadharma Ali yang juga Ketua Umum PPP dan MS Kaban yang merupakan respresentasi PBB, konstelasi politik di parlemen tidak akan berubah jauh.

Masuknya para tokoh politik ke kabinet membuktikan bahwa reshuffle yang dilakukan kali ini tidak semata-mata berdasarkan penilaian kinerja menteri yang dicopot atau digeser, tetapi lebih cenderung pada perhitungan politik. Tak jelas benar, kinerja seperti apa yang telah ditunjukkan Hatta Rajasa sehingga pantas dipertahankan dalam kabinet dan menempati pos baru? Reshuffle ini merupakan upaya Presiden untuk menaikkan citranya di mata publik, yang berdasarkan survei sejumlah lembaga, terus menurun.

Masuknya figur, seperti Hendarman Supandji, yang dikenal gigih memberantas korupsi, bisa memberi nilai lebih pada pemerintahan Yudhoyono. Demikian juga kabar pencopotan Yusril dan Hamid Awaludin yang selama ini mendapat sorotan terkait kasus pencairan uang Tommy Soeharto. Konsistensi Presiden memberantas korupsi selama masa pemerintahannya akan bisa mendongkrak citranya di mata publik, meskipun masih banyak ditemui praktik tebang pilih.

Relasi politik yang terus dipertahankan dan dibangun, serta didukung dengan perbaikan kinerja pemerintahan secara menyeluruh, diharapkan bisa menjadi tabungan bagi Yudhoyono untuk bertarung kembali dalam Pemilu Presiden 2009.

Keputusan reshuffle sudah dibuat dan kita pun memberi sokongan. Masa kerja pemerintahan yang tinggal 2,5 tahun lagi diharapkan mampu dimaksimalkan untuk mewujudkan janji-janji kampanye di masa lalu. Tanpa perbaikan kinerja, akan sulit bagi Yudhoyono untuk mempertahankan posisinya, meskipun telah merangkul elite parpol. Rakyatlah yang menentukan Presidennya, bukan elite parpol.


Last modified: 7/5/07