[JAKARTA] Sekitar 900 atlet DKI yang tergabung dalam Pelatda PON XVII Kaltim 2008 mendatang resah karena empat bulan belum menerima uang saku. Kondisi ini sangat mempengaruhi target utama DKI untuk mempertahankan gelar juara umum.
Hal itu ditegaskan Ketua Pengda Porlasi (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia), Merari, ketika dihubungi Pembaruan di Jakarta, Rabu (11/4).
Dia mengatakan sulit mempertahankan Jakarta sebagai barometer prestasi olahraga nasional. Apalagi berharap DKI bisa mempertahankan gelar juara umum. Kalau Gubernur DKI Sutiyoso dan Ketua KONI DKI Fauzi Bowo tidak mempunyai empati terhadap kesulitan yang dialami oleh para atlet, katanya, jangan berharap banyak atlet DKI bisa berprestasi baik di PON XVII mendatang.
"Saya kasihan sama atlet. Sebagian dari mereka ada yang terpaksa kredit motor untuk menghemat ongkos ke tempat latihan. Harapan mereka adalah cicilan motornya ini bisa dibayar rutin setiap bulan melalui honor dari KONI. Ternyata honor yang ditunggu-tunggu sudah empat bulan belum kunjung datang. Dengan apa mereka bisa melunasi motor sebagai kendaraan transportasi mereka ke tempat latihan?," tanya Merari.
Ada atlet yang sudah mengutang agar bisa bertahan di Pelatda. Merari sebenarnya mengetahui masalah tersebut. "Karena anggaran KONI untuk Pelatda itu memang sudah habis. KONI berharap bisa membayar honor atlet dari anggaran 2007 ini. Tetapi anggaran tahun ini pun mengalami pemotongan sebesar Rp 45 miliar dari yang diajukan sebesar Rp 90 miliar. Dengan dana hanya Rp 45 miliar, praktis Pelatda DKI untuk PON XVII hanya sampai dengan Juli 2007," katanya.
Dia berharap Ketua Umum KONI DKI bisa menalangi dulu agar para atlet bisa berlatih dengan tenang. "Kalau tidak ada upaya dari pak Fauzi Bowo, bukan tidak mungkin citra Pak Fauzi sebagai calon gubernur DKI sangat buruk di mata atlet dan seluruh komunitas olahraga di DKI," tutur Merari. Bukan tidak mungkin, kata dia, komunitas olahraga akan memilih calon yang lain sebagai idolanya untuk jadi gubernur DKI. [W-6]