
ak banyak orang yang bisa bekerja sesuai dengan hobinya. Ricky Suryo Utomo termasuk dari salah satu orang yang beruntung, karena pekerjaan yang kini digelutinya sesuai dengan hobinya sejak kecil, yaitu pembuat permainan elektronik atau dikenal dengan istilah game developer.
Pekerjaannya adalah membuat permainan elektronik seperti yang banyak terdapat pada fitur permainan (games) di komputer atau internet, telepon seluler, PDA, dan lain-lain. Di Indonesia profesi sebagai game developer masih belum terlalu familiar terdengar.
Tapi sesungguhnya mereka yang bergelut dengan profesi ini jumlahnya relatif banyak. Setidaknya itu terlihat ketika Ricky bersama rekan-rekannya menggelar suatu acara makan siang bersama dengan sejumlah game developer Indonesia di Klub Rasuna Said, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
"Jumlah game developer yang hadir lumayan banyak sekitar 80-an orang. Saya sendiri tidak menyangka ternyata setelah dikumpulin kita (Indonesia, Red) punya game developer yang banyak juga. Soalnya selama ini beberapa di antara mereka banyak yang tidak saling kenal. Kita juga belum punya data pasti ada berapa jumlah game developer di Indonesia, baik itu yang sekadar hobi atau yang menjadikan game developer sebagai profesi," ungkapnya ketika bertemu SP di sela-sela acara gathering game developer Indonesia.
Ricky mulai mengenal permainan elektronik sejak kecil. Seperti anak-anak pada umumnya, dia pun kerap menghabiskan waktu luangnya dengan bermain game. Saat itu, permainan elektronik konsul Atari sedang booming. Ricky kecil pun ikut menggandrunginya.
"Saya mulai kenal permainan elektronik sejak jaman konsul Atari di mana layarnya masih grayscale. Waktu itu main Atarinya di rumah tetangga. Kemudian orangtua saya membelikan konsul pertama Nintendo 8 bit. Lama-lama kegiatan bermain game itu berlanjut sampai sekarang saat perkembangan electronic games sudah semakin canggih," kenangnya.
Kesenangan memainkan permainan elektronik itu, tutur Ricky, terus berlanjut hingga dewasa. Tapi dulu waktu kecil, dia bermain hanya untuk kesenangan dan mengisi waktu luang semata. Kini sejak bekerja di perusahaan pembuat game, MAX Studio, Ricky bermain game sebagai bagian dari tuntutan kerja baginya.
"Kalau sekarang main game sambil memikirkan bagaimana cara bikinnya. Terus kadang permainan yang dimainkan hanya untuk dianalisa bukan untuk diselesaikan. Jadi kesempatan main masih ada karena saya bermain di salah satu bagian dari kerjaan saya," ungkapnya seraya tertawa.
Kesukaannya bermain game kemudian "memancing" Ricky untuk tahu tentang bagaimana sebuah permainan elektronik dibuat. Selanjutnya dia pun merasa tertantang untuk bisa membuat sebuah permainan elektronik seperti yang sering dia mainkan ketika masih kecil dulu.
"Saya mulai tertarik membuat game saat pertama mulai mengenal komputer aplikasi. Saat itu komputer aplikasi yang saya gemari ada permainannya. Sejak saat itu saya jadi penasaran ingin tahu bagaimana cara bikin permainan elektronik. Apalagi kian lama permainan elektronik semakin bagus, maka saya makin tertarik untuk mencoba membuat," ungkapnya.
Tahun 2004 merupakan tahun pertama bagi pria kelahiran Surabaya pada 29 Februari 1980 ini membuat permainan elektronik untuk kebutuhan komersil perusahaannya. Permainan yang diberi judul Burning Armor ini dia buat bersama mitra kerjanya bernama Hartono Widodo sebagai penanggung jawab design art asset pada permainan tersebut. Sementara dia bertugas sebagai pembuat program permainan itu.
"Sebelumnya waktu masih jadi mahasiswa di Teknik Informatika saya pernah bikin beberapa permainan sederhana untuk tugas pratikum kuliah," kata sarjana Sekolah Tinggi Teknik Surabaya itu.
Burning Armor, katanya merupakan game action tentang pertempuran pesawat dengan model top scrolling. Permainan ini dia buat untuk running pada platform windows mobile 2003 dengan menggunakan bahasa program EVC++.
Permainan-permainan yang telah dia buat bersama teman-temannya di MAX Studio kemudian didistribusikan ke publisher online dan content provider local rekanan dari MAX Studio.
"Untuk yang online kami bekerja sama dengan beberapa publisher seperti handango, clickgamer, dan pocket gear. Sedangkan untuk lokal kami punya beberapa partner content provider seperti Boleh, Arita Mobile, dan Hypermind," jelas anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Golzen Utomo dan Ferunita Gelinda ini.
Di antara beberapa permainan elektronik yang pernah dibuatnya, permainan berjudul Burning Armor Code E yang dibuat bersama sejumlah temannya berhasil keluar sebagai pemenang grand prize winner dalam EDGE Game Coding Competition.
Kompetisi berskala internasional, katanya, ini digelar oleh sebuah vendor game engine di Belanda. Awalnya Ricky dan beberapa orang temannya hanya tertarik untuk melihat. Kemudian mereka pun memutuskan untuk ikut dalam lomba tersebut, dengan tujuan untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa Indonesia juga memiliki para pembuat permainan elektronik profesional.
"Ternyata hasilnya diluar dugaan, kami bisa berhasil menang di ajang kompetisi itu," imbuhnya.
Ricky juga pernah diganjar penghargaan Microsoft Most Valuable Professional (MVP) Award untuk kategori Device Application Development.
"Penghargaan Microsoft MVP itu saya peroleh karena rekomendasi teman-teman atas usaha yang saya lakukan untuk menghidupkan komunitas melalui game development. Khususnya untuk device application," ujar pria dengan postur tubuh tinggi 173 cm dan berat 80 kg ini.
Menurut Ricky, kualitas permainan elektronik hasil anak negeri hingga saat ini masih banyak yang belum dapat disejajarkan dengan kualitas permainan elektronik buatan luar negeri. Tapi dia yakin suatu saat kualitas permainan karya anak bangsa akan semakin bagus dan menyamai karya pembuat permainan elektronik di luar negeri.
"Suatu saat karya kita juga pasti bisa menyamai mereka, karena permainan elektronik adalah produk lintas negara dan lintas budaya sehingga sudah seharusnya mempunyai standar kualitas internasional untuk bisa bersaing di pasar lokal dan global," tuturnya.
Namun Ricky mengakui permasalahannya terletak pada bagaimana para pembuat game ini mendapatkan dukungan dan kesempatan, baik dari pemerintah maupun swasta untuk menghasilkan produk dengan kualitas internasional.
[SP/Yumeldasari Chaniago]