SUARA PEMBARUAN DAILY

"Tetelestai, Sudah Terlaksana"

"Wah, asyik, besok kita bakal long weekend nih. Ada banyak waktu buat ngerjain tugas-tugas yang nggak ada habisnya." kata salah seorang mahasiswa saya. Mahasiswa lainnya dengan enteng menanggapi, "Wah, kalau gue sih lebih enak tidur waktu liburan, balas dendam! Ngapain juga mikirin tugas? Santai aja man!"

Berbagai ragam tanggapan kita dapati menjelang liburan long week end Jumat Agung dan Paskah ini. Ada yang menganggap liburan adalah waktu bersantai dan istirahat, ada pula yang menganggap waktu liburan ini adalah saatnya menyelesaikan tugas-tugas yang tertunda. Ada yang cuek saja membiarkan segala sesuatu berlangsung, ada yang serius dan sibuk mengatur waktu dan kegiatannya.

Tiga tipe orang

Menurut guru agama saya di SMA dulu, Pdt RAS Pandiangan, setidaknya ada tiga tipe orang di dunia ini: Pertama, orang bodoh, tipe orang yang membuang kesempatan, membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, ngeflow aja bahasa kerennya, atau que sera-sera, what ever will be will be yang dijadikan semangatnya! Kedua, orang biasa yang menunggu kesempatan, diam-diam saja, mengikuti orang lain, dan baru maju kalau sudah ada orang lain yang merintis lebih dahulu, semboyannya mungkin hidup hanya untuk hari ini. Ketiga, orang bijaksana, tipe orang yang menciptakan kesempatan, selalu proaktif, berusaha meraih impian dan cita-cita, setia kepada tujuan, semboyannya carpe diem, seize the day, petiklah hari!

Menarik sekali kalau kita mengamati perilaku Yesus, dan mencoba menganalisa tokoh yang seharusnya menjadi fokus pandangan kita selama Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah ini.

Peristiwa di Yerusalem

Sekitar 2000 tahun yang lalu, Jumat yang panas dan terik di Yerusalem. Sekelompok orang berkumpul di bukit Golgota, di sebelah utara kota, tak jauh dari jalan raya dan gerbang Damaskus. Massa itu memperhatikan sesosok tubuh yang lemah lunglai, terikat, tergantung dan tak berdaya di atas kayu salib. Tubuh itu tergantung di sana sejak pukul tiga pagi, diam tak bergeming.

Sampai kira-kira pukul 12 siang, keadaan yang "normal" mendadak berubah. Angin mulai berhembus lebih kencang, matahari lenyap dan kegelapan menyelimuti sekeliling. Suasana mulai mencekam, murid-murid memandang sekeliling, kerumunan mulai menjauh dan menghilang, sementara prajurit penjaga mulai dilanda keheranan. Keadaan itu berlangsung terus sampai kira-kira tiga jam lamanya.

Kira-kira jam tiga sore, Tiba-tiba dari mulut tubuh papa yang tersalib itu muncul teriakan nyaring, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya, AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?" suatu seruan yang keluar dari hukuman keadilan yang diterima karena kejahatan. Menurut Pdt Dr Stephen Tong, dalam bukunya Tujuh Perkataan Salib, ucapan ini tidak mungkin dimengerti oleh manusia. Inilah titik terakhir dari perjalanan panjang Kristus mencari orang berdosa.

Kemudian Yesus berkata lirih, "Aku haus!" Mereka memandang Yesus dengan penuh belas kasihan, dan akhirnya memberikan anggur asam yang disekakan ke mulut Yesus. Yesus meminum anggur itu, kemudian berkatalah Ia: " Sudah selesai." Lalu ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.

Tetelestai

Kata "sudah selesai" dalam bahasa Yunani adalah Tetelestai, berasal dari akar kata teleo, yang berarti "menyelesaikan, melengkapi, melaksanakan." Kata itu hanya diucapkan pada saat kita menyelesaikan sesuatu yang kita lakukan dengan baik, semestinya dan sepantasnya. Misalnya, pada saat kita akhirnya menyelesaikan skripsi, desertasi atau tugas akhir dengan baik dan menyerahkan hard cover hasil karya kita, pada saat kita selesai melunasi semua kredit kepemilikan rumah atau mobil, atau pada saat kita menyelesaikan laporan keuangan tahunan perusahaan kita dengan jujur dan benar ke dinas pajak.

Lebih dari itu, kata tetelestai menggunakan bentuk kata yang sesuai dengan 'perfect tense' dalam bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa kata ini bermakna, "Ini sudah terjadi dan masih berdampak hingga saat ini." Ketika Yesus berkata, "Sudah selesai!" Yesus menyatakan bahwa itu sudah selesai dimasa lalu, sudah selesai saat ini, dan akan tetap selesai di masa yang akan datang. Mengatakan demikian, berarti Yesus menegaskan, bahwa apa yang dilakukanNya berarti, "Saya menyelesaikan tugas yang harus saya selesaikan!"

