SUARA PEMBARUAN DAILY

Kematian yang Membebaskan

Yesus di kayu salib [www.edwardwinkleman.blogspot.com]

".....A man.... should take courage when about to die, and be of good hope, after leaving this life he will attain to the greatest good yonder.."

"Orang harus tabah ketika menghadapi kematian, dan patut mempunyai harapan baik, bahwa setelah meninggalkan hidup di dunia ini, ia akan memperoleh kebaikan terbesar di dunia lain" (Socrates)

Kutipan di atas merupakan perkataan Socrates (470-399 SM). Ia dihadapkan pada sidang pengadilan Heliasts (Court of the Heliasts) yang terdiri dari 501 warga Athena. Socrates dihadapkan pada 2 tuduhan, yaitu menolak menyembah dewa-dewa resmi Yunani (Impiety) dan merusak pikiran anak muda. Ia melakukan pembelaan, walaupun menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak mempunyai kesempatan untuk bebas.

Pembelaan yang dilakukan merupakan bukti atas pemikirannya; bukan untuk menghindarkan diri dari hukuman. Sebaliknya ia memilih hukuman mati sebagai pernyataan bahwa ia konsisten atas apa yang dianggapnya benar.

Dengan berani, Socrates menghadapi kematiannya. Di satu pihak, ia merasa bebas karena mempertahankan apa yang diyakini; di lain pihak, Socrates memberikan inspirasi bagi para muridnya.

Saat menjelang Paskah, umat Kristiani diingatkan kembali akan kisah sengsara Yesus Kristus. Bagaimana ia menderita; didera dan dihina, sampai akhirnya harus wafat di kayu salib yang dianggap hina. Tidak dapat dimungkiri bahwa Yesus yang merupakan anak Allah dan sudah mengetahui tugas yang harus diembannya, tetap merasakan ketakutan menjelang ajal.

Ia sempat berdoa dan memohon pada Bapa agar kalau bisa melepaskan diriNya dari cobaan tersebut: "Ya BapaKu, jikalau Engkau mau ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi (Lukas 22:42)." Dengan tabah Ia memanggul salib dan menyerahkan diriNya untuk disalibkan. Ia memilih untuk mati; menunaikan tugas pengutusanNya.

Dalam hal ini, kematian Yesus memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan kematian Socrates. Selain "membebaskan" diri dari tugas pengutusan, Ia juga membebaskan umat manusia dari dosa; memerdekakan orang yang percaya kepadaNya.

Semua agama mengajarkan mengenai konsep kematian; bagaimana kita harus hidup sesuai ajaran agama agar mendapatkan tempat yang baik setelah kematian. Tetapi tetap saja kematian merupakan hal yang segan untuk diperpincangkan. Kematian, lebih dianggap sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Tetapi apakah benar selalu demikian? Mengapa Socrates lebih memilih hukuman mati? Mengapa Yesus bersedia menyerahkan nyawaNya demi membebaskan umat manusia?

Berbagai pendapat mengenai kematian banyak dilontarkan. Entah dari kalangan akademisi, klinisi, bahkan dari sudut pandang agama. Intinya adalah bahwa semua makhluk hidup akan mati.

Dengan kematian seseorang dapat bebas dari sesuatu. Entah rasa sakit, tugas, atau hal-hal tidak menyenangkan lain. Di lain pihak, kematian juga dapat membebaskan orang lain. Entah dari kesedihan, pengeluaran finansial, kecemasan, dan lain sebagainya.Tanpa kita sadari kematian dapat menimbulkan rasa lega. Socrates memilih mati karena dengan kematian ia dapat merasakan kebebasan. Selain membebaskan diri, ia juga "membebaskan" para pengikutnya untuk berpikir kritis dan bebas mengembangkan pengetahuannya. Sama seperti Socrates, kematian Yesus merupakan pembebasan. Tugas pengutusanNya terpenuhi.

Kedua orang tersebut memandang konsep kematian sebagai sesuatu yang membuat hidup bisa berarti. Dengan adanya kematian, kita disadarkan bahwa hidup akan berakhir pada suatu saat. Mereka mempergunakan hidup mereka untuk memberi terang dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Akhir hidup mereka tidak hanya dihiasi oleh kesedihan. Kematian Socrates, merupakan bebasnya jiwa dari penjara dunia yang hipokrit, sedangkan kematian Yesus adalah kematian yang membebaskan.

Menjelang hari raya Paskah ini, hendaklah umat Kristiani kembali merefleksikan makna kematian Yesus Kristus. Apa yang dilakukan olehNya dalam mengisi hidup baik hidupNya maupun orang lain, dan bagaimana Ia mampu mengubah konsep kematian menjadi sesuatu yang mulia dan membebaskan.

Bayangkan bila tidak pernah ada kematian. Tidak pernah ada akhir dari kehidupan... Dunia akan kacau. Tidak pernah ada regenerasi, tidak ada kenangan untuk diceritakan dan diingat, dan selalu saja ada kesempatan berikutnya... berikutnya..., dan berikutnya. kesadaran akan adanya akhir dari sesuatu membuat kita berusaha untuk membuat sesuatu tersebut menjadi lebih berarti.

Kita akan mencoba mengisi proses menuju akhir tersebut dengan sebaik-baiknya. Kematian tidak memberikan arti bagi kehidupan. Namun dengan kematian kita dapat memaknai hidup kita. Berusaha mengisinya dengan baik sehingga pada akhirnya; saat kematian datang... kematian akan membebaskan.

Clara Moningka, SPsi, MSiStaf pengajar Fakultas Psikologi-UKRIDA Jakarta


Last modified: 11/4/07