SUARA PEMBARUAN DAILY

Korban VirginiaTech

Partahi Sampaikan Selamat Paskah

>AFP/Getty Images/Scott Olson

Mahasiswi Universitas Virginia Tech, Amerika Serikat, bersama

warga kampus lainnya dalam doa bersama di Kampus Virginia Tech, Blacksburg, Virginia, AS, Selasa (17/4) setelah terjadinya penembakan di kampus itu sehari sebelumnya. Berita terkait halaman 14.

"Selamat Paskah Pa. Salam sejahtera bagi kita semua. Sampaikan salamku buat Mama, adik dan kakak. Mohon doakan saya." Begitulah rangkaian ucapan Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan (35), salah seorang korban penembakan di Virginia, saat berbicara dengan orangtuanya, Letkol (Purn) F Lumbantoruan, pada perayaan Paskah 8 April 2007.

Pria yang sedang mengambil program studi S3 di Virginia Tech, Virginia, Amerika Serikat (AS) sejak awal Januari 2005 itu kemudian mematikan telepon genggamnya seusai memberikan salam Paskah. "Tidak ada pembicaraan lain," ujar F Lumbantoruan kepada SP di rumah duka, Kompleks Perwira Menengah, Jalan Karsa, Kecamatan Medan Barat, Rabu (18/4) siang.

"Setelah itu tak ada komunikasi lagi antara saya dengannya," katanya.

Lumbantoruan sangat terkejut ketika menerima laporan kerusuhan di asrama dan kampus tempat anaknya menimba ilmu. Laporan itu diketahuinya setelah menonton siaran berita dari televisi. "Awalnya, dilaporkan tak ada korban mahasiswa dari Indonesia. Saya pun sedikit lega," ungkapnya.

Namun, sekitar pukul 22.00 WIB, Selasa, ceritanya lain lagi. Perwakilan dari Kedubes RI di Amerika Serikat, menghubungi Lumbantoruan. Perwakilan itu menanyakan kebenaran informasi, apakah Partahi anak Lumbantoruan.

"Setelah saya katakan ya, mereka menyampaikan laporan Partahi tewas dalam kerusuhan tersebut. Mereka menyampaikan dukacita," ungkapnya. Tubuhnya langsung lemas. Kemudian dia pun menyampaikan musibah itu kepada istrinya, Letkol CPM MF Sugiarti. "Apa yang mau dikata, Tuhan ternyata berkehendak lain. Ini memang cobaan buat kami semua, Partahi harus pergi di Amerika sana. Dia pergi dengan kondisi menyedihkan, merasakan sakit akibat kerusuhan tersebut," katanya.

Ketika disinggung tentang upaya yang akan mereka lakukan pascatewasnya Partahi, Lumbantoruan mengaku, menyerahkan persoalan itu kepada pemerintah Indonesia. Pemerintah dianggapnya sudah mengerti atas langkah yang akan diambil.

Dia hanya meminta agar pemerintah segera mengupayakan agar jenazah anaknya segera dibawa ke Indonesia. "Sampai saat ini belum ada kabar bahwa jenazah Partahi sudah dibawa dari Amerika sana. Kami hanya ingin jenazahnya segera sampai di rumah," katanya.

Sementara itu, Letkol CPM Sugiarti, yang sehari-hari berdinas di Polisi Militer Kodam IV Diponegoro Semarang, saat ditemui di rumahnya, Jalan Sinar Waluyo Utara Nomor 761, Perum Sinar Waluyo, Semarang, Rabu pagi mengatakan, kontak terakhir dia dengan anaknya berlangsung 12 April lalu, saat anaknya mengirimkan pesan singkat (short message service-SMS) melalui telepon genggamnya, yang menyampaikan terima kasih karena telah menerima kiriman uang. "Terima kasih, Mam, transfernya sudah sampai."

Sebelumnya, Partahi sempat menelepon ibunya menanyakan apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jadi me-reshuffle kabinet. Menurut Sugiarti, kendati jauh di negeri Paman Sam, Partahi masih menyempatkan diri mengikuti perkembangan politik di Tanah Air. [SP/Arnold H Sianturi dan Stefi Thenu]


Last modified: 18/4/07