Hal lain yang menunjukkan komitmen Yesus pada tugas panggilannya adalah pada adegan pemberian anggur asam. Dalam terjemahan lain, dikatakan bahwa Yesus mencicipinya sedikit, tetapi tidak meminumnya, karena meminum anggur asam itu sama artinya dengan meminum obat bius. Tidak, Yesus tidak meminumnya, dan memilih tetap tersadar dan merasakan semua kesakitan, pedih dan perih yang dialami setelah tergantung enam jam lamanya di atas kayu salib.

Yesus memilih untuk mengalami kesakitan yang amat sangat, baik secara psikologis-sewaktu ditolak manusia, ditinggalkan murid-muridNya, bahkan ditinggalkan oleh Allah, maupun siksaan fisik yang dideritanya- sewaktu didera, disesah, dipaku, disalib dan dianiaya di depan banyak orang.

Apa yang Yesus tunjukkan dalam peristiwa ini, memberikan kita suatu contoh nyata komitmen yang tinggi terhadap tugas panggilanNya. Sejak mulanya, Yesus sudah mengerti bahwa panggilanNya adalah untuk mati dan menyelamatkan yang hilang. Hal itu terus dipegangnya dengan konsisten, dijalaniNya dengan suka cita dan ditunjukkan dalam tindakan nyata yang konsisten, sejalan dengan apa yang dia yakini.

Komitmen Pribadi

Di dalam pandangan psikologi, Yesus menunjukkan personal commitment yang luar biasa. Menurut Wikipedia, komitmen pribadi adalah suatu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan seseorang. Komitmen menimbulkan aksi. Berkomitmen berarti menempatkan diri dan mengarahkan diri sepenuhnya kepada suatu tujuan yang jelas. Komitmen juga berarti menerapkan nilai-nilai keyakinan yang dimiliki secara konsisten. Maka dari itu, dua kondisi awal harus ada sebelum seseorang memiliki komitmen pribadi. Pertama, memiliki nilai-nilai keyakinan yang dimiliki secara mantap dan penuh. Peribahasa lama mengatakan, "Berdiri di atas suatu dasar atau kamu akan jatuh karena segala sesuatu." Yang kedua adalah ketahanan dan kesetiaan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Deskripsi yang terbaik dari komitmen adalah, "Persistensi kepada suatu tujuan".

Di dalam masa liburan Jumat Agung dan Paskah ini, mungkin ada baiknya kita menengok ulang kehidupan kita. Kita hidup di negara yang kehilangan komitmen. Banyak unfinished business yang terjadi di Indonesia tercinta, kasus-kasus yang tak terpecahkan, misteri-misteri yang tertutup awan gelap, dan masalah-masalah yang diselimuti tabir hitam.

Sebut saja, misalnya tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, kasus Munir, puluhan bahkan ratusan kasus korupsi, penanganan bencana di berbagai daerah, kasus Bom Bali, Bom Kuningan, kasus Poso, kasus Ambon dan sederet lainnya, Masalah satu datang dan belum selesai, dan muncul lagi masalah lainnya. Banyak tugas dan kasus yang tertunda. Tidak ada komitmen pribadi yang terlihat nyata.

Siapa yang harus disalahkan? Agaknya sekarang mata tidak perlu diarahkan, tangan tidak perlu teracung, dan mulai menunjuk seseorang lagi. Pada saat kita menuding orang lain, tanpa sadar satu telunjuk mengarah kepada orang lain, tetapi empat jari lain menunjuk kepada diri sendiri. Mari melihat kepada diri kita, ada berapa banyak unfinished business yang kita masih miliki sekarang.

Berapa banyak buku bacaan yang belum kita selesaikan? Berapa banyak tugas yang kita tunda? Berapa banyak permintaan maaf yang belum kita ungkapkan? Berapa banyak utang yang masih kita miliki? Berapa banyak aksi kita yang tidak sesuai dengan tujuan kita? Atau jangan-jangan, kita masih kebingungan akan tujuan akhir kita sendiri?

Mungkin ada baiknya sekarang saya katakan pada mahasiswa saya, "Stop bersantai! Mulai pikirkan dan renungkan, apa yang masih belum selesai!' Mudah-mudahan mahasiswa saya mengerti dan akhirnya bisa berkata, "Tetelestai, sudah terlaksana Pak!" saya pasti akan tersenyum puas mendengarnya, begitu juga Yesus. Bagaimana dengan Anda?

William Gunawan Staf Pengajar Fakultas Psikologi UKRIDA, Mahasiswa program M.Div STT Cipanas


Last modified: 11/4/07